Karya: Shasa Apriva Rustam

Aku selalu menyukai musim mutik sahang. Bermerahan buah mungilnya bergelantungan di tiap-tiap tangkai seakan hendak luruh ke bumi seakan meminta untuk lekas dipetik. Pemandangan ini jauh lebih indah ketimbang lampu-lampu jalanan yang semarak memenuhi kota.

Pulang kampung bagiku lebih dari sekadar pulang ke rumah. Di sinilah separuh hidup dan kenanganku berlabuh.

Di tiap-tiap jalan setapak yang membuat kakiku dipenuhi debu. Di tiap-tiap anak sungai tempat aku dan kawan-kawan bermain selepas pulang sekolah hingga lupa waktu sampai akhirnya disadarkan oleh teriakan ibu yang meminta kami untuk pulang agar segera bersiap menuju surau untuk sholat dan belajar mengaji.

Di tiap-tiap tiang listrik yang pernah kami pandang dengan penuh takjub kala listrik pertama kali menyentuh kampung ini. Di tiap-tiap pohon jambu air yang selalu menjadi markas bermain kala musim berbuah tiba.

Dulu kami akan bermain bedil buluh selepas salat tarawih kala bulan puasa. Abang-abang akan berlagak kuat dengan meniup lubang yang sudah diisi minyak tanah kemudian menghidupkan korek hingga berdentam-dentam suaranya memekakan telinga, bocah-bocah akan melompat kegirangan, dan aku akan selalu merindukan masa itu.

Baca Juga  Sympnoni

Dulu para budak dara senang memetik daun pacar air, kemudian menumbuknya dan dicampur dengan bahan rahasia: kunyit, nasi, dan arang. Ibu bilang dengan menambahkan bahan rahasia tersebut, maka pacar akan melekat lebih lama di kuku dengan warna merah yang lebih gelap.

Aku merindukan masa kecilku dan

ibu.

Dulu saat musim mutik sahang seperti sekarang, aku dan teman-teman akan membantu ayah memetik sahang kemudian makan bersama di rumah panggung, Tentu saja dengan masakan khas ibu: lempah darat alar keladi, ikan goreng, dan sambal belacan. Menu yang sederhana namun tak kutemukan lagi ibu.

Sepulang memetik sahang, tiap teman-temanku akan ayah berikan upah. Aku tak begitu ingat nominalnya berapa. Tapi lebih dari cukup untuk sekadar membeli mobil-mobilan dari tukang jualan keliling.

Tentu saja ibu akan marah kala aku membawa pulang mobil-mobilan yang berujung dengan ibu membelikanku boneka. Dulu aku tak menyukai boneka, namun sekarang rasanya aku melihat ibu di tiap-tiap boneka yang kutemui.

Baca Juga  Drama Ekonomi Rakyat

Ternyata tumbuh besar tak semenyenangkan harapanku. Aku kira aku tak kan merasa kesepian setelah tinggal di kota. Nyatanya kota penuh sesak oleh hiruk pikuk dan kesibukan. Kini aku terasingkan di dalamnya.

Aku menghampiri ayah, sudah saatnya makan siang. Aku sudah membeli dua bungkus nasi lengkap dengan lauk lempah kuning kepala ikan manyung kesukaan ayah. Para buruh upah ikut bergabung makan di beranda rumah panggung.

Seusai makan aku memilih untuk duduk di anak tangga rumah panggung, menikmati keriuahan suara tonggeret di tengah hari. Seakan tak ada yang lebih tersiksa dimakan terik, selain dirinya.

“Nisa,” ayah menepuk pundakku.

Aku menoleh dan mendapati ayah sedang memeggang sebuah buku berbalut kertas minyak berwarna perak. Ayah duduk di sebelahku.

“Dulu sekali, ibu pernah bercerita kepada ayah. Bahwasanya, ia sangat bahagia telah melahirkan bayi perempuan mungil nan menggemaskan. Ibu menuliskan syair khusus untukmu.  Orang dulu memang senang bersyair. Kala kau hendak tidur, ibumu selalu mendendangkan syair yang telah ia tulis. Ayah memang tak lagi hafal bagaimana nadanya. Namun selalu terngiang-ngiang di telinga ayah sayup suara ibumu berdendang sambil tangannya sibuk menggoyangkan ayunan tidurmu.”

Baca Juga  Luka Berakar di Atas Kertas

        Tidurlah tidur anak dara

        Tak perlu risau, gundah dan lara

        Kelak kau kan  tumbuh dan berjaya

Tak perlu risau, langkahmu disertai doa ibunda

Syair itu tertulis di halaman pertama dengan tulisan sambung yang jarang kujumpai kini. Meliuk-liuk dengan indah. Tulisannya ditekan sehingga menyisakan bekas di halaman belakangnya. Ada foto kecilku tertempel di sana. Aku yang tertidur di dalam pangkuan ibu.

Ibu telah meninggalkan kami hampir tiga tahun. Ibu meninggal dalam tabrakan bus yang hendak membawanya ke kota demi menemuiku. Nyatanya ibu terlebih dulu menemui Sang Khalik sebelum sempat mengucapkan salam perpisahan untukku.

“Ayah tahu, kau membolos sekolah sejak kemarin. Kalau ayah boleh tahu, apa alasan Nisa pulang ke kampung?”