Oleh: Heri.S – Penulis Tetap Timelines.id

Sepanjang sejarah, peradaban manusia selalu menghadapi dua jenis kejadian. Jenis pertama adalah kejadian rutin, kejadian ini teratur dan bisa diprediksi. Polanya bisa diukur dengan data dan statistik. Contohnya: pertumbuhan jumlah penduduk tiap tahun, atau kenaikan jumlah kendaraan. Jenis kedua adalah kejadian yang tiba-tiba dan mematahkan semua pola. Kejadian ini tidak bisa diprediksi dan merusak semua perhitungan yang ada sebelumnya.  Inilah yang disebut “Angsa Hitam” atau “Black Swan” sebuah teori yang dikemukakan oleh pakar Nassim Nicholas Taleb.

Mengapa disebut “Angsa Hitam”? Karena peristiwa ini memiliki tiga ciri utama. Pertama, Sulit diprediksi. Sebelum terjadi, peristiwa ini terasa mustahil dan tidak masuk dalam perhitungan kita. Kemungkinannya sangat kecil sehingga kita cenderung mengabaikannya. Kedua, dampaknya sangat besar. Ketika terjadi, efeknya luar biasa. Peristiwa ini mampu mengubah tatanan ekonomi, sosial, bahkan politik secara fundamental. Ketiga, mudah dijelaskan setelah terjadi. Setelah peristiwa lewat, kita jadi merasa seolah-olah “seharusnya bisa diprediksi”. Padahal sebelum terjadi, tidak ada satupun yang benar-benar melihat tandanya.

Singkatnya, teori “Angsa Hitam” adalah kejadian besar yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Namun setelah terjadi, kita jadi merasa seolah-olah sudah bisa menebaknya dari awal. Teori “Angsa Hitam” dari Nassim Nicholas Taleb hadir untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa langka yang dampaknya sangat besar. Kejadian seperti ini memang tidak bisa diprediksi, tapi setelah terjadi kita selalu menganggapnya “seharusnya bisa diketahui”.

Penulis berpendapat bahwa Indonesia sangat rawan terhadap “Angsa Hitam”. Sebagai negara kepulauan dengan berbagai kerentanan di bidang bencana, ekonomi, dan politik, satu kejadian tak terduga saja bisa mengguncang seluruh sistem. Dari pembahasan soal bencana, ekonomi, dan politik-teknologi, jelas terlihat, cara lama kita menghadapi masalah sudah tidak pas lagi. Cara lama itu cuma mengandalkan ramalan dan menghemat sampai tidak ada cadangan.

Solusinya, Indonesia harus ganti cara pikir. Kita perlu membangun sistem “Antifragile” yaitu sistem yang justru makin kuat saat kena guncangan. Caranya ada yaitu: pertama, punya cadangan dan potensi ketahanan nasional di mana-mana. Kedua, jangan dipusatkan semua, beri kewenangan ke daerah. Ketiga, latih masyarakat agar cepat menyesuaikan diri. Kalau kita tidak berubah sekarang, maka kita akan terus kerepotan, keluar uang banyak, dan rusak setiap kali ada krisis.

Paradoks Indonesia hari ini terletak pada obsesi terhadap perencanaan berbasis data historis di tengah realitas geografis dan geopolitik yang inheren tidak pasti. Kita memiliki peta risiko banjir, peta risiko kebakaran hutan tetapi tidak memiliki skenario untuk runtuhnya rantai pasok global. Kita memiliki SOP pemilu, tetapi tidak memiliki protokol menghadapi disinformasi berbasis kecerdasan buatan generatif.

Tulisan ini hendak menegaskan bahwa ancaman terbesar bagi ketahanan nasional bukanlah risiko yang telah teridentifikasi, melainkan risiko yang belum terimajinasikan. Manajemen risiko konvensional beroperasi pada logika distribusi Gaussian, ia mengukur frekuensi dan dampak berdasarkan data masa lalu. Logika ini gagal total di hadapan teori “ Angsa Hitam” karena tiga alasan epistemologis yaitu pertama, masalah induksi. Bahwa 10.000 angsa yang diamati berwarna putih tidak membuktikan proposisi “semua angsa putih”. Satu angsa hitam cukup untuk memfalsifikasi.

Demikian pula, 20 tahun pertumbuhan ekonomi 5% tidak menjamin tahun ke-21 bebas krisis. Kedua, asimetri dampak. “Angsa Hitam” memiliki distribusi “ekor gemuk” fat tail. Kerugiannya tidak linier, melainkan eksponensial. Satu pandemi sangat mungkin dapat menghapus PDB 10 tahun. Ketiga, bias naratif yaitu pikiran manusia cenderung membuat cerita sebab-akibat setelah suatu peristiwa terjadi.