Oleh: Sang Peramu Aksara

Alam sudah menyaksi.
Angin dipaksa mendinginkan sangsi,
Awal dan akhir adalah pasti.
Apakah kecurangan ini tradisi,
Ataukah memang sejak dini ahli mencuri?

Berderet caci melengkapi maki.
Bualan dan janji melaju tanpa henti,
Bermodal rayu dan narasi basi,
Berhasil menyihir, manusia tanpa isi.
Betapa miris seisi negeri,
Berderai tangis tertahan di ulu hati.

Cintamu itu topeng, kan?
Celoteh ini bohong, bukan?
Canda tawa kalian menyakitkan!
Cuci harta, amankan semua urusan.
Cukupkan, jangan terlalu kau tampakkan:
Culas dan curang bagai camilan.

Dirundung malang tak berkesudahan,
Deretan keji kau jadikan kebanggaan.
Duduk bersimpuh bagai tawanan,
Dalam lumbung, tapi kelaparan.
Dunia bertanya terheran-heran,
Di mana letak keadilan?