Karya: Khoiriah Apriza

CERPEN, TIMELINES.ID — Seorang lelaki berjas hitam dengan kemeja putih berjalan memasuki pintu Sweet Bakery Cafe.

Ia mengedarkan pandangannya seperti mencari seseorang. Ketika tatapan matanya melihat seorang perempuan yang sedang melayani pelanggan, lelaki itu menyunggingkan senyumannya.

Perempuan yang diamatinya tadi seolah sadar jika ada yang memperhatikannya sejak tadi.

Ia menolehkan kepalanya ke belakang, terlihat seorang lelaki yang berjalan ke arahnya sambil menyembunyikan sesuatu di balik tubuhnya.

Nasywa tersenyum sambil berjalan mendekati lelaki tersebut.

“Selamat pagi Nasywa,” lelaki tersebut memberikan buket bunga lili putih kepada Nasywa.

Nasywa menerimanya sambil tersenyum. Terlihat beberapa pelanggan menggoda mereka berdua.

“Pacaran terus, nikah kaga,” celetuk seorang kasir yang kebetulan sahabat Nasywa.

“Nanti malam kita tunangan Fa. Jangan lupa datang. Lagian jangan ngurusin hidup orang, situ aja masih jomblo,” ejek Reza sambil duduk di kursi dekat jendela.

“Jomblo-jomblo gini banyak yang melamar ya,” ujar Eva sombong.

“Palingan juga Basri anaknya pak RT,” tuding Reza.

“Emang kenapa kalau Basri? Lagian berduit, enggak kayak Lo,” cibir Eva.

“Udah, kok malah berantem sih. Enggak enak dilihat pelanggan tau. A’a mau pesan apa?” lerai Nasywa.

Baca Juga  Bidadari Dunia (1)

“Kayak biasanya. Kopi tanpa gula dan Tartine Bakery,” jawab Reza.

Nasywa menganggukkan kepala sambil mencatat pesanan Reza. Ia berjalan menuju dapur untuk memberitahukan pesanan kepada chef.

Setelah beberapa menit, Nasywa keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi Croissant, Roti kacang merah, Glabassier, kopi hitam dan Coklat hangat.

Ia berjalan menuju pelanggan yang duduk di dekat Reza. Ia meletakkan pesanan dengan hati-hati.

“Selamat menikmati,” ujar Nasywa sambil tersenyum. Ia berjalan kembali menuju ke dapur.

Ia keluar dari dapur sambil membawa pesanan Reza, kopi hitam tanpa gula dan Tartine Bakery.

“Selamat menikmati Tuan Reza yang terhormat,” Nasywa duduk di hadapan Reza.

“Terima kasih Nona Nasywa,” Reza segera mengambil alih kopi dan segera menyeruputnya.

“Suka banget minum kopi tanpa gula, pahit tau,” ujar Nasywa memandang Reza.

“Jadi manis kalau minumnya sambil lihat kamu,” ujar Reza sambil terkekeh.

“Bisa aja Masnya,” Nasywa pun tertawa pelan.

“Oh ya, Nanti malam acara tunangan kita habis Isya ya,” ujar Reza. Ia meletakkan kopinya dan segera memakan Tartine Bakery.

Haniyya menganggukkan kepalanya, “Oke Aku tunggu. Kemarin aku juga udah bilang sama Ayah. Katanya enggak sabar ketemu calon menantu.”

Baca Juga  Jeruk Serbaguna

“Jadi deg-degan deh mau ketemu calon mertua, Ayah kamu galak enggak ya? Kira-kira masih galak anaknya apa Ayahnya?” gurau Reza.

“Ayah itu baik tau, cuma sedikit galak aja. Tapi, Kayaknya lebih galak anaknya,” ujar Nasywa terkekeh kecil.

“Haha, kalau anaknya gampang dijinakkan sama pawangnya,” ucap Reza.

“Emang siapa pawangnya?” tanya Nasywa.

“A’a lah,” jawab Reza sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Haha, Siap deh A’a Pawang,” Nasywa melirik kearah pintu masuk ketika lonceng berbunyi karena ada yang membuka pintu.

Terlihat ada seorang perempuan yang datang bersama anak perempuannya. Mereka merupakan pelanggan tetap di Sweet Bakery Cafe.

Nasywa merupakan pemilik dari Sweet Bakery Cafe. Tetapi, ia juga ikut turun tangan untuk membantu melayani para pembeli yang datang.

“Hallo kakak Nana,” sapa anak perempuan itu sambil mendekat ke Nasywa dan Reza.

“Halo juga sayang,” Nasywa mendekat dan memeluk Khansa yang baru berusia sepuluh tahun.

“Khansa mau makan apa?” tanya Haniyya.

“Mau makan donat dan susu coklat Kak,” jawab Khansa antusias.

Ibunya Khansa mengelus rambut anaknya, “Kakak pesan pancake oatmeal pisangnya satu, Soupe a I’oignon dua, terus minumnya coklat hangat. Terus, dicatat pesanan Khansa ya Wa.”

Baca Juga  Walisongo

“Oke Kak, Tunggu sebentar ya Kak,” Nasywa mencatat pesanannya.

“Aku pergi dulu ya A,” pamit Nasywa dibalas anggukan kepala oleh Reza.

“Mari kak, Aku tunjukkan mejanya,” ajak Nasywa.

“Mari Reza, Kita duluan,” pamit Ulva, Ibu Khansa.

“Iya Kak, Silahkan,” ujar Reza sambil tersenyum.

*

Suasana malam ini nampak sejuk.

Terlihat Nasywa yang sudah nampak anggun menggunakan kebaya brokat berwarna Sage dengan paduan hijab persegi berwana senada.

Ia nampak duduk di lantai yang sudah beralaskan tikar. Rumahnya kini nampak cantik karena terdapat dekorasi pertunangannya.

Terdapat bunga-bunga indah tersusun dengan rapi. Di Setiap sudut ruangan, terdapat pot bunga dan lampu-lampu yang mempercantik ruangan yang dominan berwana krem ini.

“Mobil calonnya Nasywa sudah datang,” ujar Oma Salwa kepada semua orang.

Di dalam ruangan, Terdapat hampir seluruh keluarga besar Nasywa.

Hanya ada beberapa tetangga dekatnya yang juga datang.

Para keluarga keluar menyambut kedatangan calon suaminya Nasywa.

“Assalamualaikum,” salam Andi, Ayah dari Reza. Di belakangnya disusul oleh Reza, serta keluarganya yang membawa hantaran.