Karya: Rusmin Sopian

Setiap lelaki bebajuk safari itu becakap, orang-orang yang ade di hekitarnya, selalu nyebet kata bebulak.

Bebulak?

Kata bebulak dak de dalam kamus besak bahasa Indonesia. Kata itu nye ade di Kampung Kami, Toboali Bangka Selatan yang berarti berbohong.

Entah ngape, julukan jiat itu dihujamkan ke arah lelaki yang memiliki jabatan itu.

Cuma, omongan yang dicakapnya selalu  berbalik arah. Dak sesuai dengan kenyataan.

Pernah pada suatu pertemuan dengan para guru sekolah menengah atas di Kampung yang dipimpinnya, lelaki yang selalu makai baju warna puteh itu dengan teges menyatakan bahwa anaknya silakan tidak diterima di sekolah menengah atas itu, bila nilainya dak memenuhi syarat.

“Ku pada ken ikak ok.  Kepala Sekolah dan guru-guru di hini untuk transparan. Tebukak dalam penerimaan pelajar. Jangan ade titip-menitip untuk masuk hekulah di hini. Utamakan yang memenuhi syarat. Dak terkecuali anak aku. Jangan diterimak kalau mimang anak aku dak memenuhi syarat,” tegasnya dengan suare keras.

Baca Juga  Duka Seorang Ibu, Tribute to Hafidzah (1)

Para guru di sekolah menengah atas itu bertepuk tangan. Bangga. Maklumlah, lah menjadi kelaziman setiap tahun ajaran baru, helalu ada yang nitip anaknya untuk bersekolah di sane. Maklumlah. Sekolah menengah atas ini masuk kategori sekolah favorit.

Dak hiran bile waktu penerimaan siswa baru, kepale hekulah dan panitia penerimaan siswa baru peneng kepale. Banyak yang nitip untuk hekulah di sane.

Padahal persyaratan para pewaris masa depan negeri yang mereka titip untuk hekulah di hane dak memenuhi standar yang telah ditetapkan Panitia penerimaan siswa baru.

Baru dalam hitungan langkah lelaki itu meninggalkan sekolah yang terletak di ujung kampung itu, seorang bawahan Lelaki tadi yang disebut oleh orang ramai dengan sebutan pak pemimpin itu, langsung ketemu ken kepala sekolah dan menyampaikan pesan khusus dari pak pemimpin tadi.

Baca Juga  Penunggu Guo Pulau Kelasa

Tentu saja pak kepsek sekolah menengah atas itu haban. Tekejut.  Jantung e nek lepas dari katup e.

“Pak pemimpin memang macem tuh nian orang e. Lain di mulut, lain kenyataannya. Dan ini surat dari beliau untuk meloloskan anaknya hekulah di hini,” kata bawahan pak pemimpin sembari memberikan selai kertas kepada pak kepsek yang ditikin pak pemimpin.

Pak kepsek cuma pacak diem bae seribu bahasa. Terpaku ningok surat sakti dari pak pemimpin.

Bukannye hekali tuh bae pak pemimpin betingkah macem tuh. Dak sinkron antara ucapan dan realita. Dak harmoni antara cakap dan tindakan.

Pernah pula pada suatu ketika, di adep warga kampung yang membanjiri kantornya, pak pemimpin itu menyampaikan omongan bahwa penerimaan pegawai di kantornya dak de titipan dan dak pakai duit pelicin.

Baca Juga  Penyesalan sang Lelaki

“Aku pada ok ken ikak semue e, bahwa penerimaan pegawai di kantor ini dak de titip-menitip. Dak pakai uang pelicin. Yang bagus nilai e yang kita terimak,” tegasnya yang disorak sorai kegembiraan oleh para warga.

“Hidup pak pemimpin. Hidup pak pemimpin,” teriak warga dengan nada gembira berbungkus kebahagiaan.

“Kalau ade bawahan aku yang mintak duit, laporkan cepet ken aku. Akan ku pecat. Ku pecat.  Ngerusek tatanan,” tegasnya lagi dengan suare keras.  Begemuroh macem suare petir di hiang ari.

Tepuk tangan dari warga kampung bergemuruh. Naket burung hantu yang tengah belindung di dedaunan pohon nangka di deket kantor tuh.