Buka Festival Kepemudaan 2026, Prof Udin Ajak Generasi Muda Berani Bermimpi Setinggi Langit
Buka Festival Kepemudaan 2026, Prof Udin Ajak Generasi Muda Berani Bermimpi Setinggi Langit
PANGKALPINANG, TIMELINES.ID – Wilhelmina Park Kota Pangkalpinang menjadi panggung ekspresi dan kreativitas generasi muda dalam Festival Kepemudaan Kota Pangkalpinang Tahun 2026, Sabtu (31/10/2026) siang.
Beragam penampilan, mulai dari tari, cosplay hingga pertunjukan seni lainnya, memeriahkan kegiatan yang digelar dalam rangka Hari Jadi Kota Pangkalpinang ke-269 sekaligus memperingati Hari Sumpah Pemuda.
Festival tersebut dihadiri Wali Kota Pangkalpinang Prof. Saparudin Masyarif, Wakil Wali Kota Dessy Ayutrisna, jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), Camat se-kota Pangkalpinang, serta sejumlah elemen masyarakat.
Dalam sambutannya, Prof. Saparudin menyampaikan apresiasi kepada Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Pangkalpinang yang telah menginisiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, festival kepemudaan menjadi salah satu bentuk komitmen pemerintah dalam menyediakan ruang bagi anak muda untuk berkreasi, berinovasi, serta menampilkan karya dan potensi yang selama ini mereka kembangkan.
Ia menegaskan, generasi muda membutuhkan wadah untuk mengaktualisasikan diri melalui berbagai aktivitas positif. Dengan tersedianya ruang berekspresi, kreativitas dan energi anak muda diharapkan dapat tersalurkan secara produktif.
“Tujuannya memberikan ruang bagi anak-anak muda untuk berkreasi, berinovasi dan menampilkan karya-karya mereka. Panggung ini adalah panggung anak-anak muda kita,” ujar Prof. Udin.
Ia mengatakan, penyelenggaraan festival tersebut juga memiliki makna tersendiri karena berlangsung pada Oktober, yang dikenal sebagai Bulan Pemuda, berdekatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober.
Prof. Udin kemudian mengajak generasi muda untuk kembali memahami sejarah lahirnya Sumpah Pemuda pada 1928. Kala itu, para pemuda dari berbagai daerah dengan latar belakang bahasa dan budaya berbeda mampu menyatukan tekad untuk membangun identitas kebangsaan Indonesia.
Ia turut menyinggung usia Soekarno yang ketika itu masih relatif muda. Lahir pada 1901, Soekarno baru berusia sekitar 27 tahun pada 1928. Menurutnya, sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa anak muda memiliki peran penting dalam menentukan arah perjalanan bangsa.
“Bayangkan, pada waktu itu para pemuda dari seluruh Indonesia sudah memiliki kesadaran untuk bersatu. Mereka mendeklarasikan Sumpah Pemuda. Ini menjadi pelajaran bahwa anak muda memiliki peran besar dalam membangun bangsa,” ungkapnya.
Untuk menggambarkan pentingnya bahasa persatuan, Prof. Udin mencontohkan kondisi masyarakat dengan keberagaman bahasa daerah. Ia menyebut Papua Nugini sebagai perbandingan, di mana keberagaman bahasa menjadi tantangan tersendiri dalam komunikasi antarkelompok masyarakat.
Menurutnya, Indonesia patut bersyukur karena para pemuda pada 1928 telah memiliki kesadaran untuk menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

