Oleh: Maria Sareng Putri

“Belum hebat, cucu-cucu saya di sini bisa lebih dari itu. Kalau cuma segitu, enggak usah kasih tahu.” Hari itu, pukul 10.00 WIB, pagi yang cerah bagi cucu perempuan karena sudah mendapat telepon dari sang superhero, setelah menghabiskan banyak tenaga untuk berjuang menjadi yang terbaik. Matahari di luar terasa panas, tetapi hati dan mata jauh lebih panas. Pagi berubah menjadi mendung tanpa awan kelabu. Berat rasanya menerima tutur kata pelik dari orang tercinta, si pemberi banyak kisah menarik dulu kala.

Tetapi sejak hari itu, aku, Ala, yang biasanya santai untuk setiap proses perjalanan ini, mendadak menjadi begitu gencar dan menggebu-gebu.

Aku begitu gencar mengejar gelar itu. Terkadang bulir bening juga turut hadir menemani untuk sekadar pengingat, “Kamu boleh capek,” atau sekadar memberi alarm kalau aku terlalu keras terhadap hidupku sendiri. Kadang aku juga menyalahkan ucapanmu, “Mengapa kamu sekeras itu padaku? Bukankah untuk sekadar bertemu kamu harus berjuang dengan keras? Bukankah aku cucu perempuanmu?”

Ditemani rasa tidak suka yang mendadak tumbuh dan membuatku sekilas melupakan kamu, aku membuktikan bahwa aku bisa. Di penghujung masa di mana aku hampir kehilangan harapan dan didapat dengan rasa benci yang mengiringi, begitu berhasil, rasanya begitu bangga. Pencapaian yang dianggap sebagian orang kecil, seolah menjadi penentu “harga diri dibayar lunas”. Rasanya aku tidak hanya ingin Opa tahu, tetapi dunia juga.