Penulis: Erik Juliawan

Namaku Azka anak bungsu 24 tahun yang mulai tumbuh dan beranjak dewasa, dengan segala keadaan yang ada sedang berusaha untuk terus kuat dan berdiri sendiri. Bukan karena tidak butuh bantuan orang lain, tetapi karena aku mulai menyadari bahwa ada tantangan yang harus kuhadapi dengan keberanian yang aku miliki dan hanya bisa mengandalkan diri sendiri. Dan satu hal yang selalu aku ingat, bahwa aku tidak boleh menyerah hanya karena perjalananku terasa sulit. Karena, ada dua orang yang menjadi motivasi terbesar ku untuk terus maju yaitu Ayah dan Ibu.

Malam itu, aku dan Ibu duduk diruang tengah dengan kondisi televisi sedang menyala, tetapi kami tidak terlalu fokus memperhatikannya. Ibu sedang melipat baju, sedangkan aku duduk bersandar sambil menatap layar ponsel melihat foto-foto semasa kuliah. Namun entah kenapa sering kali tiba-tiba pikiranku melayang kemana-mana. Mengenai pekerjaan. Mengenai masa depan. Mengenai uang yang harus dicari. Mengenai impian-impian yang masih belum tercapai. Mengenai bagaimana cara menjadi anak yang bisa membuat orang tuaku merasa tenang, aman dan nyaman.

Tiba-tiba Ibu melihat ke arahku.

“Kamu kenapa, Nak. Dari tadi kok diam dan tidak bicara. Ada masalah?”

Dengan perasaan sedikit kaget, segera kuangkat kepala dan lalu tersenyum.

“Enggak, Bu. Aku baik-baik saja.”

Ibu menatapku sejenak.

“Kalau kamu punya masalah, ceritakan ke Ibu. Jangan terus-terusan semua kamu simpan sendiri.”

Perkataan itu sederhana, tapi bagiku terasa sangat bermakna.

Sebetulnya aku ingin mengungkapkan segala isi yang ada dalam pikiranku.

Tapi, saat melihat wajah Ibu, aku malah menahan semua kata-kata itu.

Aku sadar Ibu juga mengalami kesulitan. Ada banyak hal yang mungkin tidak pernah ia ceritakan sebelumnya kepadaku. Ada beban berat yang ditanggungnya selama bertahun-tahun demi memastikan anak-anaknya bisa tumbuh hidup dengan baik.

Aku tidak mau menambah rasa kesulitan itu lagi.

Akhirnya, aku cuma bilang, “Aku hanya sedikit lelah, Bu. Nanti akan baik-baik saja.”

Ibu menunduk pelan, lalu meletakkan pakaian yang sudah ia rapikan.

“Merasa lelah itu wajar-wajar saja, Nak. Kamu tidak perlu selalu terlihat kuat.”

Aku pun terdiam dan menundukkan kepala menyembunyikan mata yang mulai sedikit mengeluarkan air mata.

Hidup ini memang aneh, disaat kita sangat berharap ada orang yang mengerti kita, tetapi saat orang itu benar-benar siap untuk mendengarkan, kita malah takut untuk bercerita mengungkap. Bukan karena kita tidak percaya kepada mereka.Tapi karena kita sudah terbiasa mengatasi semua masalah dengan sendirinya.

Setelah Ibu selesai melipat baju dan bergegas melanjutkan pekerjaan lainnya, aku tetap duduk di ruang tengah perlahan berbisik pelan sekali.

“Ibu, jika Ibu tahu apa yang ada di pikiranku, mungkin Ibu akan mengerti kenapa aku sering diam. Aku bukan tidak mau berbagi cerita. Aku hanya tidak ingin melihat Ibu memikirkan hal yang bisa menambah kehwatiran lagi.

Lalu aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan.

“Maaf, Ibu. Aku masih belajar dan berusaha untuk menjadi anak yang kuat.”

Keheningan malam yang semakin larut itu hanya ada aku, malam, dan semua hal yang selama ini kusembunyikan.

Jika Ibu tempat di mana aku merasa diterima, begitu pula Ayah salah satu alasan yang membuatku ingin terus bangkit dan berjuang. Ada sesuatu pada diri Ayah yang selalu mengingatkanku bahwa hidup harus terus diperjuangkan, apapun rintangan dan sulitnya situasi yang dihadapi.

Aku menyaksikan cara Ayah menjalani hidup setiap hari. Bagaimana ia berjuang memenuhi kebutuhan keluarga, bagaimana ia menyimpan rasa letihnya, dan bagaimana kadang-kadang ia memilih untuk tidak bicara saat menghadapi masalah. Dari Ayah, aku belajar bahwa tanggung jawab tidak selalu perlu dijelaskan dengan banyak kata.

Ke esokan hari di waktu sore suasana senja datang menyapa, sepulang kerja aku duduk di teras rumah bersama Ayah. Angin berhembus lembut. Warna langit mulai berganti, dan suara kendaraan terdengar sesekali dari kejauhan.

Ayah memandang ke arah jalan yang ada di depan rumah, sembari bertanya tentang aktivitas pekerjaan yang telah aku lalui di hari itu.

“Bagaimana dengan pekerjaanmu, Nak? Apakah berjalan baik?”

Jawabku “Alhamdulillah sedikit baik, Yah. Masih ada banyak yang perlu aku pelajari di setiap harinya.”

Ayah menghela nafas sambil tersenyum tipis. “Bagus. Tidak apa-apa pelan-pelan saja nak. Tidak semua yang kamu inginkan langsung bisa dan tercapai.”

Aku mengangguk kepala dengan pelan menandakan arti setuju atau mengiyakan. Beberapa waktu kemudian, Ayah melanjutkan percakapan.

“Yang terpenting ialah niatmu untuk terus belajar dan berusaha. Jangan takut jika belum berhasil. Dulu Ayah juga mengalami banyak kesulitan.”

Dengan cepat aku menoleh kepada Ayah dan bertanya.

“Apakah Ayah pernah merasa lelah hingga mencapai titik ingin berhenti? ”

Ayah perlahan memandang ku, kemudian memberikan senyuman kecil.

“Ya, Nak. Ayah juga manusia. Ayah juga merasakan saat-saat di mana Ayah merasa bingung, ada kalanya Ayah merasa takut. Namun, ketika mengingat keluarga, Ayah selalu berusaha untuk menemukan jalan keluar.”

Aku langsung menundukkan kepala. Perasaanku tersipu malu dengan jawaban itu yang mungkin sulit untuk diungkapkan.

Aku selama ini berpikir bahwa kekuatan jiwa yang dimiliki setiap orang bukan berarti orang tersebut tidak pernah merasakan ketakutan atau kegelisahan. Aku mengira bahwa orang yang memiliki tanggung jawab pasti selalu tahu langkah yang harus diambil.

Namun, di sore itu, aku menyadari sesuatu.

Bahkan Ayah juga pernah merasakan hal yang sama. Ada kala khawatir dan lelahnya. Mungkin, selama sekian tahun, Ayah pernah duduk sendirian, merenungkan berbagai hal yang belum pernah ia bagi dan ceritakan kepada orang lain.

Aku mengamati kedua tanganku. “Yah, jika suatu saat nanti aku belum mencapai kesuksesan, apa Ayah akan merasa kecewa padaku?”

Ayah langsung menatapku. “Kenapa kamu merasa demikian?”

“Entahlah, Yah. Terkadang aku merasa cemas. Sebenarnya aku ingin sekali membuat Ayah dan Ibu merasa bangga. Aku ingin dapat membantu keluarga. Aku ingin melihat Ayah dan Ibu menikmati hidup yang lebih tenang. Namun terkadang aku merasa seolah belum berbuat banyak apa-apa.”

Ayah menghembuskan napas dalam-dalam, lalu menempatkan tangannya di bahuku.

“Anakku, perhatikan baik-baik. Kami, Ayah dan Ibu memang ingin melihat kamu tumbuh menjadi pribadi yang baik, bertanggung jawab, dan memiliki masa depan yang cerah. Namun, tidak harus keinginanmu untuk menyenangkan kami malah membuatmu tidak puas dan membenci hidupmu sendiri.”

Aku terdiam sejenak.

“Kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak uang yang kamu miliki atau seberapa tinggi posisi yang kamu capai. Yang penting kamu terus berusaha, tidak menyerah, tidak menyakiti orang lain, tetap setia pada dirimu sendiri selama perjalanan hidupmu, dan itu sudah membuat Ayah dan Ibu ikut bangga.”

Aku menggigit bibirku, berusaha menahan tangis. Ayah melanjutkan perkataan dengan nada yang lebih lembut.

“Kami adalah orang tuamu. Kami tidak menuntutmu untuk menjadi sempurna. Yang kami harapkan hanyalah kamu terus menjalani kehidupan dengan baik.”

Aku tidak mampu memberikan jawaban. Aku hanya mengangguk pelan. Di dalam hatiku mengatakan.

“Yah, aku sangat ingin menjadi alasan Ayah bisa bersantai lebih lama. Aku berharap di masa depan, Ayah tidak perlu lagi memikirkan segala keperluan keluarga dengan berat. Aku ingin mengurangi sebagian beban yang selama ini Ayah bawa. Namun untuk saat ini, aku masih anakmu yang sedang dalam proses belajar. Aku sering kali merasa takut. Aku sering kali merasa bingung. Aku sering kali merasa tertinggal. Namun, aku berjanji akan terus berusaha.”

Pada satu malam yang damai, di teras rumah dengan secangkir kopi aku kembali duduk bersama Ayah dan Ibu.

Kami berbicara mengenai hal-hal yang sederhana. Mengenai aktivitas sehari-hari, kondisi rumah, dan berbagai hal kecil yang biasanya tidak terpikirkan.

Aku meletakkan telepon genggamku, kemudian menatap mereka satu per satu.

“Bu, Yah, bolehkah aku bertanya sesuatu”

Ibu memberikan senyum.

“Tentu saja. Silahkan apa yang ingin kamu tanyakan”