Menunggu Hujan, Menunggu Ampunan
Oleh: Rapi, S.Pd. – Plt. Kepala SD Negeri 4 Lepar
Ada saat ketika manusia akhirnya menyadari bahwa dirinya tidak berdaya. Sumur mengering, sungai menyusut, tanah merekah, pepohonan mulai kehilangan kesegarannya. Petani memandang ladang dengan kecemasan, sementara masyarakat mulai menghitung persediaan air dari hari ke hari. Dalam keadaan seperti itu, manusia kembali menengadah ke langit.
Salat Istisqa dilaksanakan. Kita berkumpul di tanah lapang, menundukkan kepala, mengangkat tangan, lalu memohon kepada Allah SWT agar hujan segera diturunkan sebagai rahmat bagi kehidupan.
Namun setelah salat Istisqa dilakukan, hujan belum juga turun. Langit masih menyimpan cerahnya. Matahari masih terasa menyengat. Tanah tetap kering. Di banyak tempat, kekeringan bahkan semakin dirasakan oleh masyarakat. Lalu muncul pertanyaan yang mungkin tidak terucapkan: mengapa hujan belum juga datang, padahal kita sudah berdoa?
Pertanyaan itu semestinya tidak membuat kita berhenti berharap. Justru mungkin menjadi kesempatan untuk memahami kembali makna doa dan Istisqa.
Salat Istisqa bukanlah transaksi antara manusia dan Tuhan. Kita tidak sedang meminta kepada Allah dengan syarat bahwa setelah doa selesai, hujan harus segera turun.
Istisqa adalah pengakuan seorang hamba atas keterbatasan dirinya. Kita mengakui bahwa manusia memiliki kemampuan yang terbatas, sementara Allah adalah pemilik langit dan bumi serta segala yang ada di dalamnya.
Al-Qur’an memberikan pelajaran yang sangat dalam tentang hubungan antara istighfar dan turunnya hujan.
Dalam QS. Nuh ayat 10-11, Nabi Nuh AS berkata kepada kaumnya, ” Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepadamu.”
Ayat ini menarik untuk direnungkan. Ketika berbicara tentang hujan, Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan manusia untuk meminta, tetapi juga mengajarkan manusia untuk memohon ampun.
Maka, ketika hujan belum turun setelah Istisqa, barangkali yang perlu kita lakukan bukan mempertanyakan mengapa doa belum dijawab, melainkan memperbanyak istighfar dan melakukan muhasabah. Sudah sejauh mana kita memperbaiki hubungan dengan Allah? Sudahkah kita memperbanyak sedekah? Sudahkah kita memperbaiki hubungan dengan sesama? Sudahkah kita meninggalkan kebiasaan yang merugikan orang lain? Atau jangan-jangan selama ini kita terlalu banyak meminta, tetapi terlalu sedikit memohon ampun?

