Lato-lato Makan Korban
“Tumben, ayamnya Bu Hanifah gak nongol berapa hari ini. Kemana ya? Biasanya, sering heboh kalo ngejar orang” ucap Bu Tijah.
“Udah saya sandera, Bu Tijah. Saya takut ayam saya makan korban lebih banyak lagi. Terus saya ancam kalo masih nguber orang, saya mau jadiin dia opor” jawab Bu Hanifah.
“Saya minta maaf ya sama siapa aja yang jadi korban sasaran ayam saya” “Gak papa kok, Bu Hanifah. Namanya juga induk sayang anak. Demi anak-anaknya aman dan selamat, sampe nguber orang. Nanti kalo anak-anak ayam Bu Hanifah udah mulai besar, nanti Bu Hanifah bisa lepasin lagi kok” jelas Bu Aminah memaklumi.
Tiba-tiba sesi talkshow kami terhenti begitu mendengar suara tangisan bocah balita. Aku segera menuju halaman rumah Bu Aminah yang juga sering dipakai anak-anak bermain mengingat ukurannya cukup luas.
Namun, halaman ini agak sepi di siang hari karena mayoritas anak-anak di gang ini pergi TPA. Hanya satu dua orang yang tampak batang hidungnya. Tempat ini baru ramai diatas jam 4 sore setelah mereka kembali dari TPA.
Aku mendapati sesosok bocah laki-laki berusia 2 tahun menangis histeris sambil memegang jidatnya. Dia adalah Rizki, anak Mbak Vita—tetangga sebelah rumah Bu Aminah.
“Ya Allah, Rizki. Kenapa sayang?” tanyaku sambil sesekali menyeka mata Rizki yang sembab lalu menyingkirkan tangan mungilnya yang menutup jidatnya. Alangkah terkejutnya aku begitu melihat jidat Rizki benjol dan lebam.
“Jidatnya kenapa? Siapa yang gangguin Rizki?” tanyaku namun balita itu malah menunjuk Samsul, abangnya yang sedang memegang latto-latto sementara tangan sebelahnya memegang sebuah tas tenteng berukuran kecil. Bocah itu tampaknya bersiap berangkat ke TPA.
“Maaf, Bang Bolang. Aku kurang hati-hati main latto-latto. Jadinya, kena jidat adek aku” ucap Samsul memelas. “Sul, lain kali kalo main itu hati-hati. Kena jidat bisa benjol loh! Itu kan bolanya keras” aku menasehati Samsul agar berhati-hati main latto-latto.
“Iya, Bang. Sekali lagi, Samsul minta maaf” Samsul justru meminta maaf padaku.
Mungkin karena dia takut dimarahi ibunya karena sudah membuat adiknya menangis. “Mendingan kamu berangkat TPA dulu gih. Kan mainnya bisa disana sebelum masuk. Nanti kalo main latto-latto disini, terus kena adek kamu lagi, bisa murka emakmu. Ya udah, TPA dulu gih. Nanti telat loh” aku memperingatkan bocah kelas 5 SD itu untuk segera berangkat ke TPA yang letaknya tak jauh dari rumahku.
Tanpa komando, Samsul segera berlari menuju tempat yang dituju. Lalu aku mengantar Rizki pulang. Kami pun melanjutkan sesi ngerumpi sehat yang sempat tertunda itu. Mungkin sekarang aku harus mempelajari lebih dalam cara bermain latto-latto. Siapa tahu nanti sore ada lomba bermain latto-latto dadakan.
Bionarasi
Rafly Saputra, dikenal sebagai ‘Rafly Scout’ atau ‘Si Bolang’ merupakan pria yang lahir di Bandung pada 12 Maret 2001 yang kini tinggal di Desa Cengkongabang, Kecamatan Mendobarat Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung.
Membaca dan menulis sudah menjadi hobinya ketika masih duduk di bangku sekolah dasar hingga kini sudah memasuki usia 22 tahun. Ide cerita yang ia tulis berasal dari pengalaman pribadinya sendiri.
Selain menulis, Rafly juga memiliki hobi travelling yaitu mengelilingi Pulau Bangka dalam rangka menjalin silaturahmi. Rafly dikenal suka berteman dengan anak-anak SD.
Rafly sering ikut andil dalam memeriahkan lomba 17 Agustus baik di kampungnya maupun di kampung yang pernah ia kunjungi.
Cerpen pertama yang berhasil diterbitkan berjudul ‘Lato-lato Makan Korban’ yang ia kirimkan ke sebuah event menulis yang diadakan oleh @nulisbareng.id dan telah dibukukan ber-ISBN.
Rafly tergabung dalam beberapa grup literasi seperti ‘Komunitas Bisa Menulis’ di Facebook. Salah satu cerita yang sering dibagikan berjudul ‘Balada Si Bolang’.
Setelah itu, ia semakin rajin membuat cerpen dan cerbung lalu mengirimkannya ke berbagai grup literasi. Rafly menempuh pendidikan di IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung jurusan Tadris Bahasa Inggris. Kini, ia sedang berkutat dengan skripsi.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.