Oleh: Ahmad Gusairi — Pengajar di SMAN 1 Toboali, Bangka Selatan

Kemarau bukan sekadar musim ketika matahari terasa lebih terik, tanah merekah, dan pepohonan kehilangan kesegarannya. Di balik langit yang lama tidak menurunkan hujan, tersimpan persoalan yang lebih mendasar: krisis air, risiko kebakaran lebih tinggi, kabut asam menjadi fenomena, ada kerentanan kehidupan masyarakat, dan tanggung jawab manusia dalam menjaga keseimbangan alam. Ketika kemarau berlangsung panjang, manusia tidak hanya diuji oleh keadaan alam, tetapi juga oleh kemampuan untuk bertahan, berbagi, dan memperbaiki cara memperlakukan bumi.

Persoalan ini semakin penting ketika Indonesia menghadapi pengaruh El Nino pada 2026. Berdasarkan siaran pers Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tanggal 22 September 2026, indeks Niño 3.4 pada akhir Agustus tercatat sebesar +2,83, sedangkan indeks ENSO periode Juli–September mencapai +2,63. BMKG mengategorikan kondisi tersebut sebagai El Nino sangat kuat. Pada saat yang sama, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif berpotensi memperkuat kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia.

BMKG juga mencatat bahwa 556 Zona Musim, yang mencakup sekitar 61,91 persen luas daratan Indonesia, masih mengalami musim kemarau dalam pemantauan yang disampaikan pada September 2026. Bahkan, sejumlah wilayah mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari. BMKG memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 di 529 Zona Musim atau sekitar 61,08 persen luas daratan Indonesia akan mengalami kemunduran dibandingkan rata-rata klimatologisnya.

Angka-angka tersebut bukan sekadar catatan meteorologis. Di baliknya ada petani yang menunggu hujan, keluarga yang mengkhawatirkan persediaan air, serta masyarakat yang harus menyesuaikan kehidupan dengan keterbatasan sumber daya. Kemarau panjang mengingatkan kita bahwa air bukanlah sumber daya yang boleh digunakan tanpa perhitungan.

El Nino dan Ancaman Krisis Air

El Nino merupakan fenomena iklim yang ditandai oleh pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Fenomena ini memengaruhi sirkulasi atmosfer dan pola hujan di berbagai wilayah dunia. Di Indonesia, El Nino sering berkaitan dengan berkurangnya curah hujan dan meningkatnya risiko kekeringan. Namun, dampaknya tidak selalu sama di setiap daerah karena dipengaruhi pula oleh kondisi atmosfer, karakteristik wilayah, dan waktu terjadinya musim.

Ketika curah hujan berkurang dalam waktu lama, dampaknya merambat ke berbagai sektor. Pertanian menghadapi keterbatasan air irigasi, peternakan membutuhkan pasokan air tambahan, dan rumah tangga harus mengatur pemakaian air secara lebih cermat. Kekeringan juga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah yang memiliki vegetasi kering dan rentan terbakar.

Karena itu, kekeringan tidak cukup dipahami sebagai persoalan cuaca. Ia juga berkaitan dengan kesiapan infrastruktur, tata kelola sumber daya air, perubahan tutupan lahan, dan pemerataan akses air bersih. Kita perlu bertanya bukan hanya kapan hujan turun, melainkan juga sejauh mana masyarakat dan pemerintah telah mempersiapkan diri menghadapi kekurangan air.

Membaca Kemarau melalui Sains dan Iman

Sains membantu manusia mengenali penyebab, memperkirakan risiko, dan menyusun langkah antisipasi. Informasi BMKG mengenai prakiraan musim, curah hujan, dan hari tanpa hujan dapat menjadi dasar untuk menentukan masa tanam, mengelola cadangan air, serta mengantisipasi dampak kekeringan.

Sementara itu, iman memberikan landasan moral dan spiritual dalam menghadapi keadaan yang tidak selalu dapat dikendalikan manusia. Dalam Islam, alam merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Pergantian musim dan ketergantungan kehidupan pada air mengingatkan manusia akan keterbatasan dirinya.

Allah SWT berfirman dalam QS. Az-Zumar ayat 21 bahwa Dia menurunkan air dari langit, mengalirkannya menjadi sumber-sumber air di bumi, kemudian menumbuhkan tanaman yang beragam sebelum akhirnya mengering. Ayat tersebut mengajak manusia merenungkan siklus kehidupan dan mengambil pelajaran dari perubahan alam.

Kesadaran spiritual tidak berarti kita boleh mengabaikan penjelasan ilmiah. Sebaliknya, memahami fenomena alam melalui ilmu pengetahuan merupakan bagian penting dari ikhtiar manusia. Kita juga perlu berhati-hati agar tidak menyimpulkan bahwa setiap kekeringan pasti merupakan hukuman Allah akibat dosa manusia. Kemarau memiliki sebab-sebab klimatologis yang dapat diteliti, sedangkan sikap beriman mengajarkan kita untuk melakukan introspeksi tanpa menghakimi orang lain.

Istighfar, Doa, dan Ikhtiar

Al-Qur’an menghubungkan istighfar dengan harapan akan turunnya hujan. Dalam QS. Nuh ayat 10–11, Nabi Nuh AS menyeru kaumnya agar memohon ampun kepada Allah karena Dia Maha Pengampun dan akan menurunkan hujan yang lebat kepada mereka.

Pesan tersebut mengingatkan umat Islam untuk memperbanyak istighfar dan memperbaiki diri ketika menghadapi kesulitan. Namun, doa bukan transaksi yang mengharuskan hujan turun seketika setelah permohonan disampaikan. Ketika hujan belum turun setelah salat Istisqa, kita tidak perlu berputus asa atau menganggap doa sebagai sesuatu yang sia-sia.