Opini Putih Bangka Belitung
Oleh: D’Utama — Pemerhati Lingkungan dan Kemasyarakatan Bangka Belitung
Penulis pernah menyimak salah satu siniar (podcast). Narasumber tersebut berbicara bahwa jika ingin cepat kaya, berbisnislah di tiga sektor: pertambangan, komoditas, dan keuangan. Sangat menarik, setelah digali, ternyata sebagian besar konglomerat Indonesia lahir dari ketiga bisnis ini. Memang banyak pula konglomerat yang lahir dari luar sektor tersebut, tetapi memerlukan waktu yang relatif lama untuk mencapainya.
Saat ini kita tidak sedang membahas bagaimana sektor pertambangan, komoditas, keuangan, atau sektor lain dapat menciptakan konglomerasi. Namun, yang dibahas adalah bagaimana ketiga sektor ini berpengaruh terhadap suatu daerah. Dari tiga sektor tersebut, kita pilih dua sektor yang dapat diproduksi dan jumlahnya bisa melimpah di suatu daerah, yaitu sektor tambang dan komoditas.
Berdasarkan data statistik, Bangka Belitung merupakan pemasok timah terbesar kedua di dunia. Selain itu, daerah ini memiliki komoditas lokal yang sudah turun-temurun dibudidayakan, yaitu lada dan karet. Setelah menjadi berita viral di media televisi, cetak, dan sosial, pengelolaan timah mulai ditata demi kepentingan masyarakat, khususnya warga Bangka Belitung.
Realita Hasil Tambang dan Komoditas
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, luas areal perkebunan karet rakyat di Bangka Belitung pada tahun 2024 tercatat seluas 58.183,01 hektare, yang kemudian menyusut menjadi 47.276,18 hektare pada tahun 2025. Persentase penurunan luas lahan karet ini menyusut tajam sebesar 18,74% hanya dalam kurun waktu satu tahun.
Sementara itu, luas perkebunan lada putih milik petani di Bangka Belitung tercatat seluas 38.684 hektare pada tahun 2023, menyusut menjadi 28.096,81 hektare pada tahun 2024 (berdasarkan catatan penyesuaian akhir DPKP), dan kembali turun menjadi 18.948,81 hektare pada tahun 2025. Mengutip Antara News Bangka Belitung, persentase penurunan luas lahan lada dari tahun 2024 ke 2025 mencapai 32,56%. Jika ditarik dari data tahun 2023, akumulasi penyusutan lahan lada dalam dua tahun telah berkurang lebih dari separuhnya.
Namun, memasuki pertengahan tahun 2026, luasan ini mulai merangkak naik ke angka 39.639 hektare, menyusul lonjakan harga lada putih di tingkat petani yang menyentuh angka Rp140.000 hingga Rp150.000 per kilogram. Sama seperti komoditas karet, penyusutan drastis perkebunan lada dari tahun ke tahun disebabkan oleh alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit, aktivitas penambangan timah, serta berkurangnya jumlah petani.
Berdasarkan laporan resmi DPKP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, total produksi lada putih pada tahun 2025 tercatat sebanyak 9.646,96 ton. Meskipun volume produksinya menurun pada tahun 2025, nilai jual komoditas ini di pasar ekspor internasional (seperti Jepang, Vietnam, dan Jerman) tetap tinggi karena karakteristik aromanya yang khas.
Adapun total produksi karet petani di Bangka Belitung pada tahun 2025 tercatat sebanyak 26.738,35 ton, mengalami penurunan sebesar 16,35% dibandingkan tahun 2024 yang menghasilkan 31.963,99 ton.
Di sisi lain, sektor pertambangan timah yang telah berlangsung ratusan tahun baik di darat maupun di laut masih tetap berproduksi hingga saat ini. Hal ini terjadi karena penambangan sejak zaman dahulu menggunakan sistem tambang terbuka (open mining) yang tidak tuntas mengambil bijih timahnya, sehingga lokasi tersebut dapat ditambang kembali setelah puluhan tahun, seolah-olah tidak pernah habis. Begitu pula di laut, kandungan bijih timah aluvial yang terbentuk dari sisa gunung dan sungai purba yang terkubur di Laut Cina Selatan akan terus terbawa arus ke arah Pulau Bangka dan Pulau Belitung.
Menurut PT Timah Tbk, Direksi menargetkan total produksi sepanjang tahun 2026 dapat menembus angka 30.000 ton. Sebagai perbandingan kinerja pada 9 bulan pertama (9M) 2025, produksi bijih timah tercatat sebesar 12.197 ton Sn dan produksi logam timah sebesar 10.855 MT, dengan total reklamasi lahan tambang mencapai 354,05 hektare sepanjang tahun 2025.
Dari sisi ekspor dan pasar (Juli 2026), nilai ekspor timah dari Bangka Belitung mencapai USD222,04 juta, melonjak 88,61% dibanding Juli 2025. Harga rata-rata logam timah Cash Settlement Price (CSP) di London Metal Exchange (LME) hingga April 2026 juga naik 23,53% menjadi USD39.101 per metrik ton.
Komoditas terkini yang terus berkembang pesat di Bangka Belitung adalah kelapa sawit. Berdasarkan data terbaru DPKP dan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sektor perkebunan kelapa sawit didominasi oleh Perusahaan Besar Swasta (PBS) dengan luas lahan berizin atau Izin Usaha Perkebunan (IUP) mencapai 250.956,66 hektare. Sementara itu, perkebunan rakyat atau petani mandiri mengusahakan lahan seluas sekitar 107.000 hektare, sehingga total luas perkebunan kelapa sawit di Bangka Belitung mencapai 355.056,08 hektare.
Operasional pengolahan kelapa sawit ini ditopang oleh 23 unit Pabrik Kelapa Sawit (PKS) aktif. Total produksi CPO gabungan (perusahaan dan rakyat) diproyeksikan berada di kisaran 130.000 hingga 150.000 ton per tahun. Data Bank Indonesia (BI) per pertengahan 2025/2026 menunjukkan komoditas CPO dan turunan menjadi salah satu motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi serta ekspor non-timah di Bangka Belitung di samping sektor komoditas galian. Produksi sawit rakyat sendiri pada tahun 2025 mencapai 347.941,76 ton, melonjak tajam dibanding tahun 2024 yang tercatat sebesar 229.616,89 ton.
Dampak dan Manfaat Sektor Tambang dan Komoditas
Dari gambaran di atas, terlihat jelas bahwa komoditas dan hasil tambang menjadi penopang utama pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Bangka Belitung. Untuk melihat dampak dan manfaatnya, penulis mencoba memandangnya dari sisi pendapatan masyarakat serta pendapatan daerah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencapai Rp75,32 juta per tahun (atau sekitar Rp6,27 juta per bulan menurut pendekatan DJPb Kementerian Keuangan). PDRB merupakan nilai tambah ekonomi yang menunjukkan seberapa efektif suatu daerah mengolah potensi alamnya.
Daerah yang hanya menjual bahan mentah (seperti bijih timah mentah atau Tandan Buah Segar/TBS sawit tanpa diolah) akan menghasilkan nilai tambah yang jauh lebih kecil dibandingkan daerah yang memiliki industri hilirisasi, seperti smelter timah atau pabrik minyak goreng. Semakin tinggi total nilai tambah ekonomi yang dihasilkan, PDRB per kapita akan semakin tinggi, yang linier dengan peningkatan upah minimum (UMP) dan daya beli masyarakat.
Pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung didorong oleh PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) yang menyentuh Rp116,81 triliun dengan tren pertumbuhan stabil di kisaran 4,01% hingga 4,09%, disokong oleh industri pengolahan, akomodasi, serta perkebunan. Kondisi ini membawa kesimpulan bahwa secara makro, masyarakat Bangka Belitung masuk dalam kriteria masyarakat kelas menengah atas (upper-middle class) menuju kelas atas (upper class) berdasarkan standar nasional maupun internasional.
Dari sisi Pendapatan Asli Daerah (PAD), Pemprov Kepulauan Bangka Belitung mencatatkan PAD sebesar Rp1,05 triliun dari total target pendapatan daerah dalam APBD yang mencapai Rp1,97 triliun. Adapun PAD tujuh kabupaten/kota adalah sebagai berikut:

