Karya: Fatimah Azzahra

CERPEN, Di Desa Cempaka, akhir-akhir ini sering didatangi rombongan mobil pick up misterius, tak tahu kenapa orang-orang bermobil pick up hitam itu sering datang ke desa terpencil yang berada jauh dengan pusat kota ini.

Sagam yang duduk di teras rumahnya, terlihat kebingungan ketika rombongan mobil pick up melewati rumahnya secara beriringan. Diperhatikannya rombongan mobil itu sampai persimpangan jalan menuju hutan desa, “Untuk apa mobil-mobil itu datang ke desa ini?” tanyanya keheranan. Sagam lalu masuk ke dalam rumah untuk menanyakan hal ini kepada ibunya.

Sagam berlari menuju ruang tamu, lelaki itu duduk di samping Sang Ibu yang terlihat asyik dengan handphone-nya. “Bu, apa ibu tahu? Kenapa belakangan ini desa kita kedatangan banyak mobil pick up?” tanya lelaki itu.

Mendengar hal itu, Ibu Sagam yang sedari tadi asyik dengan handphone-nya langsung mengalihkan pandangannya ke arah Sagam. Tampak raut wajah keheranan yang sama di wajah ibunya.

“Hah!? Ibu ga’ pernah ngeliat mobil pick up masuk ke desa kita, emangnya ada apa? ada yang buat acara ya? atau ada anak kuliah yang akan KKN di desa kita? apa banyak orang?” jawaban Sang Ibu yang bertubi-tubi itu sampai membuat Sagam mengernyitkan alisnya.

“Bu, Sagam ini bertanya. Kenapa Ibu malah balik bertanya dengan pertanyaan yang begitu banyak? tapi, Sagam tak melihat penumpang di mobil itu, kalaupun ada acara, barang-barang juga tak terlihat di sana.”

“Lalu apa? Ibu juga tidak tahu, biasanya kalo ada hal aneh yang terjadi di desa ini, akan ada info di grup ibu-ibu desa. Lah wong, kemarin saja ibu RT sebelah kehilangan kucing kesayangannya. Infonya langsung muncul di grup.”

“Palingan juga orang kota yang ingin memancing atau berkemah di desa kita. Udah lah, biarkan saja,” lanjut sang Ibu. Sagam menganggukkan kepalanya paham.

•••

Setiap sore, warga Desa Cempaka sering berkumpul di lapangan Desa. Remaja putri desa itu terbiasa bermain voli. Sementara bapak-bapak dan remaja lelakinya, mereka lebih memilih bermain sepakbola di lapangan bola yang terletak bersebelahan dengan lapangan voli.

Baca Juga  Ibuku, Pahlawanku

Sedangkan, warga lain yang tidak ikut bermain biasanya duduk di warung gorengan dekat lapangan. Mereka berkumpul menyaksikan pertandingan ataupun hanya bercerita mengenai hal yang terjadi di desa.

Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya yang duduk di pojok warung memulai pembicaraan. “Mengapa akhir-akhir ini banyak sekali mobil pick up yang masuk ke hutan desa kita? apa yang mereka lakukan?” tanya pria berambut ikal itu.

“Nah benar itu! tadi juga anak perempuan ku yang tertua menanyakan hal itu kepada ku, kenapa ada banyak mobil pick up yang masuk hutan,” sahut Bu Endang sang pemilik warung.

“Apa mereka ingin membersihkan hutan? kalau iya sih, bagus. Biar hutan di desa kita ini tidak terlihat menyeramkan seperti di film-film, hahahaha.” Timpal bapak tua berbaju biru yang duduk di sebelahnya. Perkataan lelaki tua itu membuat beberapa warga yang berada di warung ikut tertawa.

Seorang remaja laki-laki yang mengenakan kameja abu-abu menghampiri warga yang sedang bercerita di warung tersebut. “Permisi Pak, Bu. Saya mau tanya, rumah Pak Harto Kades di mana ya?” tanya remaja tersebut.

“Oh, Pak Kades. Itu dek, lurus aja ikutin jalan ini, mentok belok kiri lalu lurus lagi. Nah, nanti di sebelah kanan jalan ada rumah besar warna putih berpagar abu-abu, itu rumahnya Pak Harto,” jelas Bu Endang.

Pak Baskoro yang duduk di depan Bu Endang, menoleh ke arah remaja itu sembari menyeruput kopinya. “Adek, ada perlu apa sama kepala desa kita?” tanya Pak Baskoro.

“Enggak, Pak. Hanya ingin berkunjung saja. Kalau begitu saya permisi dulu. Terimakasih, Pak, Bu.”

Pak Baskoro menatap tajam ke arah remaja itu. Remaja laki-laki itu pergi meninggalkan warung, ia berjalan sesuai dengan petunjuk yang diberikan Bu Endang.

Baca Juga  Pantun Nunton Pawai

Karena luas desa itu tak terlalu besar, ia hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk sampai ke rumah yang dikatakan Si pemilik warung tadi.

“Assalamu’alaikum,” ucapnya sembari mengetuk pintu. Namun, tak ada jawaban dari dalam rumah. Rumah itu tampak sepi. Diucapkannya kembali salam dengan suara sedikit lebih keras.

Setelah mengucap salam dan mengetuk pintu sebanyak tiga kali, akhirnya seorang anak perempuan keluar dari dalam rumah tersebut.

“Wa’alaikumussalam, ada perlu apa ya kak?” sahut anak perempuan itu. “Permisi dek, apa benar ini rumahnya Pak Harto?”, “benar, kak. Ada apa ya, kakak mencari Ayah?” tanya anak perempuan itu.

“Ayahnya ada, dek? kalau ada, boleh tolong panggilkan,” pinta Sagam, remaja laki-laki yang bertanya alamat rumah Pak Harto tadi.

Anak perempuan itu bergegas masuk ke dalam rumah untuk memanggil ayahnya. “Ayah, di luar ada kakak-kakak yang nyariin ayah tuh,” katanya sambil menolehkan wajahnya ke arah pintu.

Pak Harto beranjak dari tempat duduknya, ia keluar untuk menjumpai remaja tersebut.

“Oo… Mari masuk, Mas. Mari… Mari… silakan!” ajak Pak Harto, Sagam pun mengikuti Pak Harto masuk ke dalam rumah.

“Bu, tolong bikinin teh untuk tamu bapak,” pinta Pak Harto kepada istrinya.

“Ada apa ya, Mas?” tanya Pak Harto sembari membenarkan posisi kacamatanya.

“Perkenalkan Pak, Saya Sagam. Begini, Pak. Maksud kedatangan saya ke sini untuk menanyakan sesuatu ke Bapak. Belakangan ini saya sering melihat rombongan mobil pick up masuk ke desa ini. Setiap masuk desa, rombongan mobil itu pasti menuju ke dalam hutan. Saya penasaran, tujuan mereka itu datang ke sini untuk apa. Mungkin Bapak tahu, apa yang sedang terjadi di desa ini?” selidik Sagam.

Seorang wanita setengah baya menghampiri mereka dengan membawa dua gelas teh beserta kue. Wanita itu meletakkan teh dan kue di atas meja.

“Benar Pak, tadi waktu Ibu belanja di warung Bu Endang, beberapa warga juga membicarakan tentang mobil pick up itu, tapi ibu diam saja karena mengira mobil-mobil itu berasal dari kota yang ingin mancing di desa kita. Namun, kalo dipikir-pikir, aneh juga sih. Mereka itu datang pagi-pagi sekali, dan pulangnya selalu larut malam,” sambung istri Pak Harto.

Baca Juga  Senandika: Sembilan Hari Tanpa Engkau, Berteman Lagu Cinta (tamat)

“Hmm.. Saya pun baru tahu tentang hal ini, warga desa yang bertemu saya juga tidak ada yang menanyakan tentang hal ini. Begitupun dengan mobil pick up yang tadi kalian ceritakan, saya tak pernah melihatnya.”

“Mungkin itu karena rumah bapak jauh dengan jalan ke hutan. Jadi, Bapak tak pernah melihatnya lewat. Kalo Bapak tak percaya, tanyakan saja dengan warga yang rumahnya berada di pintu keluar masuk desa. Setiap pagi, ada rombongan mobil pick up yang jumlahnya sekitar empat sampai lima mobil, dan seluruhnya berwarna hitam.”

“Hmm.. baiklah! nanti saya akan cari tahu hal ini”, “Maaf sebelumnya, Mas. Kalau boleh tahu, Mas ini siapa? sepertinya Mas sangat tahu seluk beluk tentang desa ini tapi saya baru kali ini melihat masnya?”

“Saya anak Bu Darmila, Pak. Saya memang jarang berada di desa soalnya saya bekerja di kota. Kebetulan saya sedang libur. Jadi, saya sempatkan waktu untuk pulang, lagipula saya sudah lama tidak berkumpul dengan keluarga di sini.” jelas Sagam.

“Oh ternyata kamu anaknya Bu Darmila, yang rumahnya berada di tepi desa ini. Pantesan, kamu bisa tahu siapa saja yang masuk ke desa ini. Lah wong, rumahmu saja ada di pintu masuk desa.”

Sagam tersenyum tipis, “Baik pak, mungkin hanya itu yang ingin saya sampaikan. Kalau begitu saya pulang dulu, Pak,” pamit Sagam. lelaki itu lalu bersalaman dan bergegas pergi.

••

Malam harinya, keluarga Sagam sedang berkumpul di meja makan sembari berbincang mengenai hutan desa.

“Bapak tahu, apa yang ada di dalam hutan desa kita ini, Pak?” tanya Sagam memulai pembicaraan.