Karya: Hikmah tul Aulia

Sedari pagi cakrawala berduka akibat arunika yang tak kunjung kemuka.

Melankoli suara gemercik hujan masih terdengar jelas disertai aroma petrichor yang membaur dengan udara.

Candu.

Satu kalimat yang pantas disematkan dengan suasana pagi ini.

Pengidap pluviophile pasti setuju jika berada di dalam kamar tidur dan bergulung dalam selimut mencari kehangatan, menikmati lantunan melodi air hujan yang berlomba lomba membasahi bumi atau bahkan berlari sambil menari menyusuri jalanan yang tergenang air dengan tangan yang di sambil mengadah ke atas. Merupakan hal yang sangat menyenangkan untuk dilakukan di saat seperti ini.

Namun, pengidap pluviophile yang satu ini bahkan tidak melakukan satu pun hal tersebut, bukan berarti ia tak lagi menyukai hujan. Namun keadaan yang menuntutnya untuk hanya terbaring lemah ditemani suara monitor detak jantung yang sudah pasti kalah indah dari suara hujan.

Tetapi jika hanya suara hujan yang berhenti, sunyi yang dihasilkan pasti akan terganti dengan suara orang yang mulai melakukan aktivitas yang sempat tertunda akibat hujan. Namun bagaimana jika suara monitor itu yang berhenti?

Mungkin sunyi yang dihasilkan akan terganti dengan suara teriakan atau tangisan pilu orang yang ditinggalkan? atau hanya akan berlanjut pada keheningan selamanya.

Baca Juga  Selamat Ulang Tahun ibu

Sepasang netra itu mulai mengerjap pelan, menyambut sedikit demi sedikit cahaya yang masuk. Aroma obat obatan lansung tercium didalam ruangan itu.

“Pasien sudah sadar, saya akan memangil dokter untuk memeriksanya,” ucap seorang suster yang langsung beranjak keluar.

“Kondisi nak Arkan sudah mulai stabil, namun masih harus di perhatikan agar penyakitnya tidak semakin parah, dia akan dirawat inap untuk beberapa hari kedepan. Ini saya berikan resep obatnya,” dokter itu menyerahkan secarik kertas kepada Nita, ibu Arkan.

“Baik, terima kasih.”

Setelah itu ibu Arkan masuk ke dalam ruangan inap anaknya. Menghampiri Arkan yang sedang terbaring menatapnya juga.

“Di mana yang sakit?” tanya Nita, pada anak usia 14 tahun itu sambil membelai rambutnya.

“Di sini,” tunjuknya pada bagian ulu hati.

“Sakit banget?” tanya Nita di balas gelengan oleh Arkan. “Sekarang Arkana Cakrawalanya bunda lagi diterpa hujan, tapi setelah ini hujanya akan reda disambut baskara dan pelangi yang indah.”

°•°•

Hujan bukan nestapa hanya karena Ia diselimuti lara. Baskara tidak selalu harsa karena nestapa itu nyata.

Baca Juga  Kau Bagai Mimpi

Sudah hampir seminggu Arkan dirawat. Akhir akhir ini memang musim penghujan, Arkan sedang duduk bersandar pada ranjang rumah sakit memandang hujan di balik jendela.

Sudah lama, entah kapan terakhir ia dapat berlari bebas tanpa alas kaki bermain hujan di jalanan komplek perumahannya.   Menikmati suasana yang pernah ia kira sebagai tangisan cakrawala.

Sambil menghela nafas ia pejamkan sebentar sepasang netra itu.

Ceklek..

Suara pintu terbuka, bukankah ibunya baru saja pergi untuk mengurus sesuatu, apa ada barang yang tertinggal?

“Kak Artan.”

Oh anak itu, pikirnya menebak siapakah gerangan pemilik suara itu, sambil membuka matanya. “kenapa kesini?” tanyanya.

“Seperti biasa, konsultasi aku bahkan sampai jengah harus bolak balik tiap minggu,” ucap Lita yang langsung duduk di sofa ruangan itu.

“Nikmati saja apa yang sedang kau alami. Hidupmu nestapa akibat kau yang terlalu berpusat pada lara,” balas Arkan.

“Tanpa berpusatpun aku seperti sudah ditakdirkan berada pada rotasi lara.”

“Lalu bagaimana dengan opsi menikmati proses, seperti menuggu hujan reda demi dapat melihat pelangi. Setiap proses pasti ada tujuan akhirnya, jika tujuan akhir kita ialah sembuh dan keluar dari sini. Seperti halnya menikmati hujan, sambil menuggu Pelangi,” ucap Arkan.

Baca Juga  Sengkulak

“Namun sekarang kita dapat membuat pelangi sendiri tanpa menunggu hujan redah,” sanggah Lita.

“Cih, dasar generasi serba instan,” ejek Arkan.

“Instan apanya, bahkan dari awal aku selalu memantau perkembangan kasus FS,” koreksi Lita.

“Hei, apa aku tak salah dengar? sepertinya kau perlu pengawasan orang tua saat di depan layar kaca.”

“Kau tahu? Ayahku itu pengacara, tentu saja tontonannya di luar selera bocah. Bukan ditanya apa kartun favoritmu, aku malah ditanya apa tanggapanmu tentang tikus tikus berdasi. Sungguh rasanya aku takut dewasa sebelum waktunya,” Lita malah curhat.

“Aku malah curiga ayahmu adalah mantan jubir KPK yang menjadi pengacara FS,” duga Arkan.

“Kali ini dugaanmu salah, tapi menurutmu apa Kuat Ma’ruf sudah jujur atau belum?” tanya Lita lagi.

Beberapa saat setelahnya percakapan dua anak manusia tentang kasus polisi tembak polisi tersebut akhirnya usai.

“Huh akhir akhir ini hujan terus, menjengkelkan!” ucap Lita kesal, mengalihkan pembicaraan.