Oleh: Adnan Wachid — Penulis Naskah dan Sutradara Teater

Abstrak

Tulisan ini merupakan upaya membaca perkembangan teater di Pulau Bangka dari akhir dekade 1980-an hingga dinamikanya hari ini. Dengan mengadopsi pendekatan historiografi seni pertunjukan dan sosiologi teater, tulisan ini memetakan enam aspek utama: keberadaan dan pergerakan aktor/komunitas, jejaring kerja interdisipliner, evolusi wacana artistik-estetik, persoalan infrastruktur fisik, keberadaan penonton, serta dialektika antara komodifikasi seremonial dan gerakan independen. Secara khusus, tulisan ini menyoroti pergeseran dramaturgi kontemporer pasca-2018 yang ditandai oleh menguatnya praktik teater berbasis riset, eksplorasi tubuh, penulisan naskah berdasar isu harian, serta kolaborasi lintas disiplin.

Kata Kunci: Teater Bangka, Historiografi Pertunjukan, Adnan Wachid, Dulmuluk, Begisah, Dramaturgi Ekologis, Dramaturgi Interdisiplin.

PENDAHULUAN

Kepulauan Bangka Belitung merupakan provinsi muda yang resmi berdiri pada tahun 2000 setelah sebelumnya menginduk ke Provinsi Sumatra Selatan. Wilayah kepulauan ini memiliki dua pulau utama, yaitu Pulau Bangka (terdiri atas 4 kabupaten dan 1 kota) serta Pulau Belitung (terdiri atas 2 kabupaten). Tulisan ini memfokuskan pembacaan atas perkembangan seni teater di Pulau Bangka melalui tiga simpul utamanya: Mentok (Kabupaten Bangka Barat), Sungailiat (Kabupaten Bangka), dan Pangkalpinang (Ibu Kota Provinsi).

Seni pertunjukan teater di Pulau Bangka memiliki rekam jejak yang kompleks, namun sering kali luput dari pemetaan akademis arus utama di Indonesia. Teater di wilayah ini tidak tumbuh dalam ruang hampa; ia lahir dari interaksi antara memori kolektif Melayu, dinamika kultural pasca-pemekaran wilayah, hingga respons atas krisis ekologis akibat aktivitas ekstraktif pertambangan timah.

Tulisan ini bertujuan merekonstruksi secara analitis kronologi pergerakan teater di Pulau Bangka, menganalisis bentuk-bentuk estetika yang lahir—mulai dari teater kreasi bertumpu cerita rakyat dan mitos lokal, teater sekolah sebagai ruang pembentukan karakter remaja, hingga dramaturgi interdisipliner—serta membedah tantangan struktural yang dihadapi oleh para penggiatnya.

1. KEBERADAAN DAN PERGERAKAN PENGGIAT TEATER: LINTAS GENERASI (1980-AN–2020-AN)

Perkembangan teater di Pulau Bangka ditandai oleh pergeseran fokus, metodologi, dan orientasi artistik dari tiap generasi penggiatnya:

1.1 Pionir Teater Kreasi, Cerita Rakyat, dan Mitos Lokal (Akhir 1980-an)

Di Mentok, H. Mochtar Lubis Ajmain bersama Sanggar Panglima Angin merintis seni pertunjukan yang kala itu jamak disebut masyarakat sebagai tonil atau sandiwara. Istilah ini tergolong cair, sebab ketika mereka bertolak mengikuti festival di Palembang (ibu kota Sumatra Selatan saat Bangka masih menginduk), publik menyebutnya sebagai pertunjukan Dulmuluk. Beberapa karya yang dipentaskan antara lain Raja Pekak dan Putri Gunung Menumbing.

Sebagai sanggar terpadu, Panglima Angin menjadi simpul awal eksplorasi teater multidisiplin (tari, musik, drama) yang mengestraksi mitologi lokal dan kepekaan sosial menjadi tontonan populis—baik dari panggung ke panggung hingga festival tingkat regional Sumatra Selatan. H. Mochtar Lubis Ajmain juga tercatat mengarsipkan cerita-cerita rakyat Bangka Barat ke dalam bentuk buku. Sepeninggal beliau, aktivitas sanggar ini lebih banyak berfokus pada seni tari dan musik.

1.2 Teater Sekolah: Pembentukan Karakter dan Penyadaran Sosial (1990-an)

Sementara Panglima Angin berkibar di Mentok dengan teater multidisiplinnya, aktivitas teater sekolah tumbuh subur di Sungailiat. Gedung Juang menjadi ruang tumbuh bersama bagi para pelajar. Ira Esmeralda bersama pelatihnya turut menyemarakkan gelombang ini melalui wadah yang bernama Teater Sukma. Periode ini juga diwarnai kehadiran Agus (guru SMP sekaligus pelatih teater) dan Jaka Filyama.

Gelombang teater sekolah mencapai puncaknya pada pertengahan 1990-an. Willy Siswanto bersama beberapa temannya menginisiasi Festival Teater Pelajar se-Pulau Bangka yang diikuti oleh 84 peserta di Gedung Hamidah, Pangkalpinang. Kota ini tidak begitu jauh dari Sungailiat, yakni berjarak sekitar 31 KM atau 25-35 menitan perjalanan. Naskah yang dimainkan beragam, mulai dari cerita rakyat Nusantara hingga potret realitas sosial terdekat. Fase ini memposisikan teater sebagai medium pembentukan karakter, pendidikan kritis, dan penyemaian wacana lingkungan bagi generasi muda.

1.3 Teater Berjuang Mencari Identitas Pasca-Pemekaran Provinsi (Awal 2000–2010-an)

Performance David Fernandez (kiri) & M. Albadri (kanan)

Pasca-berdirinya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2000, geliat pencarian identitas teater dimulai di tiga kota utama:

  • Mentok: Joko Hari Purnomo (Wak Joko), alumni Padepokan Bagong Kussudiardja, pulang ke Bangka dan mendapatkan kesempatan untuk membuat pertunjukan teater pertamanya di kampung halaman. Kemudia dia juga mendirikan Sanggar Kampuseni. Lewat sanggar ini, ia memperkenalkan etos kerja laboratoris serta menggalang kolaborasi inklusif antara seniman, birokrasi, pelajar, dan warga umum—salah satunya terwujud dalam garapan teater kolosal berjudul Opera Zamnah (2015). Seiring waktu, sanggar ini beralih fokus pada pengembangan tari dan musik.
  • Sungailiat: Ira Esmeralda juga pulang dari rantauan dan mendirikan Teater Akar Rumput untuk menjangkau berbagai kalangan masyarakat. Bersama Teater Akar Rumput Ira Esmeralda mulai menginisiasi beberapa kerja teater. Selain teater, Ira juga tercatat mendalami dunia sastra dan dikenal sebagai salah satu sastrawan wanita di Bangka Belitung.
  • Pangkalpinang: Sebagai ibu kota provinsi yang baru, Pangkalpinang menjadi arena eksplorasi dan pencarian jati diri. Willy Siswanto bersama beberapa teaternya mementaskan beberapa pertunjukan diantaranya Parit Merah 1840, tahun 2000. Kemudian bersama Teater Anak Sekami mementaskan Kapal Pengungsi di Taman Sari, Tahun 2002. Lalu bersama teater Talenta tahun 2007 Willy Siswanto menginisiasi pertunjukan Datuk Layau-Gubahan Historis Tokoh Ulama Bangka yang pentas di pelataran walikota Pangkalpinang. Tahun 2003, (Alm) Dr (HC)Ibnu Hadjar bersama seniman setempat mementaskan karya berjudul Putri Buaye, sebuah pementasan yang diadaptasi dari bentuk dasar teater tradisional Melayu, Dulmuluk.

1.4 Formalisasi Lomba dan Lahirnya Komunitas Eksperimental (2010–2019)

Pada rentang 2010–2020, dinamika teater banyak diwarnai oleh ajang kompetisi yang diselenggarakan pemerintah, seperti FLS2N, lomba teater rakyat diskominfo dan lomba bercerita bahasa daerah dari perpusda/kantor bahasa. Para pelaku teater periode sebelumnya—seperti Ahmad Fikri Baraqbah, Roviansah, Ira Esmeralda, Jaka Filyama, dan Budi Semprul—hadir mengambil peran sebagai pelatih maupun juri. Selain lomba beberapa dari mereka kadang juga membuat pertunjukan untuk kebutuhan memenuhi undangan dari berbagai Lembaga.

Beberapa titik penting dalam periode ini meliputi:

  • Peluncuran Begisah (2015): Di Pangkalpinang, para guru seni berkumpul mengagas bentuk teater tradisional beridiom lokal yang kemudian diresmikan Pemerintah Kota Pangkalpinang dengan nama Begisah (berasal dari kata begagil dalam satu kisah). Gerakan awal ini awalnya di awali oleh Roviansyah, Ferry, dan Yosep Sonjaya dkk.
  • Halaman Rumah Panggung (2018): Di Mentok, Eyes Christa dan Adnan Wachid mendirikan Halaman Rumah Panggung sebagai ruang eksplorasi pasca-sekolah. Kelompok ini berfokus pada penulisan naskah monolog berbasis folklore, kepekaan sosial, hingga dramaturgi performatif (Rumah Kek Dulang, Makan Sayur, Running Blind, Tubuh Kucing). Kelompok ini kemudian turut menginisiasi lahirnya Teater Benang Merah di MAN 1 Bangka Barat pada 2023.
  • Bubung Project (2019): Diinisiasi oleh pemuda setempat (Nurcholis, Kevin, dan Leo Pradana sebagai komposer), kelompok ini mengusung genre komedi Melayu yang berkeliling dari kampung ke kampung. Mereka membawakan teater rakyat yang fleksibel dengan ciri khas tokoh yang konsisten melintasi berbagai naskah, seperti tokoh Khadam (dari Dulmuluk). Tokoh pada naskah mereka salah satunya ialah Pak Udak.
  • Adaptasi Dulmuluk Lokal (2019): Berbekal pengetahuan, referensi klasik dan kerja riset.Ira Esmeralda bersama kelompoknya mengadaptasi struktur alur pada pertunjukan Dul Muluk ke dalam narasi lokal Putri Zamnah dalam perlombaan yang yang bertajuk teater rakyat.

1.5 Resiliensi Pandemi dan Gerakan Praktik Riset-Tubuh (2020–2026)

Poster Pertunjukan Sandek Pemuda Pekerja

Tahun 2020 pandemi melanda, tidak banyak proses kreatif yang mengemuka. Tetapi di tahun ini banyak sekali jaringan mulai terjalin. Berbekal internet dan media sosial. Lembaga-lembaga terkait mulai mensosialisasikan dirinya. Program-program merekapun pada akirnya dapat diketahui dan ditangkap oleh beberapa seniman bangka.  Walaupun melalui penyesuaian medium dan eksperimentasi baru beberapa seniman lokal cukup antusias dan di tahun-tahun ini juga tercatat beberapa hal, diantaranya:

  • Seni Peran Virtual & Respon Pandemi: Eyes Christa mengikuti program dari BPNB Riau, Dirjen Kebudayaan, Kemenparekraf dengan menampilkan pertunjukan video salah satunya adalah Cerita di Sekitar Taber Gunong (program Jejak Virtual Aktor), mengangkat dilema tokoh adat yang harus melaksanakan upacara adat di tengah pandemi. Pada 2021, Ahmad Fikri Baraqbah mementaskan karya kolaboratif lintas disiplin secara langsung dengan protokol ketat mengenai dampak pandemi bagi pekerja seni.
  • Wayang Strip: Dewan Kesenian Kabupaten Bangka Barat menginisiasi pementasan Wayang Strip Taber Gunong (2021) yang lahir dari Program Pengembangan Ajakan Pentas di Rumah aja. Project wayang strip ini kemudian berlanjut di tahun selanjutanya dengan judul Bakso Tusuk Bakar dan Cerita di Sekitar Vaksinasi Hari-Hari Ini (2022) yang melibatkan Wak Joko, Adnan Wachid, serta seniman rupa Donatus Dasapurna. Wayang Strip sendiri adalah project penciptaan pertunjukan wayang kontemporer yang memanfaatkan Aktor dan Wayang sebagai media ungkap pertunjukan
  • Panggung Nasional & Jejaring Sutradara: Halaman Rumah Panggung mewakili daerah dalam Parade Monolog Nasional Pelaku Teater Indonesia II (Pamonaspati 2022) lewat karya Pematung Muda, serta membawakan naskah Arifin C. Noer Sandek Pemuda Pekerja pada Rembuk Budaya Babel (2023). Pada 2024, Adnan Wachid mengikuti Kelas Sutradara bersama Shirotama Hitsujiya (difasilitasi Kala Teater dan MTN Lab Seni Budaya).
  • Praktik Berbasis Riset dan Tubuh: David Fernandez mendirikan Pangkalpinang Art Laboratory (Partla) pada tahun 2024 di Pangkalpinang. Partla berfokus pada pertunjukan berbasis riset dan eksplorasi tubuh yang berani mengkritik isu lingkungan hidup lewat simbol panggung kontemporer (Hilang Daratan, 2024; Tetangga Masuk ke Kamar Tidurku, 2026). Partla membawakan karya tersebut ke Temu Teater Sumatra di Palembang (2026) serta menggelar program inkubasi mandiri Kutubuhku.

Dokumentasi Pertunjukan Partla dalam Tetangga Masuk Ke Kamar Tidurku