Tukang Sadap
Oleh: Syabaharza
Hujan pagi itu cukup lebat mengguyur gubuk Mbah Halim. Di teras sederhana Ia duduk di balai yang terbuat dari bambu sambil memandang halaman yang basah tersiram air. Sarung warna hitam andalannya dijadikan selimut untuk menghilangkan rasa dingin akibat hujan. Sambil menghisap sebatang rokok kretek warna putih, ia terus berharap hujan segera reda. Reda atau tidaknya hujan hari itu menentukan masa depan dapurnya. Dapurnya dipastikan tidak akan berasap jika hujan tak kunjung istirahat, karena perlengkapan dapurnya sudah ludes semua, sehingga jika hujan terus berlangsung ia tidak bisa menggeluti pekerjaan rutinnya.
“Ini kopinya, Pak!”
Sang istri menyembul dari dalam gubuk sambil membawa secangkir kopi yang masih mengeluarkan asap.
“Masih ada kopi dan gulanya, Bu?”
Walaupun Mbah Halim sudah mengetahui persediaan dapurnya sudah habis, tapi ia tetap bertanya sekadar untuk memastikan bahwa yang dibawa istrinya benar-benar kopi dicampur gula.
“Masih Pak, tapi cuma cukup untuk sekali ini saja!”
Mbah Halim hanya manggut-manggut. Ia percaya dengan ucapan istrinya, karena selain ia sudah survey persediaan dapurnya, ia juga yakin karena istrinya tidak pernah berbohong.
“Hujannya semakin lebat Pak!”
Mbah Halim masih belum bersuara. Ia menyeruput kopi yang sudah berada di hadapannya. Terdengar suara khas ketika orang menikmati kopi spesial.
“Mudah-mudahan hujannya segera reda, ya Pak!”
“Iya Bu”
Mbah Halim hanya menjawab singkat. Kembali ia menyeruput kopi yang mulai dingin.
Pagi itu kopi itu berani tampil sendirian karena tidak ada yang menemaninya. Biasanya kalau mbah Halim minum kopi selalu ada temannya, seperti ubi rebus atau roti dari warung.
“Sudah tiga hari tempat kita diguyur hujan, Bu!”
Sambil menurunkan sarungnya sedikit, Mbah Halim memulai diskusi dengan istrinya.
“Iya Pak, kalau seperti ini terus kita tidak bisa bekerja”
“Nah…itulah bu, sedangkan persediaan kita sudah habis”
“Bagaimana kalau kita mencari pekerjaan lain Pak?”
“Pekerjaan apa Bu? Kita hanya bisa bekerja di satu bidang saja!”
Istri Mbah Halim terdiam. Apa yang diutarakan suaminya memang benar. Mereka tidak punya keahlian lain, selain pekerjaan yang digeluti sekarang. Mau melamar kerja di kantor desa, mereka hanya tamatan sekolah menengah itupun ijazahnya tidak diketahui keberadaannya. Dahulu mereka pernah ikut pendidikan kesetaraan, tetapi tidak bisa mengambil ijazah karena tidak mempunyai biaya, akhirnya ijazah itu raib bersama ditutupnya lembaga tempat mereka belajar dulu.
Hujan semakin lebat. Intensitas air yang turun sudah luar biasa, sampai-sampai pandangan menjadi terbatas, bahkan melihat rumah tetangga saja mereka sudah kesulitan. Setelah mengetahui situasinya seperti itu, mbah Halim dan istri memutuskan untuk masuk kembali ke gubuk mereka. Hanya cangkir kopi dan puntung rokok yang setia menunggu di teras.
*****
“Srek….srek….srek…..”
Suara gesekan yang lambat dan penuh tekanan pada batu asahan terdengar sangat jelas dari teras gubuk Mbah Halim. Suara itu menggambarkan bahwa alat yang diasah sudah hampir tumpul karena lama tidak digunakan. Alat yang berbentuk khusus itu memang lama tidak digunakan Mbah Halim untuk bekerja. Alat berupa bilah logam yang melengkung dengan sudut tertentu berbentuk seperti kaitan atau tapal itu adalah senjata andalannya dalam mencari nafkah.
Malam itu Mbah Halim kembali merenovasi alat kesayangannya itu. Bilahnya dielus sedemikian rupa sehingga membentuk lengkungan dan kemiringan yang ideal. Mata tajinya digesekkan dengan sekuat tenaga ke batu asahan. Kemudian gagangnya diserut kembali sehingga tampak benar-benar halus. Hal itu dilakukan Mbah Halim untuk mempermudah pekerjaannya nanti. Walau musim hujan masih melanda tapi harapan untuk kembali ke rutinitasnya tetap ada.
“Sudah selesai Pak?”
Sang istri menghampiri Mbah Halim yang masih khusyu dengan senjata andalannya.
“Sedikit lagi Bu, tinggal menghaluskan tangkainya!”
“Semoga besok cuaca cerah”
“Aamiin”
“Oya Pak, kalau besok cuaca mendukung dan kita sudah bisa kerja lagi, hasilnya langsung kita jual ya!”
“Iya Bu, kalau tidak dijual dapur kita tidak ngebul”
Setelah mengucapkan itu, Mbah Halim melemparkan senyuman dan mengedipkan mata sedikit menggoda istrinya.
“Ibu duluan istirahat ya Pak!”
“Iya Bu, nanti bapak menyusul”
Sambil memperhatikan istrinya menuju kamar tidur mereka. Mbah Halim kembali merapikan alat yang dipegangnya. Diamati dengan seksama alat itu, diperhatikan tiap sudutnya, diperhatikannya lagi tiap sudut. Setelah merasa semuanya sempurnya baru ia puas dan meletakkannya di dinding yang terbuat dari bambu. Lalu ia menyusul istrinya untuk beristirahat.
Suara binatang-binatang liar mengiringi Mbah Halim dan istri istirahat. Suara-suara binatang itu bagaikan musik pengantar tidur bagi pasangan yang belum dikaruniai keturunan itu. Mungkin suara-suara itu bagaikan musik dangdut lawas yang mendayu-dayu. Mbah Halim dan istri sudah terlelap dan siap mewujudkan mimpi mereka keesokan harinya. Mimpi sederhana bagi seorang petani untuk bertahan hidup di masa yang serba sulit.
*****

