Menjaga Banteng Hijau Pesisir Kota Kapur: Saat Puluhan Jurnalis Babel Bedah Restorasi Mangrove
Karena itu, sebelum melakukan restorasi, tim terlebih dahulu melakukan survei dan komunikasi dengan pemilik maupun pengelola lahan.
“Kita melakukan survei terlebih dahulu untuk memahami kondisi lahan dan pihak-pihak yang mengelolanya. Informasi tersebut diperoleh melalui peta, pemerintah desa, dan masyarakat setempat,” katanya.
Menurut Nikki, lahan yang dikelola masyarakat umumnya berada pada kisaran dua hingga lima hektare per orang. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan pengelolaan kawasan dan pelaksanaan restorasi di tingkat bentang alam.
“Kami berdialog dengan masyarakat mengenai manfaat restorasi mangrove dan berbagai pertimbangan yang mereka miliki terkait pengelolaan lahan. Melalui proses tersebut, beberapa pemilik lahan kemudian bersedia berpartisipasi dalam kegiatan restorasi,” ungkapnya.
Selain membahas kondisi mangrove, kunjungan tersebut juga mengulas berbagai aspek pengelolaan kawasan pesisir, termasuk aktivitas pertambangan, pengembangan ekonomi masyarakat, serta upaya menjaga keberlanjutan lingkungan di Bangka Belitung.
Menariknya, masyarakat Desa Kota Kapur disebut memiliki sikap yang cukup kuat untuk mempertahankan wilayahnya dari aktivitas pertambangan, yang dinilai berpotensi merusak ekosistem mangrove dan lingkungan pesisir.
Salah seorang warga, sekaligus anggota kelompok Hutan Kemasyarakatan (HKm) Wanamina Desa Kota Kapur menjelaskan, masyarakat setempat memahami fungsi kawasan mangrove bagi kehidupan mereka.
Menurutnya, sebagian masyarakat Desa Kota Kapur menggantungkan kehidupan pada sektor perikanan dan sumber daya alam di sekitar wilayah tersebut. Masyarakat juga dapat melihat perbedaan kondisi lingkungan antara wilayah yang masih terjaga dengan kawasan yang telah terdampak aktivitas pertambangan.
“Masyarakat di Kota Kapur menolak penambangan karena mereka tahu fungsi kawasan ini. Mangrove memiliki banyak fungsi untuk menjaga ekosistem di dalamnya,” ujarnya.
Kepala Desa Kota Kapur Edi, menyambut baik kunjungan para jurnalis dan pihak terkait ke wilayahnya. Ia mengatakan, Desa Kota Kapur memiliki banyak potensi yang masih dapat dikembangkan, namun keterbatasan wawasan dan informasi menjadi salah satu tantangan bagi masyarakat.
“Alhamdulillah, kami sangat bangga atas kehadiran Bapak dan Ibu di sini. Banyak potensi yang bisa dikembangkan, karena masih kurang wawasan. Harapan kami Bapak dan Ibu bisa membantu kami untuk meningkatkan pendapatan masyarakat,” kata Edi.
Menurutnya, salah satu potensi desa adalah terhamparnya kawasan seluas kurang lebih 224 hektare yang telah ditetapkan melalui keputusan kementerian, dan dapat dikembangkan untuk mendukung kehidupan masyarakat.
Sumber: pangkalpinangkota.co.id

