KESEHATAN,TIMELINES.ID- Setiap ibu tentu mengharapkan kehamilan yang sehat dan dapat berjalan dengan lancar hingga melahirkan. Namun, ada kalanya kehamilan justru berisiko membahayakan kesehatan ibu hamil maupun janin, karena kondisi-kondisi tertentu. Lantas, apa penyebab dan bahaya serta bagaimana cara menangani kehamilan berisiko tinggi?

Untuk mengetahui kehamilan yang berisiko tinggi secara lengkap, Anda dapat menyimak ulasan berikut ini sampai tuntas.

Apa itu Kehamilan Berisiko Tinggi?

Kehamilan berisiko tinggi adalah kehamilan yang cenderung berpotensi mengganggu kesehatan dan membahayakan keselamatan ibu hamil, janin, ataupun keduanya.

Sebetulnya, semua kehamilan memang memiliki risiko tersendiri. Namun, terdapat beberapa kondisi yang bisa menyebabkan kehamilan menjadi lebih berisiko, misalnya ibu yang mengidap penyakit bawaan atau memiliki riwayat kehamilan yang bermasalah sebelumnya.

Baca Juga  Jangan Anggap Remeh Ini 6 Bahaya Cium Bayi Sembarangan

Komplikasi dari kehamilan berisiko tinggi tersebut dapat terjadi mulai dari janin masih berada di dalam kandungan, selama proses persalinan, hingga masa nifas. Kendati demikian, memiliki kehamilan yang berisiko tinggi bukan berarti ibu dan janin sudah pasti akan mengalami gangguan kesehatan.

Hanya saja, ibu perlu menjalani perawatan dan berada di bawah pengawasan ekstra guna mengantisipasi terjadinya komplikasi kehamilan.

Penyebab Kehamilan Berisiko Tinggi

Terdapat sejumlah kondisi yang dapat membuat kehamilan dianggap berisiko tinggi, di antaranya sebagai berikut.

1.  Usia Ibu

Secara umum, kehamilan dikategorikan berisiko tinggi apabila ibu hamil berusia di atas 35 tahun. Kondisi ini dikenal dengan istilah kehamilan geriatri (hamil usia tua). Pasalnya, kehamilan geriatri dapat meningkatkan risiko terjadinya preeklamsia, persalinan macet, kelahiran prematur, hingga keguguran.

Baca Juga  6 Tips Mengisi Waktu Luang Bersama Keluarga

Selain itu, wanita yang hamil di bawah usia 17 tahun juga lebih berisiko mengalami komplikasi kehamilan, seperti maternal anemia, infeksi pada kehamilan, tekanan darah tinggi, dan lain sebagainya.

Hal ini disebabkan karena pada usia yang masih muda tersebut, sistem reproduksi masih belum matang sepenuhnya sehingga belum mampu untuk mendukung kehamilan.

2. Riwayat Penyakit Ibu

Gangguan kesehatan yang dialami ibu sebelum hamil juga dapat berpotensi menyebabkan kehamilan berisiko tinggi. Adapun beberapa gangguan kesehatan tersebut adalah:

●Gangguan atau kelainan darah, seperti anemia sel sabit, talasemia, dan hemofilia.
●Hipertensi.
●Gangguan autoimun, seperti penyakit lupus.
●Penyakit tiroid, seperti hipertiroidisme dan hipotiroidisme.
●Diabetes.
●Obesitas, yang meningkatkan risiko terjadinya diabetes gestasional dan makrosomia janin.
●Berat badan ibu yang rendah, yaitu di bawah 45 kilogram.
●HIV/AIDS.
●Mengalami depresi.

Baca Juga  Hari Ini, Sistem One Way dari Gerbang Tol Kalikangkung hingga Tol Cikampek Utama, DiperpanjangZ

3. Gaya Hidup

Ibu hamil yang memiliki kebiasaan tidak sehat, seperti merokok dan mengonsumsi alkohol dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi kehamilan, di antaranya adalah kelahiran prematur, kelainan kongenital pada bayi, serta keguguran. Selain itu, risiko ini juga dapat meningkat pada ibu hamil yang sering terpapar asap rokok (perokok pasif).