Oleh: Raza Ar Rifki

Rendahnya kualitas minat baca kita saat ini, merupakan permasalahan yang sangat serius bagi bangsa kita.

Bagaimana kita membangkitkan gairah membaca? Dan Seberapa rendah sih minat baca masyarakat Indonesia saat ini?

Merujuk dari data UNESCO pada tahun 2016 lalu menjelaskan bahwa minat baca masyarakat kita saat ini masih rendah yakni 0,001 persen.

Artinya, bila kita jabarkan hanya sekitar 1 orang dari 1000 masyarakat yang memiliki kegemaran membaca.

Lalu kita mengutip dari data Badan Pusat Statistik 2022, kegemaran membaca kita hanya sekitar di angka 59,52 dengan 4-5 buku per triwulan.

Dari di atas memberikan penjelasan bahwa, kegemaran membaca atau minat baca kita mengalami peningkatan daripada tahun sebelumnya.

Baca Juga  Ustaz Abdul Somad: 3 Ciri Utama Manusia Terbaik di Sisi Allah SWT

Bagaimana sekolah yang notabene tempat produksi ilmu pengetahuan mengantisipasi penurunan itu? Meningkatkan perpustakaan di sekolah? Atau cara yang baru?

Nampaknya jika sekolah masih menggunakan metode jadul dengan perpustakaan sekolah justru membuat angka minat baca kita mengalami penurunan bukan mengalami peningkatan.

Di Perpustakaan sekolah misalnya, penyediaan buku-buku yang mengarah ke dunia luar masih sedikit kita Lihat dan kebanyakan buku yang disediakan di perpustakaan sekolah ialah buku-buku pelajaran yang di mana membuat para siswa enggan akan ke perpustakaan sekolah

Literasi Jalanan

Mengkutip salah satu slogan toko buku di salah satu sudut jalan di kota Malang yakni “Membaca adalah bekal melawan maling negara”

Baca Juga  Memeluk Keharuman Leluhur: Kisah Menakjubkan Bunga Kenanga dalam Sulaman Emas Cual Maslina

Melihat fenomena beberapa tahun belakangan ini, metode baru untuk membangkitkan minat baca kita yakni dengan mengisi public space (ruang publik) baik itu di alun-alun kota maupun ditaman-taman dengan kegiatan kegiatan yang bermanfaat.

Gerakan literasi jalanan adalah salah satu metode tersebut yang telah digunakan beberapa komunitas-komunitas di Indonesia.

Di kota Malang saja telah berdiri beberapa komunitas literasi jalanan yang mengisi kegiatannya di ruang-ruang publik dengan kegiatan membaca buku gratis tanpa dipungut biaya apapun itu.

Masifnya perkembangan komunitas literasi jalanan ini membuka wajah baru peradaban masyarakat kita.

Jika perpustakaan di sekolah sebagai tempat baca bagi siswa di saat waktu sekolah maka gerakan literasi jalanan ini sebagai wadah untuk kita membaca di saat di luar waktu sekolah.

Baca Juga  Menangani Masalah Siswa dengan Segitiga Restitusi, Efektifkah?

Gerakan ini dapat mengisi ruang publik yang biasanya digunakan untuk hal yang tidak senonoh dengan kegiatan yang bermanfaat.