Hari Kelima di Kota Nabi

Oleh: Yak Dand

Subuh, bulan Dzulkaidah masih menaungi, belum memasuki bulan Dzulhijjah. Hamba dan cinta bergegas ke Nabawi. Hari masih gelap, namun Kota Nabi sudah semarak hidup. Kalau ada yang bilang Jakarta adalah kota yang tak pernah tidur, maka Madinah adalah kota yang selalu terjaga dalam ibadah di setiap sudutnya. Nama Allah SWT tidak sedetik pun berhenti disebut.

Subuh kali ini singkat, namun seperti Subuh sebelumnya, imam berdiam lama berdiri setelah iktidal sebelum sujud. Dugaan hamba, imam memberi waktu untuk doa qunut bagi yang mau membacanya, dan hamba tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berqunut. Sungguh indah; di sisi dunia sana orang-orang berdebat tentang qunut, sementara di Kota Nabi semua amalan dihargai dan dihormati. Setelah Subuh, mentari bersinar, hamba dan cinta kembali ke penginapan.

Sebelum Dzuhur, hamba dan cinta kembali bergegas ke Nabawi. Seperti biasa, hamba menuju pintu Bab Bilal (38) masuk ke Masjid Nabi. Petugas masjid sibuk menyusun karpet dari saf pertama di pelataran Masjid Nabi. Masih sempat mengucapkan salam kepada Nabi SAW dari kejauhan saat melihat kubah hijau. Mata tertuju ke pintu yang menghadap Baqi, dan di sebelah Bab Baqi terdapat pintu 40, yaitu Bab Jibril, dengan tirai penutup yang dijaga askar.

Hamba tertarik karena ada sedikit jamaah yang mengantre di depan tirai yang tersingkap sedikit. Dengan rasa penasaran, hamba ikut antrean. Setelah sampai giliran, hamba meminta izin masuk kepada askar, memperkenalkan diri dari Indonesia, dan mengucapkan, “Boleh?”