Oleh: Sobirin Malian — Dosen Penggiat Literasi

Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri: saat melangkah membuka pintu rumah, apakah kita merasa sedang tiba di sebuah pelabuhan yang tenang, atau justru bersiap memasuki medan perang yang baru?
Bagi banyak orang, rumah sering kali menyusut maknanya, hanya menjadi tempat singgah untuk menaruh raga yang lelah. Padahal, sejatinya rumah adalah sebuah markas energi.

Ia adalah ruang suci tempat jiwa yang patah direkatkan kembali, dan tempat energi yang terkuras diisi ulang sebelum kita kembali berjuang menaklukkan dunia luar. Itulah esensi dari keluarga yang berlimpah Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah sebuah fondasi ketenteraman yang digariskan dalam QS. Ar-Rum: 21. Allah menciptakan pasangan dan keluarga agar hati kita merasa tenteram, menjadikannya sumber kekuatan baru, bukan sumber lelah tambahan.
Namun, ketenteraman tidak jatuh dari langit. Ia adalah bangunan yang harus dipahat setiap hari melalui satu medium praktis: komunikasi asertif, sebuah seni mengungkapkan emosi dan kebutuhan diri secara jujur, tanpa harus melukai orang lain.

Baca Juga  Sudan dalam Krisis: Kegagalan Transisi Politik dan Runtuhnya Institusi Negara sebagai Pemicu Konflik

Pelabuhan di Balik Pintu: Belajar dari Bilik Nabi

Jika kita mencari cermin bagaimana komunikasi asertif mampu merajut ketenteraman ini, mari melayangkan ingatan pada sebuah bilik sederhana di Madinah belasan abad silam.
Matahari baru saja tenggelam, menyisakan semburat jingga di langit gurun. Di luar sana, beban dakwah dan urusan umat sedang berat-beratnya. Rasulullah SAW berjalan menuju rumahnya dengan pundak yang memikul amanah besar. Namun, langkah beliau tidak berat, karena beliau tahu persis apa yang menantinya di balik pintu kayu itu.

Di dalam rumah, Sayyidah Aisyah RA telah merapikan diri dan menyiapkan air minum untuk menyambut sang suami. Saat pintu terbuka, lelah yang bergelayut di wajah Rasulullah SAW disambut oleh senyuman hangat. Tidak ada tuntutan yang langsung menyerbu, tidak ada keluhan yang langsung dihamparkan. Yang ada adalah ruang aman. Rasulullah SAW kemudian berbaring, meletakkan kepala beliau yang mulia di pangkuan Aisyah. Di atas pangkuan itulah, segala penat dunia luar luruh seketika. Bilik sempit itu mendadak menjelma samudera ketenangan (Sakinah).

Baca Juga  Pembuktian Unsur Niat Dikaitkan dengan Mens Rea dalam Tindak Pidana Korupsi

Dalam keheningan yang syahdu, cinta yang aktif (Mawaddah) mengalir lewat tindakan nyata. Rasulullah SAW tidak memendam perasaannya; beliau mengungkapkannya lewat perhatian-perhatian kecil yang spesifik. Beliau memanggil Aisyah dengan sebutan manja, “Ya Humaira” (Wahai yang pipinya kemerah-merahan), dan sengaja minum di bekas bibir Aisyah pada pinggiran gelas. Sebuah cara asertif tanpa kata untuk menyampaikan: “Aku melihatmu, aku menghargaimu, dan aku mencintaimu.”

Merawat Sakinah, Merawat Mawaddah dalam Keseharian

Seni komunikasi yang dicontohkan oleht Rasulullah SAW adalah kunci agar Sakinah dan Mawaddah tidak luntur dimakan waktu. Ketenteraman batin sering kali terusik bukan karena masalah besar, melainkan karena lelah yang dipendam sendirian dan ekspektasi yang tidak pernah terucapkan.
Menjadi asertif berarti kita berani jujur seperti Rasulullah. Saat pulang dengan isi kepala yang penuh, kita tidak perlu berpura-pura kuat, tidak pula harus menumpahkan kekesalan pada pasangan. Kita hanya perlu mengatakannya dengan terbuka:

Baca Juga  Tiga Rumah di Bangka Rusak Berat Akibat Hantaman Angin Puting Beliung

“Hari ini duniaku sedang sangat padat dan aku merasa sangat lelah. Aku butuh waktu tenang sekitar 15 menit untuk menghela napas sebentar, ya. Setelah itu, aku siap menemanimu lagi.”

Kalimat sederhana ini menciptakan batas yang jelas namun lembut. Rumah menjadi tenang karena tidak ada tebak-tebakan emosi yang melelahkan.
Dari ketenangan itu, Mawaddah bisa tumbuh subur. Cinta dalam rumah tangga bukanlah rutinitas yang monoton, melainkan perhatian kecil yang terus dirawat. Sering kali kita kecewa karena merasa kurang diperhatikan, lalu memilih diam dan berharap pasangan mampu membaca pikiran kita. Komunikasi asertif membuang jauh-jauh ego tersebut. Ia menuntun kita untuk meminta dengan lembut dan spesifik: