Menjejak Kota Nabi: Kelana Suci Memeluk Rindu di Masjid Nabawi (VIII-Lanjutan)
Selesai dari toilet bawah tanah tadi, hamba kembali ke sisi selatan pelataran masjid menemui “cinta” dan menikmati keindahan masjid serta kegembiraan para jemaah dari seluruh dunia sampai waktu Salat Asar. Setelah Asar, hamba dan “cinta” sempat berjalan ke depan masjid sisi timur, menikmati keindahan Kota Madinah sebelum kembali ke penginapan.
Sebelum Magrib, hamba dan “cinta” kembali ke Masjid Nabawi, dan hamba bertekad untuk bisa berjemaah di shaf terdepan Nabawi. Hamba langsung mencari posisi lewat Bab Abu Bakar. Namun, di tengah arus jemaah yang sangat padat, hamba terdesak dan akhirnya hanya berhasil salat Magrib di shaf kelima.
Selesai salat, shaf dibubarkan. Hamba berpindah ke arah depan dan akhirnya bisa duduk berdesakan di shaf ketiga, sebab seluruh shaf pertama masjid telah diduduki jemaah yang sedang tadarus dengan cara menyandar di dinding membelakangi kiblat dengan kaki terjulur. Fantastis, para jemaah ini tidak bergerak dan bergeming sama sekali dari waktu salat ke waktu salat berikutnya demi berjuang merebut shaf pertama.
Saat azan Isya, hamba masih terduduk di antara himpitan jemaah. Namun, setelah iqomah Isya, hamba merapatkan shaf dan bergeser maju untuk mencoba ke shaf pertama, tetapi gagal total karena shaf pertama sudah rapat tanpa celah sama sekali begitu taatnya mereka dalam perebutan shaf pertama. Hal ini menjadi pelajaran berharga bahwa pesan guru mengenai keutamaan shaf pertama bukanlah hal yang mudah untuk diamalkan. Dalam salat Isya ini, alhamdulillah hamba hanya bisa mendapati shaf kedua Masjid Nabi dengan kondisi shaf yang sangat rapat.
Selesai salat Isya dan salat rawatib, hamba meminta izin kepada jemaah di shaf pertama agar diberi ruang untuk bisa salat di area terdepan tersebut. Setelah lama berdoa dan kembali menyapa Rasulullah serta dua orang khalifahnya, hamba bergegas pergi menemui “cinta” di pelataran masjid pada pintu gerbang yang telah disepakati, lalu kembali ke penginapan dengan membawa sejuta hikmah dan kejutan. Mahasuci Allah Yang Maha Agung.

