Hari Otak Sedunia: Menggugat Hak Sehat yang Menjadi Hak Istimewa
Oleh: Sobirin Malian — Dosen, Penggiat Literasi
Setiap tanggal 22 Juli, dunia bersatu memperingati Hari Otak Sedunia. Media massa akan dipenuhi infografis estetis tentang pentingnya tidur delapan jam, tips meditasi penangkal stres, hingga anjuran mengonsumsi makanan kaya Omega-3. Sekilas, kampanye ini tampak mulia. Namun, jika kita bersedia menengok keluar jendela kamar kita yang nyaman, perayaan ini menyisakan ironi yang pekat. Tahun ini, Hari Otak Sedunia mengusung tema “Brain Health: Access for All” (Kesehatan Otak: Akses untuk Semua). Sebuah tema yang sebenarnya tidak sedang merayakan pencapaian, melainkan sedang melayangkan sebuah gugatan besar. Bagaimana mungkin kita bicara tentang “akses untuk semua” ketika kesehatan otak hari ini telah bergeser menjadi komoditas mahal yang hanya bisa dinikmati kelas sosial tertentu?
Ironi Saraf di Pusaran Ketimpangan Geografis
Ilmu saraf modern berkembang sangat pesat, melahirkan teknologi pemindaian canggih hingga suplemen pemacu fokus (nootropics). Namun di saat yang sama, laporan global menunjukkan lebih dari 3,4 miliar penduduk bumi hidup dengan kondisi neurologis. Di Indonesia, ketimpangan ini terpampang nyata. Di kota besar, seseorang dengan gejala migrain kronis bisa dengan mudah mengakses dokter spesialis saraf (neurolog) dan melakukan MRI dalam hitungan hari.
Namun di pelosok daerah, jangankan menemui neurolog, fasilitas CT Scan saja sering kali menuntut perjalanan berjam-jam membelah hutan dan lautan. Berdasarkan data global, negara berkembang memiliki jumlah ahli saraf hingga 227 kali lebih sedikit per kapita dibanding negara maju. Ketika akses medis timpang, keterlambatan diagnosis hingga bertahun-tahun menjadi vonis kecacatan permanen yang tidak adil bagi masyarakat miskin.
Ketika Otak Sehat Menjadi “Privilege” Kelas Atas
Ketimpangan ini diperparah oleh gelombang komersialisasi kesehatan yang bias kelas. Industri hari ini gencar menjual narasi wellness—mulai dari aplikasi brain training, kelas yoga mahal, hingga susu formula khusus lansia demi mencegah demensia. Kampanye ini abai pada realitas struktural. Bagaimana seorang buruh pabrik yang bekerja dengan upah minimum bisa menjaga kesehatan otaknya jika makanan bergizi tidak terjangkau oleh dompetnya?

