Azza Auliya. Q, siswi SMPN 2 Toboali

Koridor ruang ICU rumah sakit Bagaskara, pukul 18.00. Dua wanita paruh baya dan satu orang pria sedang menatap pintu ruangan yang menjadi tempat Jihan dirawat. Tatapan khawatir terlihat jelas di wajah mereka bertiga.

“Ya Tuhan…semoga anakku baik-baik saja.” ucap wanita yang tubuhnya masih dibalut pakaian kantor lengkap. Ya. Itu adalah Yuni, ibunya Jihan.

“Sudah ku bilang dari dulu kau memang tidak pernah becus dalam mengurus segala hal,” ujar Ridwan mengomeli mantan istrinya, Yuni, yang tengah menangis tersedu-sedu.

“Sudah, mas. Ini bukan waktunya untuk bertengkar…” sela wanita bernama Farida dengan lembut berusaha melerai emosi suaminya.

Sempat terjadi keheningan sesaat sebelum terdengar derap langkah kaki bersahutan dari ujung koridor yang menuju ke arah mereka.

“Bagaimana keadaan Jihan, tante?” tanya seorang lelaki yang masih menggunakan seragam putih abu-abu dengan nametag di dadanya tertulis Irsyad. Di sampingnya terlihat juga ada Clarissa dan Arya dengan pakaian yang sama persis seperti yang dikenakan Irsyad. Yuni, Wanita yang disapa ‘tante’ oleh Irsyad mengenali mereka bertiga sebagai teman sekolah anak semata wayangnya.

Yuni menggelengkan kepalanya, menatap ke arah tiga remaja itu dengan mata sembab. “Belum ada kabar lebih lanjut tentang keadaan Jihan, mengapa bisa seperti ini Clarissa?” ujar Yuni dengan nada cemas sembari menghamburkan tubuhnya ke dalam dekapan Clarissa.

“Tante tenang ya.. Jihan pasti baik baik saja, dia kan anak yang kuat.” Tangan Clarissa mengelus-elus punggung Yuni untuk menenangkannya.

Baca Juga  Duka Seorang Ibu (Tribute to Hafidzah-Tamat)

Jam sudah menunjukkan pukul 18:21. Artinya Jihan sudah berada di dalam ruang ICU selama 3 jam sejak peristiwa kecelakaan lalu lintas yang menimpa dirinya. Keheningan dan kecemasan mengiringi suara jarum jam yang berdetak.

Tiba-tiba terdengar suara pintu yang dibuka. Perhatian semua orang teralihkan. Di pintu tampak seorang dokter dan dua orang perawat yang keluar dari ruangan Jihan. Lalu semuanya datang menghampiri dokter tersebut.

“Bagaimana keadaan Jihan, Pak?” tanya Ridwan pada sang dokter yang bernama Aris dengan tergesa-gesa.

“Kalian pihak keluarga Jihan? Betul?” tanya dokter Aris dan dibalas anggukan kepala oleh semua.

“Baiklah, kalau begitu saya akan jelaskan,” ucap dokter Aris terhenti untuk menghembuskan napas pelan. Lalu ia melanjutkan, “Kecelakaan yang dialami oleh Jihan tidak mengambil resiko banyak, hanya ada beberapa luka di bagian wajah dan lengannya saja.” Terdengar jelas helaan napas lega dari orang-orang tersebut setelah mendengar penjelasan dokter Aris.

“Tapi…,” kata dokter Aris terhenti. Perasaan lega yang semula merayap di hati mereka kini perlahan surut ketika mendengar kata ‘Tapi’ dari si dokter. “Yang menjadi masalah utamanya adalah penyakit gagal ginjal yang diderita Jihan sudah memasuki tahap kronis karena terlalu lama diabaikan.” lanjut si dokter kembali.

Napas bak tersekat, jantung berhenti berdetak. Lidah juga terasa kelu dan kehabisan kata-kata. Itu yang dirasakan oleh kelima orang tersebut, Yuni, Ridwan, Clarissa, Irsyad, dan Arya. Terkecuali Farida yang terlihat masih mampu mengendalikan diri karena memang dirinya tidak mengetahui apa-apa tentang Jihan dan tidak memiliki kedekatan dengan Jihan.

Baca Juga  Bunga Perpisahan

“Ga-gagal ginjal?” tanya Yuni dengan terbata-bata karena merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dokter Aris katakan.

“Ya.” jawab dokter Aris dan kembali membuat bahu kelima orang itu semakin lemas, terlebih lagi Yuni, karena ia merasa benar-benar gagal menjadi seorang ibu. Ia terlalu sibuk dengan dunianya sehingga tidak mengetahui apa yang dialami anak semata wayangnya.

Perasaan yang sama juga dirasakan oleh Ridwan, sang ayah. Sedari tadi ia tak henti-hentinya merutuki dirinya sendiri. Karena keegoisan dirinya dan Yuni, membuat dampak besar pada kehidupan terutama pada anak mereka.

Irsyad, Clarissa, dan juga Arya benar-benar tidak menyangka bahwa Jihan memiliki penyakit yang serius. Mereka sangat merasa bersalah karena tidak mengetahui apa-apa tentang penyakit yang diderita oleh Jihan. Terlebih Clarissa dan Irsyad yang merupakan orang terdekat. Mereka merasa gagal menjaga Jihan, mereka gagal membuat Jihan merasa nyaman dan percaya pada mereka hingga Jihan tidak menjadikannya sebagai tempat sandaran ketika ada masalah.

“Ehm…” dokter Aris mengeluarkan suara lagi untuk memecahkan keheningan saat itu. “Dan untuk sekarang keadaan Jihan sedikit membaik dari sebelumnya. Jika pihak keluarga ingin melihat secara langsung boleh tapi ingat, jangan buat keributan di dalam karena pasien belum pulih sepenuhnya.” jelas dokter Aris panjang lebar lalu dibalas anggukan kepala oleh semua pihak.

***

Perlahan sebelah tangan Yuni terangkat untuk mengelus pelan kepala Jihan. Jihan yang merasakan elusan itu lantas berusaha keras untuk membuka matanya yang sedari tadi terpejam.

Baca Juga  Bulan Biru

“Jihan, kamu sudah sadar?” segera Yuni menghapus jejak air mata di pipinya lalu memasang wajah sumringah. Jihan hanya merespon dengan anggukan kepala pelan serta senyum yang tak luntur dari bibirnya karena merasa tidak percaya bahwa seseorang di hadapannya ini benar-benar ibunya.

“Maafkan Ibu yang gila akan kerja hingga tidak mengetahui apa yang kamu alami selama ini,” suara isakan tangis mulai keluar dari mulut ibunya.

“Maafkan ayah juga karena tidak pernah sekali pun mengunjungimu, bahkan untuk sekedar menanyakan kabar. Maafkan kami, karena keegoisan kami yang memutuskan hubungan secara sepihak tanpa minta persetujuan dari kamu Jihan. Dan bahkan kami tidak sadar bahwa yang mendapat semua resiko itu kamu sendiri Jihan. Kami benar-benar minta maaf, kami gagal jadi orang tua,” ucap ayah Jihan penuh sesal. perlahan tangisan sang ayah mulai pecah dan terlihat histeris.

Seulas senyum terukir di bibir Jihan. Ia merasa senang karena orang tuanya sudah kembali hangat seperti dulu. Tapi sejenak kemudian, perasaan senang itu memudar mengingat kenyataan bahwa dirinyalah yang tidak bisa seperti dulu lagi.

“I-ibu? Ayah? Kalian… Kesini?” lirih Jihan. Ada sorot kebahagiaan bercampur putus asa yang terpampang jelas di kedua matanya.

Yuni menggapai tangan Jihan lalu menempelkannya pada pipi kirinya. “Jihan kenapa bisa seperti ini?”

Jihan terbatuk pelan, “Jihan tidak apa-apa, bu. Hanya kurang hati-hati saja saat menyeberang tadi.”