Oleh: Selvia Heryati

OPINI, TIMELINES.ID — Indonesia merupakan negara kepulauan  dengan keberagaman suku, ras, agama, dan budaya yang tercerminkan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu.

Semboyan ini menegaskan kepada kita bahwa Indonesia dengan keberagaman yang ada menjadikan negeri ini sebagai keindahan dan kekayaan yang tidak dimiliki oleh bangsa lain.

Keberagaman budaya yang ada di Indonesia ini muncul dari berbagai kebudayaan lokal dan tradisi yang terus tumbuh dan berkembang di masyarakat.

Definisi budaya itu sendiri adalah cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh sekelompok orang yang kemudian diwarisi dari generasi ke generasi.

Sedangkan tradisi adalah kebijakan, keyakinan, atau kesinambungan budaya dalam sikap sosial dan adat istiadat yang secara turun temurun  memuat nilai dan norma dari warisan nenek moyang.

Setiap pulau yang ada di Indonesia memiliki beraneka ragam budaya.

Kepulauan Bangka Belitung salah satunya. Kepulauan  Bangka Belitung ini memiliki 7 kabupaten/kota.

Salah satu kabupaten yang ada di Kepulauan Bangka Belitung ini adalah Kabupaten Bangka Selatan.

Bangka Selatan merupakan salah satu kabupaten yang terletak di ujung selatan Pulau Bangka. Bangka Selatan ini memiliki 8 kecamatan dengan semboyan Junjung Besaoh.

Junjung besaoh mempunyai makna bahwa masyarakat yang ada di Bangka Selatan diharapkan dapat menjunjung tinggi semangat kegotong-royongan sebagaiamana hal tersebut sesuai dengan pengamalan pancasila sila ke-3.

Baca Juga  Berburu Malam Lailatul Qodar

Negeri Junjung besaoh ini memiliki tradisi, adat dan budaya yang beragam.

Salah satu tradisi dan budaya unik yang ada di negeri Junjung Besaoh adalah Kawin Massal atau dikenal dengan kawin herdek.

Kawin massal atau kawin herdek adalah tradisi perkawinan di mana pesta perkawinannya dilaksanakan dalam waktu serentak oleh banyak pasangan pengantin.

Berdasarkan sejarahnya, Provinsi Bangka Belitung yang merupakan salah satu penghasil lada terbesar di Indonesia ini menjadikan masyarakatnya banyak yang bertani lada.

Sehingga saat musim panen tiba, banyak bujang dan dayang yang mengambil upah untuk memetik lada sehingga sering dijodoh-jodohkan oleh sesama masyarakat sekitar.

Dari pertemuan memetik lada ini, mengawali perkenalan dan kedekatan antar bujang dan dayang untuk melangsungkan perkawinan.

Akan tetapi, keterbatasan ekonomi yang dialami masyarakat saat itu menjadikan para bujang dayang (masyarakat) meminta bantuan kepada pihak desa dan tokoh adat untuk mencari jalan keluarnya.

Sehingga dari hasil musyawarah ini  terbentuklah suatu tradisi unik yang masih dikenal di Bangka Selatan yakni Kawin Massal.

Tradisi kawin massal ini dilaksanakan secara meriah sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen yang telah mereka dapatkan.

Baca Juga  Zakat Fitrah di Bangka Selatan Rp40 ribu per Jiwa

Acara ini biasanya dilaksanakan setiap selesai panen padi ataupun lada yakni pada akhir tahun sekitar bulan September-November karena pada saat itu masyarakat memiliki waktu senggang yang lebih banyak untuk melangsungkan acara perkawinan.

Banyaknya jumlah pengantin dalam acara kawin massal dimulai dari 5 pasang hingga lebih dari 10 pasang mempelai pengantin dalam setiap pelaksanaan kawin massal.

Pelaksanaan kawin massal di setiap desa tidak dilaksanakan bersamaan, tetapi berdasarkan kesepakatan masing-masing desa yang melangsungkan acara kawin massal.

Berdasarkan sumber yang penulis dapatkan, acara kawin massal ini pernah dilaksanakan di beberapa desa di Bangka Selatan seperti Serdang, Jeriji, Bikang, Air Bara, Ranggas, Nangka, Air gegas, Delas, Nyelanding dan Bencah.

Akan tetapi, seiring dengan terjadinya moderenisasi maka lambat laun semakin sedikit desa-desa yang melaksanakan tradisi kawin massal ini.

Desa yang masih melestarikan dan melaksanakan tradisi kawin massal hingga saat ini adalah Desa Serdang.

Kawin massal ini pertama kali dilaksanakan di Desa Serdang pada tahun 1943.

Sebelum prosesi kawin massal di desa Serdang, para tetuah adat, tokoh agama, ataupun masyarakat mengadakan acara doa bersama dan ritual adat agar acara dapat berjalan dengan lancar tanpa hambatan.

Selain itu juga disajikan sesaji sebagai syarat dan kepercayaan masyarakat setempat, seperti menyajikan ketan, ayam, kue-kue yang diberikan oleh pihak pengantin, cahaya api, beras kuning, tanah dan air.

Baca Juga  Undang Media di Ngopi-Ko, Begini Harapan Kapolres Bangka Selatan

Tanah yang disajikan tersebut dicampurkan dengan perasan jeruk nipis yang kemudian didoakan oleh tetuah adat, kemudian baru ditaburkan (dalam bahasa Bangka Selatan yaitu di taber) di sepanjang jalan desa.

Setelah ritual itu dilaksanakan, keesokan harinya baru dilakukan arak-arakan pengantin yang mengenakan pakaian adat khas Bangka Belitung yakni paksian.

Para pengantin juga dipayungi menggunakan payung lilin khas Bangka Belitung,  dan  diiringi dengan arakan teluk herujo (telur serujo).

Teluk herujo juga merupakan salah satu budaya yang ada di Bangka Selatan, yaitu tradisi budaya menghias telur rebus yang diberikan warna merah, kemudian dimasukkan pada sebuah kantung berbentuk bunga seroja yang ditusukkan lidi kemudian dihias dan disusun pada pohon pisang sebagai wadah untuk merangkai teluk herujo ini.

Selain arakan teluk herujo, prosesi kawin massal ini juga diiringi oleh musik dambus dan seni hadroh.

Teluk herujo, payung lilin, dan penaburan beras kuning menjadi sebuah simbolik dalam tradisi kawin massal di desa Serdang.

Jika arak-arakan sudah selesai, para pengantin dipersilahkan untuk duduk pada satu pelaminan yang sama.