Oleh: Melia Noprianda, SP.d, Gr

OPINI, TIMELINES.ID — Sesuai dengan peran guru yang dijabarkan oleh Ki Hajar Dewantara bahwasanya guru tidak bisa mengubah (mengontrol) siswa menjadi apa yang guru inginkan.

Hal ini disebabkan masing-masing siswa sudah memiliki kodratnya masing-masing, tugas guru hanya sebatas membimbing, memotivasi atau mendorong keinginan saja atau memastikan si anak tumbuh sesuai dengan kodratnya.

Berangkat dari hal tersebut, ketika kita ingin menciptakan budaya positif di sekolah dengan menerapkan disiplin positif maka kita tidak bisa memaksakan siswa melakukan hal tersebut.

Proses pemaksaan melalui pemberian hukuman, konsekuensi ataupun penghargaan hanya bersifat sementara saja bahkan lebih parahnya akan menyebabkan bangkitnya perasaan dendam ataupun hal negatif lain.

Oleh sebab itu kita perlu mencari cara lain agar budaya positif dapat diterima secara terbuka dengan cara menyentuh perasaan mereka.

Baca Juga  Guru Mestinya Mendidik Bukan hanya Mengajar

Berbicara mengenai perasaan, ketika seorang guru sudah bisa menyentuh hati nurani siswa dengan cara memahami kebutuhan apa yang mereka inginkan dan menunjukan rasa kepedulian mengenai hal tersebut maka siswa akan dengan mudah memahami disiplin positif yang ingin diterapkan padanya.

Namun, untuk bisa mencapai tahap tersebut tentu kita harus melakukan kolaborasi dengan siswa dalam hal menciptakan disiplin positif apa yang mereka inginkan dan butuhkan.

Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara melakukan rapat kelas mengenai kebutuhan dan keinginan mereka, menuliskannya di kertas atau sticky note dan menempelkannya di dinding kelas agar selalu bisa diingat.

Dengan mengajak siswa secara langsung mengungkapkan keinginan mereka maka kita sudah membangkitkan motivasi intrinsik terhadap mereka bahwa disiplin positif atau keyakinan kelas yang mereka buat bukan untuk orang lain melainkan untuk mereka sendiri.

Baca Juga  317 Kota Toboali: Rindu Kearifan Ibu

Hal yang dijabarkan di atas sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi di sekolah selama ini, kita sebagai guru ternyata mengalami kegagalan paham yang diyakini sebagai suatu kebenaran selama ini, misalnya saja menganggap suatu kedisiplinan itu merupakan ajang pemaksaan siswa untuk mengikuti peraturan yang telah dibuat sekolah.

Saya menyatakan hal ini sebagai pemaksaan karena kedisiplinan itu dilakukan tanpa memberikan pemahaman kepada siswa mengapa hal tersebut harus mereka patuhi.

Pemaksaan yang selama ini sering dilakukan di sekolah bisa dalam wujud pemberian hukuman (penghukum), pemberian konsekuensi dibarengi dengan menimbulkan perasaan bersalah pada siswa (pemberi rasa bersalah), ataupun pemberian hadiah dengan pendekatan sebagai orang yang bersahabat dengan siswa atau dengan menghakimi siswa dan mengarahkan pikiran siswa bahwa siswa tersebut salah tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan sendiri kesalahan mereka, mengemukakan alasan ataupun keyakinan yang mereka langgar.

Baca Juga  Tuan, Kritik Itu Nutrisi

Padahal pemaksaan tersebut bukanlah suatu tindakan yang tepat dilakukan karena pada dasarnya kita tidak dapat mengontrol pikiran atau perbuatan seseorang, jikapun kita merasa bahwa perbuatan tersebut berhasil sejatinya bukan tindakan kita yang berhasil melainkan siswa sedang mengizinkan hal tersebut terjadi karena alasan-alasan tertentu, entah karena takut atau karena hal lain yang pasti ada motivasi dari luar yang membuat siswa mau mengikuti pemaksaan tersebut.

Sayangnya, hal tersebut juga tidak berlangsung lama, ketika siswa melakukan sesuatu bukan karena didasari keinginan sendiri atau keyakinan dari dalam diri sehingga tidak terbangun pondasi yang kuat dari dalam dirinya, ketika alasan siswa menerima pemaksaan atau motivasi dari luar tersebut menghilang maka siswa akan kembali ke perilaku sebelumnya.