Karya: Khoiriah Apriza

CERPEN, TIMELINES.ID — Malam itu cuaca sedang mendung. Angin berhembus kencang menerpa wajah dan rambut seorang perempuan yang sedang berdiri di atas jembatan.

Kedua tangannya direntangkan. Tatapan matanya kosong dengan airmata yang terus mengalir membasahi pipinya.

Kondisi jalanan saat itu cukup sepi. Memudahkannya untuk melakukan aksi nekat, yaitu bunuh diri.

Kenapa ia melakukan itu? Entahlah… Hati dan pikirannya sedang perang dingin.

Di Satu sisi, ia ingin bangkit. Di sisi lain, ia lelah dengan dunia ini. Harus bagaimana dia sekarang?

“Aghhh! Kenapa hidup enggak pernah adil untuk aku! Kenapa tuhan enggak adil?!” teriak perempuan itu pilu.

Dengan perlahan, kakinya melangkah menaiki pagar jembatan.

Ia sudah memutuskan, Mungkin dengan cara bunuh diri, ia akan terbebas dari rasa sakit di dunia ini.

Saat tubuhnya mulai terjun ke sungai, Tiba-tiba ada tangan yang berusaha menggapainya agar tidak terjatuh.

Lelaki itu nampak kesusahan akibat perempuan yang ditolongnya memberontak minta dilepaskan.

“Lepaskan! Biarkan aku mati!” teriak perempuan tersebut.

Baca Juga  Bunga Maaf

“Tidak ada yang kamu dapatkan, kecuali penyiksaan jika kamu mati dengan cara bunuh diri,” ujar lelaki itu.

“Biarkan aku mati! Aku sudah lelah dengan dunia ini. Biarkan aku mendapatkan ketenangan. Lepaskan!” teriak perempuan itu lagi.

“Kalau kamu mencari ketenangan, cari ketenangan itu lewat cintanya Allah. Bukan dengan cara bunuh diri,” jawab lelaki tadi. Terlihat keringat menetes membasahi pelipisnya.

“Hidupku hancur! Bahkan aku yakin, ketika pulang ke rumah pun, aku akan dibunuh oleh ayahku!” lirih perempuan itu.

“Tidak ada seorang ayah yang tega membunuh anaknya sendiri, percayalah. Semarah apapun ayah terhadap anaknya,” pria itu mencoba menasihati.

“Aku telah memberikan kesucianku terhadap pacarku. Bahkan sekarang, aku hamil anaknya. Aku meminta pertanggung jawaban, tetapi dia malah meninggalkanku. Lalu tadi aku melihat pacarku selingkuh dengan sahabatku. Apakah kau yakin, jika ayahku tidak akan membunuhku setelah apa yang ku perbuat?” tanya perempuan itu frustasi.

“Astaghfirullah Al azim,” lelaki itu beristighfar.

“Apa yang kau perbuat itu adalah kesalahan besar. Karena itu adalah perbuatan zina. Tetapi, cara menyelesaikannya bukan dengan bunuh diri. Ayo kembali, jangan lakukan hal itu,” ujar lelaki itu, ia merasa tangannya sudah mulai keram.

Baca Juga  Antara Pribumi dan Wabah di Blinjoe 1836

“Percuma, aku akan diusir. Lalu siapa yang akan menghidupi anak ini? Biarkan aku mati bersamanya,” ujar perempuan itu sendu. Dia memberontak kembali.

“Aku akan menikahimu,” jawab cepat lelaki tersebut tanpa pikir panjang.

Perempuan tersebut berhenti memberontak. Ia memandangi wajah lelaki yang berusaha menolongnya itu.

Wajah yang terlihat begitu menyejukkan, hati terasa tenang ketika memandangnya.

Hatinya begitu baik, bahkan rela menikahi perempuan kotor hanya untuk menyelematkannya.

Apakah, dirinya yang kotor ini pantas untuk mempunyai suami sepertinya.

“Dengan satu syarat, kamu harus berubah menjadi perempuan yang taat kepada Allah,” ujar lelaki tersebut.

“Aku bukan Muslim,” ujar perempuan itu lirih.

“Masuklah Islam, maka kau akan mendapatkan ketenangan yang selama ini kau cari,” ujar lelaki itu meyakinkan.

Dengan sekuat tenaganya, ia menarik tangan kanan perempuan tersebut agar segera mencapai daratan. Perempuan itu pun nampak berusaha untuk menaikkan kakinya ke daratan.

Baca Juga  Untuk Cerita yang Belum Usai

Setelah hampir lima menit bersusah payah, akhirnya perempuan itu berhasil diselamatkan.

Ia terduduk sambil mengatur nafasnya agar kembali normal. Angin malam berhembus menerpa wajah dan rambutnya hingga berkibar.

Lelaki di sampingnya hanya bisa mengalihkan pandangannya ke langit malam, karena ternyata setelah diamati perempuan tersebut menggunakan pakaian dres yang terbuka.

Tiba-tiba, ia mengeluarkan pasmina berwarna putih kepada perempuan tersebut.

“Tutupi auratmu. Jangan biarkan orang yang bukan mahram melihatnya,” ujar datar lelaki tersebut tanpa memandang wajar perempuan tersebut.

Dengan tangan gemetar, perempuan itu mengambilnya dan memakainya.

“Ajak aku, perempuan yang bernoda ini untuk mengenal Tuhanmu. Ajari aku untuk mengenal Islam lebih dalam hingga aku mendapatkan ketenangan yang kamu katakan,” pinta perempuan tersebut.

“In syaa Allah,”

*

Plak!

“Anak kurang ajar! Cuma bisa bikin malu keluarga! Papa menyekolahkan kamu untuk menjadi pintar. Bukan menjadi perempuan bodoh seperti ini,” bentak Damian marah.