Mimpi Besar, Realita Menyambung Dua Pulau yang Serumpun
Abok mau ke masjidnya. Aku menunggu di teras masjid. Abok keluar, lalu bercerita tentang kisah yang sama: dulu saat Abok perkasa, katanya, ia dan teman-temannya mengusulkan pembentukan Kotamadya Pangkalpinang saat ia menjadi anggota DPR-Gotong Royong Kabupaten Bangka. Dulu ibu kota Kabupaten Bangka adalah Sungailiat. Abok dan teman-temannya juga pernah mengusulkan agar Bangka dan Belitung menjadi provinsi sendiri namun masih gagal. Kendati demikian, ada senyum syukur di bibirnya karena masih sempat merasakan terbentuknya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2000—26 tahun yang lalu.
“Masih banjirkah Pangkalpinang?” jeletuk Abok. Ia masih merasakan banjir tahun 1986.
“Ya, masih ada banjir besar tahun 2016, Bok,” jawabku. “Banjir besar sampai menggenangi Lapangan Merdeka, dan saat ini banjir rob yang menjadi ancaman karena air laut naik.”
Ada gurat sedih di wajahnya, ternyata banjir belum reda. Abok dan teman-temannya dulu yang menamakan daerah Pintu Air sampai Pelipur dengan nama Rawa Bangun, yang saat ini menjadi nama kecamatan.
“Abok mau jalan keliling kota?” tanyaku. Abok menggeleng, lalu mengajak lanjut pergi berkeliling lagi. Aku bersiap mengambil arah ke selatan, dan setelah aman, memutar gas dan langsung masuk terowongan mencari tujuan berikutnya.
Ketika keluar dari cahaya, kami meluncur di pantai wisata gerbang Kota Koba. Abok berkata, “Tidak banyak berubah, hanya jalannya yang makin makin lebar. Koba seperti putri tertidur menanti pangeran membangunkannya, ibu kota yang ditinggalkan anak-anaknya, tidak ada pusat belanja dan hotel mewah.” Harusnya Koba bisa merayu pelintas untuk berhenti sejenak, walau hanya bermalam mengarungi mimpi indah di Koba atau sekadar melepas penat sebelum sampai di kota berikutnya.
Abok mau istirahat namun bingung di mana tempatnya. Dengan berat hati, Abok minta lanjut jalan lagi. Aku putar gas, dan kami melaju cepat di dalam terowongan, lalu muncul di ujung selatan Bangka—sebuah kota dengan ciri khas unik. Abok jarang bercerita tentang kota ini, Toboali, selain pernah berkata bahwa orang selatan rajin seolah tinggi ke Jawa, halnya seperti orang Mentok dan Bangka Barat. Mereka adalah pelopor sarjana bagi orang Bangka. Ada beberapa nama yang Abok sebut, sebagian aku kenal dan yang lain baru kudengar. Aku potong ceritanya, “Capek, Bok, kita istirahat, ada hotel melati yang bisa disewa.” Abok setuju dan kami beristirahat. Toboali, khususnya Bangka Selatan, banyak mencetak sarjana karena memang punya banyak dana sekolah dari hasil kekayaan alamnya.
Abok ingin lanjut perjalanan menuju Sadai, ada keinginan mau menyeberang katanya. Aku ikuti keinginannya, kami bermotor tanpa menggunakan terowongan cahaya. Sesampai di Sadai, Abok mau mencari kapal untuk menyeberang ke Belitung. Aku heran, menegaskan bahwa kita bisa lewat terowongan cahaya, Bok, kenapa harus naik kapal ke Belitung?
Abok tersenyum. Air dan lautan adalah unsur terpisah dari bumi, air adalah material angkasa yang jatuh ke bumi seperti halnya emas. Abok melanjutkan, terowongan cahaya tidak bisa dilewati begitu saja, harus ada material penyambung untuk sampai ke Belitung.
Aku bertanya, “Maksudnya material padat?”
“Iya,” jawab Abok.
“Jembatan, dong?” tegasku.
“Benar,” lanjut Abok. “Jika ada jembatan, kita akan sampai ke Belitung dengan terowongan cahaya dalam sekejap.”
Aku terpana, dan Abok tersenyum, terus berkata, “Masih ingat cerita Abok dulu tentang lambaian tangan di jalan gelap yang sebenarnya lambaian daun pisang yang ditiup angin? Otak manusia menolak hal-hal mistis dan di luar nalar, tapi sebaliknya dalam kesendirian, kekalutan, serta terpojok, semua yang realistis menjadi mistis dan tidak masuk akal.”
Abok terkekeh. “Sepertimu sekarang, mengandalkan terowongan cahaya yang bertentangan dengan nalar, dan sebenarnya benda itu ada batasnya juga.”
“Bagaimana bisa dibuat jembatan, Bok? Pulau Belitung jauh jaraknya dari daratan Pulau Bangka, dan arus Selat Gaspar/Gelasa sangat deras.”
Abok terkekeh lagi. “Siapa bilang jarak Pulau Bangka dan Pulau Belitung jauh? Ada banyak gugusan pulau-pulau kecil di antaranya.”
Ya, aku ingat ada sahabat berkata, gugusan pulau-pulau yang muncul terus-menerus dan pulau-pulau yang hilang terendam dalam air saat laut pasang, berjajar dari Pulau Bangka ke Pulau Belitung.
Lanjut Abok, “Cucu Abok insinyur dan berteman dengan insinyur, masa tidak bisa mencari kemungkinan dan peluang untuk menyatukan Pulau Bangka dan Pulau Belitung jadi satu daratan? Dulu pernah aku bertanya ke sahabat, apakah gugusan pulau tenggelam banyak di Selat Gaspar/Gelasa? Jawab teman, banyak. Kalau begitu, pulau-pulau tenggelam ini bisa jadi tapak jembatan agar makin kokoh.”
Aku tercekak, tersedak air kelapa muda. Benar, jembatan! Rindu Abok untuk ke Belitung akan terobati. Aku ingat Batam, ingat Provinsi Kepulauan Riau, kepulauannya telah disatukan dengan enam jembatan sehingga konektivitas orang dan barang pokok terjamin. Bangka Belitung masih perlu membangun konektivitas lautnya, namun apa salahnya bila memaksa membangun konektivitas daratannya dengan jembatan, walau bertahap membangun beberapa jembatan dari Pulau Bangka ke Pulau Belitung?
Daripada memikirkan konektivitas Pulau Bangka ke Pulau Sumatera, lebih baik merealisasikan dulu konektivitas Pulau Bangka ke Pulau Belitung lewat pulau-pulau kecilnya dengan beberapa jembatan. Ini bisa menjadi ikon dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. Kemudian, setelah Pulau Bangka dan Pulau Belitung terhubung, baru memikirkan konektivitas Pulau Bangka dengan Pulau Sumatera.
Aku cukup lelah, memohon kepada Abok untuk berbaring sebentar di bangku panjang pondok sekitar Pelabuhan Sadai sebelum kembali pulang ke Pangkalpinang, sambil memandang Abok duduk menatap laut jernih. Perlahan aku terpejam, dan terbangun dengan suara staf, “Pak, sudah jam 4 sore, absen, Pak, waktunya pulang.”
Astagfirullah, aku kaget ternyata masih di atas kursi, terlelap di depan PC dalam kantor.
Ternyata mimpi! Perjalanan mistis yang melahirkan peluang realistis, mimpi di siang bolong yang bukan mengungkapkan omong kosong. Terima kasih Abok atas mimpi jalan-jalannya. Aku harap beberapa jembatan yang menghubungkan Pulau Bangka dan Pulau Belitung bukan sekadar mimpi di siang bolong, melainkan akan terealisasi suatu saat nanti dalam waktu dekat sehingga tidak ada lagi rintangan batas dan jarak untuk Bangka dengan Belitung, negeri Serumpun Sebalai. Begitu juga perkembangan kota-kotanya bisa memberi manfaat bagi masyarakatnya. Aamiin.

