Istidraj: ke-Bahagia-an Semu, Padahal Langit Sedang Murka
Oleh: Sobirin Malian — Dosen Penggiat Literasi
Pernahkah kita merasa heran melihat seseorang yang hidupnya tampak begitu sempurna? Urusan dunianya selalu lancar, bisnisnya melejit, hartanya melimpah, dan setiap keinginannya selalu terpenuhi. Padahal di sisi lain, ia begitu jauh dari sujud, mengabaikan syariat, dan terang-terangan hidup dalam kemaksiatan.
Melihat fenomena itu, mayoritas manusia mungkin akan berkata, “Lihatlah, dia begitu bahagia.” Namun, jika kita melangkah hanya bermodalkan pandangan manusia, kita akan tersesat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengingatkan dalam Surah Al-An’am ayat 116 bahwa jika kita menuruti kebanyakan orang di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkan kita dari jalan-Nya. Mengapa? Karena tolok ukur kebahagiaan mereka sering kali semu, hanya bersandar pada kesenangan lahiriah tanpa landasan agama.
Ada sebuah rahasia ilahi yang sangat mengerikan di balik fenomena ini. Sebuah kondisi yang wajib kita waspadai bersama: Istidraj.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjabarkannya dengan sangat lugas dalam sebuah hadits:
“Bila engkau melihat Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka sesungguhnya itu adalah istidraj.” (HR. Ahmad)
Istidraj adalah bentuk pembiaran. Ketika seorang hamba berpaling, Allah tidak lagi menegurnya dengan ujian atau kesempitan. Sebaliknya, Allah bentangkan dunia selebar-lebarnya. Allah biarkan ia merasa aman dari ancaman akhirat. Allah mudahkan maksiatnya, Allah penuhi kebutuhannya, dan Allah tutup rapat-rapat aibnya di mata manusia. Ia merasa sedang disayang oleh takdir, padahal sejatinya, ia sedang dituntun perlahan menuju tepi jurang kebinasaan.

