Samudra dan Setetes Embun
Oleh: Sobirin Malian — Dosen FH UAD dan Penggiat Literasi
Ketika Setetes Embun Merasa Jadi Samudra
Manusia itu sering kali aneh. Diberi ilmu sedikit, merasa sudah paling tahu. Diberi jabatan sedikit, merasa paling berhak mengatur. Diberi kelebihan sedikit, merasa paling pantas merendahkan orang lain. Padahal kalau kita mau jujur dan melihat ke dalam diri, apa sebenarnya yang sudah kita ketahui? Paling-paling hanya setetes embun di ujung daun. Sementara ilmu Allah? Luasnya bak samudra raya yang tak bertepi.
Maka wajar jika kita sering melihat orang yang ilmunya dangkal, justru lisannya yang paling tajam. Itu terjadi karena ia belum pernah melihat luasnya samudra. Ia mengira kolam kecil tempatnya bermain selama ini adalah seluruh dunia. Ia belum tahu bahwa di luar sana ada samudra luas yang bahkan riak ombaknya pun belum pernah ia sentuh. Sebaliknya, orang yang benar-benar berilmu tinggi justru akan tampil semakin pendiam. Ia senantiasa memilih senyap bukan karena tidak bisa bicara, melainkan karena ia sadar: semakin banyak yang ia tahu, semakin luas pula cakrawala ketidaktahuannya. Ilmu yang benar akan membuatnya menunduk, pengalaman hidup membuatnya bijak, dan tempaan ujian membuat hatinya semakin lembut.
Rahasia di Balik Sepatu yang Mereka Pakai
Oleh karena itu, Saudaraku, jangan pernah cepat menilai dan menghakimi manusia. Kita tidak pernah benar-benar tahu perjuangan mereka, karena kita tidak pernah berjalan dengan sepatu yang mereka pakai. Kita tidak pernah tahu seberapa berat beban hidup yang harus mereka pikul sendirian setiap malam. Kita tidak tahu berapa kali mereka bersujud dalam gelap sambil menangis tersedu-sedu memohon ampunan-Nya, dan kita tidak tahu darah serta air mata apa yang sedang mereka sembunyikan di balik senyuman ramahnya.
Jangan pernah merasa diri kita lebih mulia dari siapa pun. Kemuliaan sejati tidak akan pernah bisa diukur dari tingginya gelar, megahnya harta, atau banyaknya pengikut di media sosial. Kemuliaan adalah rahasia langit yang hanya Allah yang tahu. Betapa banyak orang di dunia ini yang dipandang sebelah mata penampilannya sangat sederhana, pekerjaannya dianggap “biasa”, dan sekolahnya tidak tinggi namun di sisi Allah, namanya justru harum dan selalu disebut-sebut oleh para malaikat. Sebaliknya, betapa banyak orang yang di dunia dipuja-puja karena cerdas, kaya, dan terkenal, namun di hadapan Allah amalnya kosong melompong dan hatinya kotor berkarat.
Racun Mengolok dan Peringatan Langit
Kita harus sangat berhati-hati dengan sikap kita sendiri. Setiap kali kita mengolok-olok orang lain, racun itu sebenarnya pertama kali masuk dan merusak hati kita sendiri. Setiap kali kita menghina, pelan-pelan dinding iman kita terkikis habis. Dan setiap kali kita memelihara kesombongan, Allah akan menjauhkan kita dari keberkahan ilmu, mencabut ketenangan hati, dan merenggut indahnya persaudaraan.

