Menulis Opini
Oleh: Hermianto — Anggota DPW Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia (MIPI) Babel
Menulis bukanlah sekadar aktivitas mekanis mencoretkan kata atau merekam peristiwa di atas kertas. Lebih dari itu, menulis merupakan budaya intelektual paling fundamental yang telah berlangsung selama ribuan tahun sejak manusia mengenal tulisan.
Ketika seseorang memutuskan untuk menulis opini, ia sesungguhnya melontarkan sebuah gagasan ke ruang publik. Ia melangkah keluar dari ranah pemikiran pribadi menuju arena diskusi publik. Penulis juga berusaha memengaruhi cara pandang masyarakat, serta menguji daya tahan pemikirannya di hadapan pembaca.
Menulis opini adalah sebuah bentuk “rekreasi intelektual”. Menulis adalah sebuah proses mengasah otak, menajamkan logika, dan juga melahirkan pemikiran-pemikiran baru yang siap diperdebatkan secara sehat.
Sejarah peradaban mencatat betapa dahsyatnya kekuatan sebuah tulisan dalam menggerakkan arus perubahan sosial dan politik. Esai-esai politik Voltaire mengenai demokrasi Inggris, misalnya, berhasil menyalakan api kesadaran masyarakat Prancis hingga memicu puncaknya Revolusi Prancis pada 1789. Karya kritis Multatuli (Eduard Douwes Dekker) melalui novel Max Havelaar tidak hanya mengguncang kaum borjuis Eropa, tetapi juga melahirkan politik etis yang membuka kran pendidikan bagi pribumi.
Demikian pula rekam jejak perjuangan Pangeran Diponegoro yang tertuang abadi dalam Babad Diponegoro. Jejak-jejak sejarah ini membuktikan bahwa tulisan yang dirancang dengan jernih dan berlandaskan fakta memiliki daya ubah yang melampaui rentang waktu dan batas geografis.
Menemukan Ide dan Mengasah Kepekaan
Bagi sebagian besar penulis pemula, kendala terbesar sering kali berpusat pada satu pertanyaan: “dari mana ide tulisan dimulai?” Banyak orang beranggapan bahwa ide tulisan hanya dimiliki orang-orang berbakat. Padahal, ide tulisan ibarat kupu-kupu yang beterbangan di sekeliling kita. Yang dibutuhkan seorang penulis adalah kejelian dan kepekaan untuk menangkap fenomena di sekitarnya.
Umumnya, ide opini bersumber dari reaksi terhadap peristiwa hangat. Kita dapat mengulas berita atau isu aktual yang sedang hangat dibicarakan di media massa, seperti kebijakan baru pemerintah atau fenomena sosial terkini. Ada juga seorang menulis bersandarkan hari besar nasional, hari keagamaan, atau peringatan bersejarah.
Mengangkat kejanggalan atau fenomena unik dari realitas sehari-hari juga sering dilakukan oleh seorang penulis. Misalnya kemacetan transportasi publik hingga dinamika pasar tradisional. Terakhir, menulis opini juga dapat menyesuaikan dengan latar belakang keilmuan, profesi, atau hobi yang ditekuninya.
Namun, apabila anda (penulis pemula) masih menemukan hambatan, kita dapat memanfaatkan metode Amati, Tiru, dan Modifikasi (ATM). Cara ini dilakukan dengan mempelajari struktur dan gaya opini dari naskah-naskah hebat yang telah terbit.
Selain itu, hambatan penulis juga dapat diurai melalui teknik blind writing (menulis bebas tanpa menyunting) serta pemetaan pikiran (Mind Mapping) untuk menyusun rantai ide secara visual.
Anatomi dan Arsitektur Tulisan Opini
Sebuah artikel opini yang berhasil menembus meja redaksi dan memikat pembaca tidak ditulis secara acak. Tulisan opini yang efektif memiliki anatomi yang tertata ketat, mirip dengan struktur “Skripsi Mini”. Umumnya banyak penulis (termasuk saya) menggunakan kerangka formulasi ABC (Attention, Billboard, Context, Demonstrate, Equivocate, Forward), dalam menulis.

