Dari Pojok Baca, Abu Biru Membirukan Literasi Bangka Selatan
Sementara pada hari Minggu, Komunitas belajar Abu Biru menggelar kegiatan yang mereka kemas dalam sebutan Lapak Literasi. Lapak membaca dan mewarnai gratis yang telah mereka lakukan semenjak 2024 lalu di Kawasan Kolong Bakung Toboali.
Kehadiran Komunitas Belajar Abu Biru tentunya merupakan nutrisi yang amat menyehatkan perkemajuan dunia literasi Bangka Selatan dan Bangka Belitung.
Merintis gerakan literasi di Toboali dengan semangat aksi. Sebab literasi tidak akan tumbuh kalau hanya berhenti di wacana. Harus ada gerakan nyata dan aksi bersama.
Tak heran saat memulai gerakan lapak membaca dan mewarnai di kawasan Kolong Bakung mereka rela menggotong kardus besar yang berisikan buku dalam dus mie instan. Menenteng meja sendiri. Berkendara motor Mio dengan jarak tempuh 13 KM. Bahkan ada yang harus menempuh perjalanan dari Desa Sadai.
Selama satu tahun pertama, kegiatan anak-anak muda ini sepenuhnya didanai secara swadaya oleh para anggota.
Berkat kegigihan komunitas, Komunitas belajar Abu Biru mendapat kepercayaan dan dukungan dana dari Kemendikbudristek melalui program Apresiasi Komunitas Literasi.
Dan atas prestasi dan ikhtiar Komunitas Abu Biru yang berjuang untuk kebermajuan dunia literasi Bangka Selatan, Komunitas yang dipimpin Alumnus Sosiologi Universitas Bangka Belitung ini mendapat penghargaan sebagai Komunitas Literasi Terbaik dari Perpustakaan Daerah Bangka Selatan.
Komunitas berperan sebagai pemicu serta mengedukasian masyarakat secara masif terhadap pentingnya literasi. Kehadiran Komunitas literasi menjadi bagian penting dari kebermajuan dunia literasi.
Dengan inisiatif lokal yang inovatif dan kolaboratif, melalui program-program kreatif seperti Lapak baca, pelatihan, dan kampanye literasi secara masif dan berkelanjutan dunia literasi daerah ini terus menggeliat kendati secara perlahan namun menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Dukungan dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk pemerintah dan sektor swasta, sangat diperlukan untuk mewujudkan visi literasi yang merata dan berkelanjutan, demi meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia secara keseluruhan.
Setidaknya mengutip Mely Handiati tidak boleh ada anak-anak pewaris masa depan yang jauh dari akses belajar dan buku. Sebab buku adalah gerbang dunia. Sedangkan membaca adalah kuncinya.

