“Waalaikumussalam. Masya Allah, Mari masuk,” jawab Dhanu mempersilakan keluarga Reza memasuki rumah.

Keluarga Reza meletakkan hantaran di samping dekorasi pertunangan.

Kemudian, Reza duduk di hadapan Nasywa disusul keluarganya yang juga duduk di dekatnya.

“Selamat datang di rumahnya Nasywa Za. Belum pernah ke sini kan?” ujar Dhanu.

“Terima kasih Om. Iya Om, belum pernah ke sini, baru pertama kali itu aja langsung tunangan,” gurau Reza dibalas tawaan dari para keluarga.

“Tante Nindi dimana Om?” tanya Nasywa, Nindi adalah Ibunya Reza.

“Loh iya Za, dimana Mamamu?” tanya Andi kepada Reza.

“Kayaknya masih di mobil, ngambil cincin pertunangan,” jawab Reza.

Tak lama dari itu, Seorang perempuan paruh baya dan dua orang perempuan memasuki rumah sambil membawa kotak yang berisi cincin pertunangan dan hantaran.

“Assalamualaikum, maaf terlambat. Tadi cari cincinnya hilang didalam mobil,” ujar perempuan tersebut, Dialah Nindi.

“Waalaikumussalam, Tidak Apa-apa,” ucapan Dhanu berhenti. Ia langsung berdiri sambil memandang kearah Nindi dengan wajah terkejut.

Nindi juga memandang Dhanu dengan wajah terkejutnya. Keluarga Nasywa juga berdiri, mereka memasang wajah kagetnya.

“Ada apa ini? Kenapa semuanya berdiri?” tanya Andi heran.

“Nindi?” tanya Oma Salwa. Ia berjalan menuju kerah Nindi yang berada didepan pintu.

Oma Salwa memeluknya erat sambil menangis, “Anakku Nindi.  Kemana saja kamu selama ini?”

“Maafkan Nindi Ma. Maafkan Nindi yang kabur tanpa berpamitan,” ujar Nindi membalas pelukan Oma. Saat itu juga, Matanya bertatapan dengan Dhanu yang mendekatinya.

Baca Juga  Retorik

“Ada apa Ayah?” tanya Nasywa heran, Ia berjalan mendekati ayahnya.

Nindi melepaskan pelukan Oma, ia memandangi wajah Nasywa dengan raut terkejut. Dengan perlahan, ia memeluk Nasywa dengan erat.

“Kenapa selama ini aku tidak pernah sadar Ya Allah,” tangisan Nindi pecah. Tanpa sadar, ia melepaskan kotak perhiasan dan kedua cincin pertunangan pun terjatuh menggelinding.

Nasywa membalas pelukan Nindi dengan heran. Reza berjalan menuju mereka. Ia mengambil kedua cincin yang terjatuh.

“Ini semua ada apa Ma?” tanya Reza mendekat.

“Pertunangan ini batal,” putus Dhanu tiba-tiba yang membuat semuanya terkejut.

Nasywa melepaskan pelukan. Ia memandang terkejut kearah ayahnya.

“Apa maksud perkataan Ayah?” tanya Nasywa dengan bergetar.

“Kalian adalah adik kakak. Jadi kalian tidak boleh menikah,” celetuk Oma Salwa dengan tangisannya.

Tubuh Nindi terjatuh ke lantai. Andi langsung mendekati Istrinya dan memeluknya.

Reza menjatuhkan kedua cincin yang ada digenggamnya. Sedangkan Nasywa, Memandang wajah ayahnya dengan raut penuh tanya.

Kondisi ruangan itu begitu mencekam. Hanya ada suara tangis Nindi dan Oma Salwa.

Para keluarga Nasywa nampak menunduk menangis dalam diam.

Sedangkan keluarga Reza nampak heran dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.

Dhanu mengeluarkan dompet dari celananya. Ia membuka dan mengeluarkan sebuah foto.

Di sana, terdapat foto Dhanu yang menggendong anak laki-laki, sedangkan di sampingnya ada Nindi yang sedang menggendong bayi perempuan.  Dhanu menyerahkan foto itu ke Nasywa dan Reza.

Baca Juga  Dua Arah Satu Waktu

“Itu foto kita berempat,” ujar Dhanu dengan mata yang memerah menahan tangis.

“Reza, Mama pernah bilang kalau kamu punya adik perempuan yang dibawa ayah kandung kamu. Dan itu ternyata adalah Nasywa,” tambah Nindi sambil menangis. Andi menenangkan Nindi sambil mengelus pundaknya.

Nasywa dan Reza langsung saling berpandangan. Nasywa menangis sambil menggelengkan kepalanya.

Reza langsung memeluk Nasywa erat. Tanpa sadar airmata menetes membasahi pipinya.

“Ini semua enggak mungkin kan? Kita bukan adik kakak kan?” Nasywa menangis sambil memukuli dada Reza pelan.

Reza hanya diam sambil menangis. Ia mengelus kepala Nasywa yang berbalut dengan hijab.

“Kenapa kamu enggak tau kalau Nasywa itu anak kamu? Kamu kan pernah bertemu dengan Nasywa Nin,” tanya Andi kepada istrinya.

“Aku berpisah bertahun-tahun dengannya Mas. Aku terakhir kali bertemu dengan Nasywa saat di pengadilan aku dengan Mas Dhanu. Setelah itu, kami tidak pernah bertemu,” terang Nindi.

“Tapi bisa ajakan, kalau Nasywa bukan anak kamu?” sanggah Andi.

“Aku tidak pernah berpisah dengan Nasywa. Jadi, sudah jelas Nasywa adalah anak Nindi,” celetuk Dhanu.

“Aku juga tidak pernah berpisah dengan Reza Mas. Sudah pasti, Nasywa dan Reza adik kakak,” ujar Nindi.

“Kita tes DNA ya A’a. Aku yakin kita bukan adik kakak,” ujar Nasywa penuh harap.

Baca Juga  Kepala Sekolahku (bagian 2)

Reza menggelengkan kepalanya dengan mata yang memerah karena menangis.

“Kamu enggak mau A? Kamu mau kita berpisah? Kamu mau kisah kita berakhir sampai di sini?” teriak Nasywa dengan tangisannya.

“Dengerin A’a dulu. Sudah ada banyak bukti di hadapan kita. Mau tes DNA sekalipun, kita sudah tau jawabannya. Bukannya A’a mau kisah kita berakhir, cuma takdir yang membuat kita berakhir,” jelas Reza. Ia hendak memeluk Nasywa namun Nasywa menghindari.

“Kan kita belum coba, kita coba dulu,” kekeh Nasywa.

“Semuanya sudah jelas Wa! Aku kakak kamu dan kamu adikku. Mau bagaimana pun caranya, kita tidak akan bisa menikah,” tegas Reza.

Reza mendekati Nasywa kemudian memeluknya. “Mungkin kisah kita telah berakhir menjadi seorang kekasih yang saling mencintai. Tetapi, kisah kita baru dimulai sebagai adik dan kakak. Kita masih bisa saling menyayangi,” ungkap Reza sambil menangis.

“Ini enggak adil A, ini enggak adil buat kita,” lirih Nasywa menangis sambil membalas pelukan Reza.

Kondisi ruangan saat ini penuh dengan tangisan. Mereka seolah ikut terluka sama seperti yang dirasakan Nasywa dan Reza.

“Kenapa ya Allah? Kenapa Nasywa dan Reza harus merasakan luka ini?” lirih Eva menangis sambil melihat Nasywa dan Reza yang berpelukan untuk saling menguatkan.

Selesai.

Khoiriah Apriza, Siswa SMAN 1 Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, sudah menulis beberapa buku antologi cerpen serta buku kumpulan cerpen Ayah Aku Rindu.