Seporsi Kemenangan Dibalut Kaca
Berjalannya waktu, aku mulai sedikit mengerti itu bentuk cinta. Namun, gengsi mengalahkan segalanya, sebab luka masih berbekas. Kala itu ketika aku berhasil memberikan suatu hal kepadamu, rasanya itu sekadar untuk memberi makan egoku.
Entah kenapa, hari itu di kala senyum menghiasi sepanjang hari, di kala rasa percaya diri dan bangga menguasai, di saat aku ingin berkata, “Opa, akan Ala tunjukkan versi yang Opa harapkan. Akan Ala buktikan bagaimana kerasnya cucu perempuanmu berjuang.” Hari itu, semuanya seolah begitu cepat. Rasanya masih terlalu dini untuk kehilangan kesekian kali, berat rasanya. Tetapi, begitulah cara dunia bekerja, begitulah hidup.
Luka itu menghilang di kala raga tak lagi bersama, ketika jarak tak mampu diukur lagi. Tersisa penyesalan dan harapan hampa, “Bisakah Opa menunggu sedikit lebih lama?” Namun kini, di saat bertemu hanya dapat melihat gundukan tanah, aku mengerti bahwa ucapanmu yang tajam adalah caramu menunjukkan cinta.
Kepergianmu meninggalkan luka tak berujung, penyesalan, dan harapan yang tak dapat diucap. Tuhan mengaturnya dengan begitu sempurna. Opa seakan mengetahui Ala sudah berada di titik yang dimau. Opa seolah menahannya begitu lama, menunggu waktu yang tepat di mana Ala sudah mengerti bahasa cintamu, menunggu pada masa di mana aku terluka dengan kepergianmu. Aku bahkan tidak menyangka perpisahan ini tepat pada saat aku berhasil melewati paku-paku tajam untuk melanjutkan hidup setelah merelakan mimpi kecil itu.
Seporsi kemenangan yang dibalut kaca tajam, meninggalkan luka tak berujung. Aku bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih. Terima kasih untuk pengorbanan dan cinta yang begitu hebat, dan maaf untuk setiap luka yang tergores. Beristirahatlah dalam damai, cintanya kami.

