Dampak Perubahan Iklim terhadap Kehidupan Nelayan di Kampung Laut Cilacap
Oleh: Raudya Setya Wismoko Putri, M.Pd
Kecamatan Kampung Laut, Cilacap merupakan sebuah kawasan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Disebut desa laut karena letaknya yang dekat dengan laut dan merupakan gugusan pulau-pulau kecil di laguna Segara Anakan yang membentuk beberapa desa.
Salah satunya adalah Desa Ujungalang, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap yang paling dekat dengan Pulau Jawa dan Pulau Nusa Kambangan.
Sulitnya mendapatkan hasil tangkapan di suatu wilayah penangkapan ikan ketika terjadi perubahan iklim, mendorong para nelayan Desa Ujungalang melakukan strategi adaptasi yang di kalangan nelayan biasa disebut dengan “strategi penangkapan pada musim penangkapan ikan”.
Strategi ini merupakan bentuk adaptasi yang dilakukan oleh nelayan di desa Ujungalang jika wilayah perairan di sekitar desa Tepingalang mengalami masa paceklik.
Informasi keberadaan ikan di daerah lain dari satu nelayan ke nelayan lainnya inilah yang mendorong para nelayan tersebut melakukan aktivitas penangkapan ikan di daerah yang sedang terjadi musim penangkapan ikan.
Di Desa Ujungalang, Kecamatan Kampunglaut, Cilacap tidak terdapat air laut. Pada musim penangkapan ikan, nelayan tidak berlayar untuk mencari ikan, misalnya di dekat Pulau Nusa Kambangan sedang tidak air pasang, terkadang nelayan berusaha mencari ikan di sana.
Karena iklim terkadang sulit diprediksi.
Adaptasi sumber daya pesisir merupakan salah satu bentuk strategi perekonomian melalui pemanfaatan sumber daya pesisir untuk menghasilkan berbagai komoditas yang bernilai ekonomi tanpa harus melaut bebas.
Salah satu sumber daya yang potensial adalah mangrove. Desa Ujungalang mempunyai lahan mangrove yang cukup luas. Ekosistem Muara di Segara Anakan meliputi hutan bakau dan segala jenis flora dan fauna yang ada di dalamnya.
Ekosistem mangrove di sini merupakan ekosistem mangrove terluas di Pulau Jawa. Walaupun kondisi ekosistem mangrove tidak terlalu baik, namun terjadi perubahan karena faktor alam yaitu perubahan perubahan lingkungan yang terjadi pada wilayah fisik tersebut antara lain pendangkalan wilayah perairan, penurunan kualitas air, serta menyempitnya kawasan hutan mangrove.
Perairan di kawasan mangrove ini masih memberikan hasil perikanan yang bermanfaat bagi para nelayan. Salah satu komoditas kawasan mangrove yang bernilai ekonomi tinggi adalah kepiting bakau.
