Saat itu tahun 1984, Kang Maman sudah aktif menulis di Harian Kompas.

Honor satu tulisan dibayar sebesar Rp50 ribu. Uang tersebut cukup untuk membiayai kuliahnya.

Dengan honor menulis di Kompas, Kang Maman pun mampu membantu biaya kuliah adik-adiknya.

“Dari situlah saya percaya bahwa perintah membaca dan menulis dijaga langsung oleh Allah SWT,” ujarnya.

Ia juga sempat mengulas novel fenomenalnya Re: peRempuan. Novel tersebut merupakan tulisan skripsinya yang menceritakan tentang potret kelam pelacuran dan jual beli perempuan.

Meski terjebak dalam dunia pelacuran, Kang Maman mengingatkan peserta agar tidak mudah menghakimi orang.

Seorang perempuan dalam bukunya, yang terjerat pada praktik prostitusi, tetap berusaha menyelamatkan anaknya agar terbebas dari praktik jual beli.

“Bahkan sang ibu menitipkan uangnya kepada saya untuk membiayai pendidikan anaknya tersebut. Saat ini anak itu sudah meraih gelar doktor,” kata Kang Maman.

Perempuan itu, kata Kang Maman, memiliki hak dan kedudukan yang sama dengan laki-laki.

Salah satu novel best seller Kang Maman ini telah dicetak 36 kali. Dari royalti novel ini lah, Kang Maman mampu menguliahkan anaknya hingga ke luar negeri.

Kisah Kang Maman tadi menyentuh hati salah satu peserta. Ia menangis sambil berjalan ke depan menuju arah panggung.

“Bener ape yang dibilang Kang Maman. Ku inget ape yang dibilang orang tueku. Itu yang kurase. Pesan orang tue menyuruh kite solat dan selalu berbuat baik. Saat ini ku sedang hamil,” ungkap wanita bernama Rosikun dengan bahasa daerah.

Kang Maman terlihat diam dan tersenyum mendengar ucapan Rosikun.

Jejak literasi Kang Maman begitu sarat makna. Perintah Allah yang disampaikan kedua orang tuanya ia pahami, rasakan, dan dilakoninya seperti filosopi Ki Hajar Dewantara.

Terima kasih Kang Maman, pesanmu begitu menggugah, dan tulisanmu menginspirasi kami untuk mengikuti jejakmu. Salam literasi