Tragedi Kebakaran Dusun Serdang dan Bagaimana Periayahan Negara dalam Islam
Oleh: Nurul Aryani — Aktivis Dakwah Islam
Puing-puing arang Dusun Serdang bergeletakan, menyisakan sesak bagi para korban kebakaran. Karhutla lagi-lagi menjadi awal tragedi yang sangat memilukan bagi warga Dusun Serdang. Pada 10 Oktober sore hari sekitar pukul 15.10 WIB api telah nampak merembet dari sebuah lahan semak belukar menuju rumah warga. Warga yang berusaha memadamkan dengan segala daya upaya nyatanya kalah oleh api yang lebih cepat menghanguskan satu per satu rumah.
Cuaca panas, angin yang kencang, rumah yang terbuat mayoritas dari papan, sumber air yang kering hingga lambatnya bantuan datang akibat jarak tempuh yang jauh dan minimnya sumber air, membuat lebih dari 300 rumah dilalap habis oleh api dan ribuan warga harus mengungsi termasuk kaum rentan anak-anak dan lansia. Api baru bisa dipadamkan dini hari Minggu (11/10).
Seorang saksi bernama Usni (65) yang telah tinggal di kawasan ini menyatakan bahwa kebakaran telah terjadi dari siang hari, warga telah berupaya memadamkan dengan mesin robin namun sumber air yang telah kering membuat api kembali tidak bisa dijinakkan.
Api yang awalnya masih jauh bergerak cepat melalap rumah warga. Saksi menyatakan kebakaran lahan hampir rutin terjadi setiap tahun, namun kali ini berbeda karena kondisi lebih kering dan kemarau panjang yang memang sudah mengkhawatirkan warga. (Bangka.sonora.id)
Karhutla dan Mitigasi Bencana
Sejak awal tahun telah di prediksi bahwa Indonesia akan mengalami kemarau panjang karena adanya fenomena Godzilla El Nino. Namun, mitigasi bencana justru tidak begitu serius dilakukan. Hari ini kebakaran dimana-mana. Karhutla telah memakan ratusan rumah, menyebabkan ribuan orang mengalami ISPA dan bahkan ada yang meninggal kecelakaan akibat jarak pandang pendek karena kabut asap.
Di Dusun Serdang, sebuah dusun dengan rumah padat penduduk, berdempetan dan rata-rata terbuat dari papan sudah bisa diprediksi jika satu saja percikan api kecil muncul maka bisa fatal sekali akibatnya. Sejak awal, harusnya pemerintah melihat pemukiman padat penduduk dan juga jauh dari jangkauan wilayah pusat kabupaten untuk memitigasi bencana kebakaran yang mungkin akan muncul.
Sebagaimana kesaksian saksi sebenarnya warga telah berupaya memadamkan api saat api belum melalap rumah warga, namun karena sumber air kering maka api yang ditiup oleh angin kencang dan memiliki bahan bakar rumput kering dengan cepat menjalar rumah warga. Kebakaran ini terjadi dari sore hari hingga dini hari baru bisa dipadamkan. Ini menunjukkan akses atas bantuan saat kondisi darurat masih sangat banyak penghalang.
Wilayah yang jauh dari pihak damkar, jalan yang berlubang dan sempit hingga sumber air yang kering membuat api lebih dulu menghanguskan ratusan rumah. Betul bahwa semua pihak tentu tidak ingin ini terjadi, namun disinilah butuh kebesaran hati untuk evaluasi dan serius dalam upaya mitigasi bencana yang mungkin akan muncul saat musim kemarau melanda.
Selain minimnya mitigasi bencana, penyebab awal yang diduga kebakaran lahan juga mesti diselidiki tuntas. Mayoritas kebakaran lahan dan hutan justru terjadi akibat ulah tangan manusia. Sistem kapitalisme yang menganut asas manfaat menjadikan kemarau sebagai momen aji mumpung untuk membuka hutan dan lahan dengan cara murah nan hemat biaya yaitu dibakar.
Minimnya ketakwaan kepada Allah melahirkan perilaku tidak memikirkan orang lain. Asal lahannya bisa dibuka kelak akan jadi pundi cuan ya lakukan saja. Padahal asapnya bisa mengakibatkan sesak ke banyak orang bahkan sampai bisa membakar merembet rumah warga.
Pengurusan penguasa terhadap rakyat semestinya menjadi tanggung jawab utama. Terkait pemukiman, tata letak rumah, juga dari sisi keamanan. Jika terkendala status lahan bagaimana negara menyelesaikannya agar tidak berlarut-larut puluhan tahun. Ini adalah bukti abainya negara kapitalis dalam memperhatikan kondisi rakyatnya sehingga hidup dalam kondisi yang sangat rentan terkena musibah.

