Menjejak Kota Nabi: Kelana Suci Memeluk Rindu di Masjid Nabawi (VIII-Lanjutan)
Hari Ketujuh Lanjutan
Karya: Yak Dand
Astagfirullah dalam hati, di dalam masjid ada jemaah yang rela membayar kepada petugas untuk bisa masuk Raudhah lewat jalan pintas sungguh sangat mengejutkan. Dan tentunya petugas menolak dengan melambaikan tangan sambil berkata, “Harom, harom, harom!”
Hamba masih berusaha menegur petugas sebab ia tampak sibuk menepis jemaah yang meminta izin. Setelah beberapa saat, barulah petugas tersebut menanggapi hamba saat meminta izin keluar karena batal wudu. Pintu dibuka, jemaah yang mengacungkan uang diminta mundur, dan barulah hamba berhasil keluar ke sisi barat makam di pintu Bab Jibril.
Selanjutnya, hamba keluar lewat pintu Baqi, melewati sisi selatan makam Rasulullah saw. menuju ke toilet yang cukup jauh di sisi pelataran masjid, turun menggunakan eskalator ke bawah tanah dengan kedalaman setara gedung empat lantai.
Sebuah peristiwa yang penuh hikmah; dalam hati hamba tersenyum kecil sambil membatin, jika kejadian seperti itu di Indonesia, sudah pasti petugas memanfaatkannya untuk mengizinkan jemaah lewat jalan pintas masuk ke Raudhah. Namun, para petugas di sini sadar bahwa mereka berada di dalam masjid dan diawasi oleh Rasulullah saw. Muncul harapan agar kesalahan semua jemaah diampuni, karena keinginan yang begitu besar hingga mengalahkan rasa malu.

