Aku Adalah Anak Bungsu Itu
Aku mengambil napas dalam-dalam.
“Jika di masa depan aku tidak bisa menjadi seperti yang di inginkan, apakah kalian masih akan merasa bangga padaku?”
Keduanya terdiam sejenak. Ayah lantas bertanya, “Mengapa kamu menanyakan hal itu nak”
Aku berusaha untuk tersenyum, tetapi kali ini aku tidak ingin menyembunyikan semuanya.
“Karena aku sering merasa belum puas, Yah. Aku ingin berbuat banyak hal untuk keluarga begitupun membalas jasa-jasa pengorbanan kalian kepada ku. Aku berharap kalian bahagia. Namun, terkadang aku merasa cemas jika aku gagal. Aku khawatir semua usaha yang aku lakukan selama ini tidak cukup untuk membuat kalian merasa bangga.”
Ibu menaruh pekerjaannya dan memandangku.
“Nak, sejak kapan kamu berpikir bahwa kamu harus mencapai kesuksesan terlebih dahulu baru bisa membuat Ibu merasa bangga?”
Aku terdiam. Ibu melanjutkan pembicaraannya.
“Kamu adalah anak Ibu. Bukan orang asing yang perlu membuktikan sesuatu untuk layak dicintai.”
Aku menundukkan kepala. Dada ini terasa penuh sesak. Ayah juga mulai berbicara dan juga tersenyum.
Jika kamu ingin membalas apa yang telah kami lakukan, berusahalah untuk menjadi manusia yang baik. Jagalah kesehatanmu. Jangan ragu untuk berjuang demi hal yang pantas diperjuangkan, tetapi juga jangan sampai merusak dirimu hanya karena hal-hal yang belum bisa kamu atasi.
Ibu memberikan anggukan. Dan berkata.
“Di saat kamu merasa sedih, jangan ragu untuk berbagi cerita. Ibu mungkin tidak selalu memiliki solusi. Ibu mungkin tidak mampu menyelesaikan setiap permasalahanmu. Namun jangan pernah merasa bahwa kamu harus menghadapinya seorang diri.”
Aku menunduk sambil mengusap wajahku.
“Maaf, Bu. Maaf, Yah. Selama ini aku terus bilang semuanya baik-baik saja, tetapi sebenarnya ada banyak yang mengganggu pikiranku.”
Ibu memindahkan tempat duduknya agar lebih dekat.
“Tidak perlu meminta maaf hanya karena sedang menghadapi masalah, Nak.”
Aku menggeleng pelan lalu berkata.
“Aku hanya ingin agar kalian tidak merasa khawatir.”
Ayah menepuk bahuku.
“Kami tentu khawatir. Dan itu sudah menjadi sifat setiap orang tua. Namun, kami lebih merasa sedih jika kamu berpikir perlu menyembunyikan segalanya karena merasa akan membebani kami.”
Untuk pertama kalinya, aku tediam cukup lama dan membiarkan diriku untuk menyampaikan cerita tanpa khawatir apakah ucapan-ucapanku akan mengecewakan orang lain.
Aku berbagi mengenai ketakutanku terkait dengan masa depan. Tentang rasa tertinggal yang kualami. Tentang hasratku untuk membantu keluarga. Tentang hari-hari ketika pikiranku terasa sangat penuh hingga sulit bagiku untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya kualami.
Ayah dan Ibu memperhatikan. Mereka tidak memberikan solusi untuk setiap masalah yang kuhadapi. Mereka tidak menjanjikan bahwa segalanya akan berjalan dengan lancar. Mereka juga tidak menjanjikan bisa menghilangkan setiap rasa takutku dalam satu waktu sore saja.
Namun, mereka ada bersamaku.
Dan terkadang, hadirnya seseorang yang mau mendengarkan itu cukup membuat kita merasa tidak perlu menghadapi hidup ini dengan sendirian.
Sebab, kasih sayang tidak hanya berkaitan dengan siapa yang paling banyak berkorban tapi juga berhubungan dengan keinginan untuk saling melindungi dan mendengarkan.
Aku mungkin belum menjadi sosok yang bisa menjanjikan segalanya. Aku mungkin masih harus menempuh perjalanan panjang hingga mencapai semua impianku. Ada banyak hal yang belum kumiliki, banyak kekeliruan yang perlu kuperbaiki, dan banyak pelajaran yang masih perlu kupahami.
Aku tidak harus menunggu menjadi sempurna untuk melangkah.
Karena, hari ini aku sedang berjuang.
Hari ini aku juga sedang belajar.
Hari ini aku juga berusaha menjadi versi yang lebih baik dari diriku yang kemarin.
Dan bukankah itu juga merupakan sebuah langkah untuk maju.
Jika suatu saat aku mencapai kesuksesan, aku ingin selalu mengenang setiap malam di mana aku duduk sendiri, berbicara dengan diriku, dan meyakinkan hatiku bahwa aku masih mampu melanjutkan perjalanan ini.
Aku ingin mengingat bahwa pencapaianku tidak hanya terletak pada hasil akhir, tetapi juga pada keberanian untuk terus berusaha ketika semua terasa sulit.
Aku ingin selalu ingat bahwa di balik setiap langkahku, terdapat doa-doa dari orangtuaku yang mungkin tidak pernah kudengar, ada pengorbanan yang tidak selalu mereka ceritakan, dan ada cinta yang menjadi motivasi mengapa aku tidak menyerah begitu saja.
Dan apabila di suatu waktu aku merasa kelelahan, aku ingin mengingat satu hal yang sangat penting. Aku tidak diharuskan menjadi sosok pahlawan untuk setiap orang. Aku tidak perlu menyelesaikan seluruh permasalahan dalam waktu bersamaan. Aku tidak harus selalu menjadi tempat bagi orang lain untuk bersandar tanpa pernah meminta dukungan dari siapa pun. Aku hanya perlu tetap menjadi diriku sendiri, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada, sambil berusaha menjalani hidup dengan lebih bijak.
Karena, aku menyadari bahwa selama ini aku tidak hanya berjuang untuk kebahagiaan keluargaku. Aku juga sedang berjuang untuk masa depanku sendiri.
Aku berharap di suatu waktu nanti, aku bisa melihat ke belakang tanpa rasa benci terhadap semua tantangan yang pernah kuhadapi. Aku ingin bisa mengatakan bahwa meskipun perjalanan ini penuh kesulitan, aku telah berusaha semaksimal mungkin.
Dan untuk diriku yang saat ini masih menjalani proses ini, aku ingin menyampaikan.
Teruslah melangkah, Nak.
Jangan merasa rendah diri hanya karena perjalananmu belum sejauh orang lain. Jangan anggap dirimu gagal hanya karena usaha yang kamu lakukan belum membuahkan hasil. Jangan juga merendahkan dirimu hanya karena saat ini kamu belum bisa memberikan banyak bagi keluargamu.
Kamu masih memiliki waktu untuk belajar. Kamu masih mempunyai peluang untuk memperbaiki diri. Kamu masih mampu berkembang menjadi seseorang yang lebih baik.
Sayangi orang tuamu selama kamu masih memiliki kesempatan. Kejar mimpimu selagi ada peluang. Namun, jangan lupakan untuk menghargai dirimu sendiri sepanjang perjalanan itu.
Pada suatu saat, ketika semua usaha yang kamu lakukan mulai menunjukkan hasil, kamu tidak hanya membawa kebahagiaan untuk kedua orang tuamu.
Tetapi kamu juga membawa pulang dirimu sendiri dengan hati yang tetap utuh, jiwa yang tidak tersesat, dan senyum yang akhirnya tidak lagi perlu menyembunyikan luka dan kesedihan.
Aku adalah anak bungsu itu.
Anak yang berusaha belajar berdiri saat beban dunia terasa sangat berat.
Anak yang berjuang untuk menjadi rumah bagi dirinya sendiri saat pikirannya terlalu gaduh untuk dipahami.
Anak yang memiliki banyak impian, tetapi tidak selalu memahami bagaimana cara mengungkapkannya.
Anak yang kadang tampak tegar, sementara sebenarnya sering kali meragukan dirinya sendiri apakah ia mampu meneruskan semuanya.
Aku adalah anak yang terus berjuang demi orang-orang yang aku cintai.
Terutama Ayah dan Ibu.
Sebab, bagiku, pencapaian terbesar bukanlah ketika dunia akhirnya mengenal siapa diriku, tetapi ketika di suatu hari nanti aku dapat melihat kedua orang tuaku tersenyum dengan damai, menyadari bahwa anak bungsu mereka telah berkembang menjadi seseorang yang bisa menjaga dirinya sendiri, mengasihi keluarganya, dan menjalani hidup tanpa kehilangan jiwanya.
Dan apabila perjalanan menuju hari yang dinanti itu harus melewati waktu yang lama, biarkanlah.
Aku akan terus melangkah. Dengan perlahan, penuh harapan melalui usaha walaupun air mata yang kadang menetes, serta impian yang ingin kupertahankan agar tidak pudar.
Karena meskipun saat-saat tertentu aku harus menjadi tempat bernaung bagi diriku sendiri, aku yakin bahwa setiap langkah kecil yang kuambil hari ini akan membawaku lebih dekat pada hidup yang selama ini kuinginkan.
Dan di waktu mendatang, semoga aku tidak hanya menjadi anak yang diam-diam berdoa untuk kebahagiaan orang tua, tetapi juga menjadi anak yang dapat melihat doanya terwujud nyata.

