Menulis Opini
Pertama-tama buatlah judul yang singkat, unik, padat, dan langsung mencerminkan inti tesis. Namun, membuat judul terlebih dahulu sebenarnya tidaklah baku. Ada juga yang membuat judulnya belakangan setelah seluruh struktur tubuh tulisan selesai dibuat.
Selanjutnya, dalam alinea pembuka (Lead / Attention), kita dapat mengisinya dengan anekdot singkat, fakta mengejutkan, pertanyaan retoris, atau kutipan menohok. Paragraf awal ini berfungsi sebagai kail yang menarik pembaca (memicu rasa ingin tahu).
Penulis juga wajib menyatakan pendirian dan sudut pandang utamanya secara tegas di bagian awal (pro atau kontra). Hindari sikap ragu-ragu atau berdiri di wilayah abu-abu. Kemudian, di bagian batang tubuh dan argumentasi (context & demonstrate), penulis memaparkan 2–3 alasan logis yang didukung oleh data empiris, hasil riset, statistik valid, atau referensi teoretis. Pembuktian argumen perlu memadukan fakta, kredibilitas penulis, dan kepekaan emosional (pathos).
Kadangkala, tulisan opini juga menyertakan sudut pandang yang berlawanan untuk kemudian dipatahkan secara logis dan santun. Terakhir, di bagian alinea penutup (forward / kicker), biasanya berisi Kesimpulan atau penegasan ulang tesis. Ada juga berisi rekomendasi atau solusi konkrit yang berorientasi ke masa depan.
Keberanian Menulis dan Etika Kepenulisan
Menulis opini memerlukan keberanian intelektual dan nyali. Bagi penulis pemula, rasa takut akan penolakan redaksi adalah hal yang lumrah. Langkah terbaik untuk membangun kepercayaan diri adalah memulai dari media kampus, pers mahasiswa, atau portal blog publik sebelum mencoba merambah media massa (lokal atau nasional).
Agar tulisan enak dibaca dan mudah dicerna oleh masyarakat umum yang heterogen, penulis harus mematuhi kaidah bahasa populer dan bahasa jurnalistik. Gunakanlah kalimat-kalimat pendek yang efektif, susunan kalimat aktif, serta pilihan kata yang lugas. Hindari jargon akademis yang membingungkan atau kata-kata yang mubazir.
Di atas segalanya, integritas penulis adalah pilar utama. Penulis wajib menjauhi plagiarisme dan manipulasi data. Selain itu, etika penulisan melarang keras pengiriman satu naskah opini ke dua media massa secara bersamaan.
Kirimlah tulisan anda ke salah satu media. Tunggulah 5-7 hari dari waktu pengiriman. Apabila tidak ada pemberitahuan dari waktu tunggu tersebut, opini anda dapat dianggap ditidak dimuat. Baru anda mengirimkannya ke media yang lain.
Sejak saya menulis dan mengirimkannya ke media massa, saya sudah puluhan kali ditolak. Bahkan, mendekati ratusan tulisan. Tulisan yang ditolak tersebut, jangan anda buang. Anda dapat memperbaikinya dan mengirimkan lagi nanti di kemudian hari.
Selanjutnya, cantumkan sumber rujukan dan data secara jujur untuk menjaga kredibilitas tulisan, kecuali hal-hal yang bersifat umum atau sudah diketahui banyak orang. Umumnya, menulis rujukan menggunaan catatan perut. Atau juga menulis langsung dalam kalimat dari tulisan artikel tersebut seperti yang sering digunakan dalam karya jurnalistik.
Menulislah untuk Abadi
Pena adalah sarana paling abadi untuk mengikat pengetahuan. Seperti pesan bijak yang kerap kita dengar: “Jika ingin mengenal dunia, membacalah; jika ingin dikenal dunia, menulislah!” Ketika gagasan yang kita rancang mampu memberikan sudut pandang baru, mengurai kerumitan masalah sosial, serta menyumbangkan solusi bagi kebijakan publik, maka tulisan tersebut telah menjalankan peran mulianya. Jangan biarkan pemikiran dan kepedulianmu menguap tanpa jejak. Ambil pena, buka laptopmu, dan menulislah!

