Penulis: Eqi Fitri Marehan S.I.Kom

Siapa yang tidak pernah melihat pemandangan ini? Botol-botol berisi cairan berwarna hijau atau cokelat berjejer rapi di depan warung pinggir jalan. Harganya jelas lebih mahal daripada yang tertera di pom bensin, namun tetap saja banyak yang membelinya.

Praktik ini sudah berlangsung lama, begitu lama hingga banyak warga yang menganggapnya hal biasa. Padahal, membeli BBM bersubsidi di SPBU lalu menjualnya kembali secara eceran di kios-kios adalah tindakan ilegal. Sanksinya pun tidak main-main: pidana penjara paling lama 6 tahun dan denda mencapai Rp60 miliar, berdasarkan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi.

Namun cerita di lapangan tidaklah sesederhana bunyi pasal undang-undang tersebut. Di balik larangan itu, ada kisah nyata yang dialami warga di pelosok desa, di pulau-pulau kecil, dan di daerah terpencil yang jauh dari jangkauan SPBU. Di sana, persoalannya bukan sekadar soal mau melanggar hukum atau tidak, melainkan soal bagaimana menjalani kehidupan sehari-hari ketika kebutuhan paling dasar sulit dipenuhi.

Dilema yang Tak Sederhana

Bayangkan tinggal di sebuah desa yang berjarak puluhan kilometer dari pom bensin terdekat. Satu-satunya jalan berupa tanah yang licin saat hujan dan berdebu saat kemarau. Kendaraan yang lewat pun tidak setiap hari ada. Saat motor kehabisan bahan bakar, warga tidak bisa sekadar berjalan sebentar ke pom bensin terdekat. Harus menunggu siapa tahu ada kendaraan lewat, meminjam dari tetangga, atau berjalan jauh demi beberapa liter bensin.

Di sinilah letak dilema yang menyakitkan. Hukum melarang keras penjualan eceran BBM bersubsidi karena merugikan negara dan mengurangi jatah bagi warga yang berhak menerimanya. Namun di sisi lain, warga butuh bahan bakar untuk menggerakkan motor ke ladang, mengairi sawah dengan mesin pompa, menyalakan genset, mengantar anak ke sekolah, dan beraktivitas.

Bagi mereka yang terjauh dari akses fasilitas umum, keberadaan penjual eceran meski ilegal dan mahal, terasa seperti satu-satunya jalan keluar saat keadaan mendesak. Mereka tahu harganya mahal, mereka tahu itu tidak seharusnya terjadi, tapi pilihan lain seakan tidak ada.

Dampak Nyata yang Dirasakan Warga