Karya Sheila Fiorencia Caroline

CERPEN, TIMELINES.ID — Rintik-rintik hujan berjatuhan dari atas langit abu-abu. Awan-awan berkumpul membentuk gumpalan halus berwarna abu-abu.

Suhu dingin menyelimuti sanubariku. Kuulurkan tangan kananku keluar jendela untuk merasakan rintisan hujan yang lembut dan sejuk.

Aku tersenyum tipis, hujan mencoba bermain denganku. Kupandangi jendela yang basah, air mengalir di kacanya. Mirip seperti saat aku menangis.

Dari jendela, kulihat seorang gadis kecil bermain dan menari di tengah hujan yang semakin deras.

Dia berputar dan berlari ke sana kemari, tak menghiraukan apa yang akan dihadapinya nanti. Gaun putihnya basah kuyup, rambut panjang hitamnya basah akibat hujan, namun dia tetap anak yang sangat cantik. Putriku yang sangat cantik.

Baca Juga  Perahu Buntung Pak Anto

Aku mengenang kembali masa saat kami berjuang bersama melawan penyakit kejam yang terus menggerogoti tubuhnya.

Masa-masa yang sungguh kelam dan menyakitkan bagiku sebagai ibu dan baginya sebagai gadis berusia 10 tahun. Aku ingat saat kami pertama kali mengetahuinya.

Aku dan suamiku menangis bersama di kamar kami, sementara putriku masih belum tahu seberapa buruk itu. Dia masih tersenyum lebar dan berkata dia baik-baik saja, padahal tidak.

Dia justru berusaha menghibur kami. Aku merasa tidak berguna dan tidak berdaya saat itu, hal yang sungguh tidak sepatutnya dilakukan seorang ibu.

Lalu datang saat-saat bahagia demi menyenangkan hati kecil nan polosnya. Kami membeli tiket liburan ke Jepang tepat di musim dingin.

Baca Juga  Kita Lupa Bercinta dengan Alam

Putriku selalu ingin melihat salju. Jepang adalah negara yang sangat ingin dia kunjungi. Dia masih terlihat sehat, dia tidak sekarat, dan yang terpenting adalah dia bahagia.

Semuanya sangat membahagiakan, jika kondisi tubuhnya benar-benar sehat bugar. Kami harus memesan tiket pulang lebih cepat jadi jadwal kami seharusnya karena kondisi putriku menurun.

Tapi dia meyakinkan kami bahwa dia sudah sangat bahagia. Bagaimanapun itu menjadi salah satu momen yang paling membesarkan hati kami.

Sesi terapi adalah momen-momen yang paling menyiksa sekaligus menyebalkan. Mental kami mengalami pasang-surut dalam menghadapi ujian berat ini.

Rambut panjang hitamnya perlahan habis sebab tak mampu menahan bahan kimia yang terus-menerus dimasukkan.

Baca Juga  Tapi, Ini Bukan tentang Langit