Mimpi Besar, Realita Menyambung Dua Pulau yang Serumpun

Oleh: D’ Utama (Pemerhati Lingkungan dan Kemasyarakatan Bangka Belitung)

Panas terik kemarau tahun ini, setelah istirahat siang, aku kembali ke kantor dan duduk di balik meja kerja dengan dingin sejuk pendingin ruangan. Sambil menyapa sejenak staf yang terkantuk-kantuk, aku membuka PC tua di atas meja. Komputer mulai menyala dan aku langsung berselancar mencari materi aturan serta regulasi untuk menyelesaikan tugas kantor yang menanti. Satu per satu baris aturan dibaca dan dibuka ke tab baru. Klik kiri, klik kanan, bolak-balik tidak keruan, dan akhirnya terbuka peta Bangka Belitung—hanya sebuah gambar siluet yang kurang jelas saat diperbesar.

Detik selanjutnya, bayangan gambar di PC makin kabur. Tiba-tiba, terasa ada yang menepuk pundak. Aku tertegun, sigap berdiri, dan ternyata telah berada di bawah pohon Jelutung di halaman kantor. Belum sempat hilang keterkejutan dan rasa penasaranku, seseorang menyapaku: seorang tua yang gagah mengenakan baju koko putih, sarung hitam, berkopiah, serta sorban kapieh bercorak merah putih yang menggantung di lehernya. Abokku, Abok Kahok, muncul dengan senyuman dan berkata, “Ayo ikut keliling.”

Belum sempat aku menjawab, tanganku ditarik dan aku langsung diminta memboncengnya dengan motor A100 putih kesayangannya. Motor itu biasa ia gunakan ketika aku kanak-kanak, di mana aku sering duduk di depan di atas tangki bensinnya saat Abok yang membonceng. Perjalanan pun dimulai. Dalam kebingungan, aku hanya mengikutinya. Keajaiban terasa setelah memutar gas; kami masuk ke terowongan berkilau dan tiba-tiba muncul di Tanjung Kalian, ujung barat Pulau Bangka.

Dari atas jok motor, Abok bergumam, “Sudah banyak berubah, hanya mercusuarnya yang masih gagah seperti dulu.”
“Sekarang, kalau normal, penyeberangan setiap dua jam sekali dari pukul tujuh pagi sampai sebelas malam,” sahutku.
Abok tersenyum bangga, namun lanjut bertanya, “Bagaimana menyeberang ke Belitung? Dulu ada Pelba untuk kapal ke Belitung, lama perjalanannya dari Pangkal Balam.”

Aku menjawab bahwa sekarang Belitung telah menemukan takdirnya. Ada pesawat ke sana, selain kapal feri (Ro-Ro) dari Pangkal Balam dan Sadai, serta kapal cepat (jet foil). Dulu, Abok hanya tahu kapal Ro-Ro dan jet foil dari Pangkal Balam saja. Kini, Belitung sudah mendunia dengan beragam daerah wisata. Ada tatapan rindu dari Abok jauh ke tenggara menembus sekat yang ada. Benar, seingatku, seiring waktu dan usia, sudah puluhan tahun Abok tidak menginjakkan kaki di Belitung. Ya, jika pesawat telah ada pada masa Abok, ia tentu bisa ke sana menemui sanak saudara yang merantau.

Abok masih menikmati kapal-kapal di pelabuhan dan ramainya pengunjung dari atas motor, lalu berkata, “Cukup, anginnya kencang, ayo kita jalan lagi.”

Aku memutar gas, dan untuk kedua kalinya kami ditelan terowongan ke arah yang tidak terpantau. Kali ini, kami muncul di kaki patung tentara pelaut AL Pelabuhan Belinyu di ujung utara Pulau Bangka. Abok bertanya, “Masih adakah kapal besar yang berlabuh?”
“Masih,” jawabku. “Dan aku sering bepergian dari Belinyu dengan anak-anak untuk menuju ibu kota atau negeri jiran.”
“Wah, kasihan anakmu,” kata Abok.
Jawabku, “Mereka protes awalnya, namun selanjutnya gembira bisa mengarungi laut yang telah menjadi darah dagingnya.”

Abok menyahut, “Ya, sebelum ada bandara, pelabuhan-pelabuhan di seluruh pulau adalah gerbang masuk Bangka dan Belitung, dengan Mentok gerbang utamanya di Bangka dan Tanjung Pandan di Belitung. Jadi, siapapun leluhurnya, tetap harus mengarungi lautan untuk menjadi warga Bangka dan Belitung sebelum ada bandara dan pesawat mengangkasa.”

Abok berkata lagi, “Masih sunyi Belinyu sepertinya, Belinyu belum terjaga dari kantuknya. Abok kira Belinyu sudah menjadi pelabuhan besar dan ramai karena lautnya dalam dan terlindungi dari laut lepas.”

Mata tuanya menatap lekat laut biru gelap di depannya; ada gurat kecewa namun tidak diungkapkan. “Ayo kita lanjut keliling lagi,” kata Abok.

Aku putar gas lagi, dan motor A100 kesayangan Abok melaju menembus terowongan, membawa kami muncul di depan Masjid Agung Sungailiat. Abok menatap lekat dan berkata, “Dulu Abok berkantor di sini selain berkantor di TTB (Tambang Timah Bangka), di kantor dewan, DPR-GR Kabupaten Bangka dari Golkar.” Kata Abok, dulu belum ada Kota atau Kotamadya Pangkalpinang, Sungailiat adalah pusat pemerintahannya. Tidak banyak komentar dari Abok, hanya dalam gumam lirih ia berkata, “Seharusnya Sungailiat bisa jadi Kota Sungailiat dan Belinyu jadi ibu kota Kabupaten Bangka. Ya, maksud Abok mungkin sudah bisa dimekarkan Sungailiat jadi kota seperti Pangkalpinang.”

Abok menatap lama ke hutan kota dan lanjut meminta berjalan lagi tanpa ekspresi. Aku putar gas, dan kami melaju masuk terowongan, tiba-tiba muncul di Lapangan Merdeka Pangkalpinang, di depan Masjid Kubah Timah. Pangkalpinang adalah rumah kedua setelah kampung kelahirannya. Abok menjadi siswa setingkat SMP di sekolah Belanda sehingga dapat masuk ke perusahaan timah pada masanya—sekolah yang kemudian menjadi tempat bersekolah anak hingga cicitnya.

Abok tertegun melihat Lapangan Merdeka. Satu pertanyaan muncul, “Bagaimana orang bermain bola di Lapangan Merdeka?”
Aku cepat menjawab, “Ada stadion, dulu masih jelek, sekarang sudah bagus, Bok. Lapangan Merdeka diubah jadi Alun-Alun Taman Merdeka. Dulu pusat olahraga rakyat adalah Lapangan Merdeka, saat ini gelanggang olahraga telah dibangun di mana-mana. Sekarang ada masjid di samping gereja.”