Oleh: Sobirin Malian — Dosen Penggiat Literasi

Setiap tanggal 28 Oktober, kita terjebak dalam ritual tahunan yang melelahkan: meromantisasi sejarah lewat parade baju adat, pidato birokratis yang normatif, dan kepalsuan twibbon di media sosial. Kita sibuk mengagumi abu sejarah yang sudah dingin, lalu lupa cara menyalakan kembali apinya.

Bung Karno pernah berpesan dengan sangat lugas, “Warisilah apinya, jangan abunya.” Jika kita membedah substansi Kongres Pemuda II, api 1928 itu adalah keberanian mendobrak ketergantungan. Bagi generasi Gen Z hari ini, esensi api itu harus diterjemahkan menjadi satu kata kunci: kemandirian.

Pemuda tahun 1928 menunjukkan kemandirian berpikir yang luar biasa. Mereka memutus ketergantungan pada sekat-sekat kedaerahan yang feodal demi sebuah imajinasi besar bernama Indonesia. Mereka bergerak mandiri tanpa fasilitasi oligarki atau sokongan penguasa kolonial.

Hari ini, Gen Z menghadapi lanskap pertarungan yang jauh berbeda namun tidak kalah brutal. Di tengah himpitan ekonomi, bayang-bayang beban sandwich generation, tingginya angka pemutusan hubungan kerja (PHK), serta semakin sempitnya lapangan kerja formal, kemandirian bukan lagi sekadar pilihan karier atau gaya hidup freelance. Kemandirian telah bergeser menjadi katup penyelamat hidup yang sangat krusial.

Gen Z tidak bisa lagi bersandar pada narasi usang zaman dulu seperti “kuliah yang rajin, lulus, lalu aman bekerja kantoran”. Realitas hari ini memaksa mereka untuk berdikari. Mandiri dalam konteks ekonomi berarti berani menolak menjadi generasi pemohon kerja yang pasrah pada keadaan.

Gen Z dituntut beralih menjadi pencipta peluang melalui pemanfaatan ekonomi digital, industri kreatif, hingga inovasi sosial di tingkat akar rumput. Mereka harus mampu berdiri di atas kaki sendiri di tengah ekosistem kerja modern yang serba tidak pasti.