Karya: Rafly Scout

“TEKLETEKLETEKLETEK….” itu suara yang kudengar sepanjang bulan Desember ini selain suara hujan yang seringkali mampir di kampung ini.

Suara itu berasal dari mainan yang sedang naik daun saat ini. Namanya katto-katto atau bahasa Inggris-nya clackers.

Ada juga yang menyebutnya latto-latto atau kletek-kletekan. Mainan ini berupa dua bola plastik seukuran bola pingpong yang digantung di seutas tali, lalu diseimbangkan.

Cara memainkannya cukup mengayunkan tangan agar dua bola itu saling berbenturan sehingga bisa mengeluarkan suara ‘kletek-kletek’.

Sebenarnya, ini bukan mainan baru. Mainan ini sudah ada sejak tahun 80 atau 90-an di Indonesia.

Bahkan, di negara asalnya yaitu Negeri Paman Sam sudah ada 20 tahun sebelumnya alias tahun 60-an.

Baca Juga  Aku Mencarimu

Namun mainan ini baru viral belakangan ini karena cara mainnya yang membutuhkan skill.

Tak heran jika benda satu ini mudah ditemui di setiap penjual mainan saat ini.

Karena banyak anak-anak yang penasaran dengan cara mainnya itu.

Namun, jika berurusan dengan benda ini disarankan menjaga jarak dengan wajah ataupun kaca. Karena jika tidak, maka jidat kita atau kaca jendela menjadi sasaran empuk mainan satu ini. Oleh karena itu, membeli mainan ini untuk anak dibawah usia 5 tahun sangat tidak disarankan.

Seperti cerita kami pada episode hari ini saat aku baru saja pulang dari pasar untuk membeli latto-latto karena aku penasaran dengan mainan satu ini.

Baca Juga  Mentari Redup

Aku menyisir wilayah gang yang aku lalui, takut-takut ada si nyonya besar—alias ayam Bu Hanifah—lagi ngelonin anak-anaknya cari makan di gang ini.

Bisa-bisa terjadi lagi Si Bolang vs ayam tetangga jilid 2. Aman! Eh iya, bukannya ayam itu sudah dikurung sama Bu Hanifah setelah diancam mau dijadikan opor kalau masih suka mengejar orang?

Bisa berlenggak-lenggok dengan aman di gang ini. Elah, gaya amat lu, Lang! Tujuanku sekarang adalah rumah Bu Aminah karena rumah beliau seringkali menjadi tempat para ibu di gang ini ngerumpi cantik.

Kebetulan, teras rumah Bu Aminah sedang ramai. Jadi mampir saja sekalian.

Toh, semua pekerjaan rumah sudah selesai semua, jadi bisa ngerumpi lanjut ngebolang.

Baca Juga  Dicegat Tuyul

“Eh, Bolang. Darimana nak?” tanya Bu Aminah membuka percakapan begitu aku duduk di bangku teras. “Dari pasar, Bu. Beli ini” jawabku sambil menunjukkan mainan latto-latto yang kubeli di pasar.

“Ya ampun, Lang. Udah gede masih beli ginian” ucap Bu Elvi sambil tertawa. “Namanya juga hobi, Bu. Yang penting kebutuhan rumah udah ada.

Saya juga udah lama gak main ini” jawabku sambil mengayunkan pelan mainan itu. “Hati-hati aja kalo main ginian. Kalo kena jidat, rasanya seperti anda menjadi Ironman” Bu Aminah berkelakar.

Beliau memang suka berkelakar saat kami ngerumpi sehingga topik pembicaraan tidak kaku.