Dampak Negatif Berat Badan Tidak Naik Saat Hamil, Ini Cara Mengatasinya
KESEHATAN, TIMELINES.ID– Kenaikan berat badan merupakan salah satu hal yang penting untuk diperhatikan selama masa kehamilan.
Pasalnya, jika berat badan ibu hamil tidak naik sebagaimana mestinya, hal ini dapat menimbulkan sejumlah gangguan kesehatan serius yang juga berdampak pada kondisi janin dalam kandungan.
Dampak Negatif Berat Badan Tidak Naik Saat Hamil
Peningkatan berat badan yang ideal selama kehamilan tergantung pada banyak faktor. Termasuk berat dan tinggi badan ibu sebelum hamil, serta apakah ibu mengandung anak kembar.
Tergantung indeks massa tubuh ibu hamil, kenaikan berat badan yang ideal adalah sekitar 4,9 – 18 kg. Kenaikan berat badan bisa lebih tinggi lagi pada ibu yang hamil anak kembar.
Kelelahan adalah gejala umum yang dapat dialami jika berat badan tidak naik saat hamil. Selain itu, ibu hamil yang kesulitan menambah berat badan selama kehamilan cenderung mengalami pemulihan pascapersalinan yang lebih lama dan mungkin membahayakan kesehatan tulang mereka.
Banyak ibu hamil kehilangan beberapa kilogram pada trimester pertama karena mual di pagi hari. Ini sebenarnya adalah hal yang normal dan umumnya tidak berbahaya.
Sebab, janin tidak membutuhkan terlalu banyak asupan nutrisi, pada trimester pertama. Kecuali jika ibu menjadi sangat kurus atau kehilangan berat badan dengan cepat, ini perlu diwaspadai.
Kuncinya adalah memastikan ibu hamil mendapatkan nutrisi yang cukup, bahkan jika berat badan stabil atau justru turun. Namun, selama sisa kehamilan, penambahan berat badan menjadi jauh lebih penting bagi perkembangan kesehatan janin.
Di trimester kedua dan ketiga, ibu perlu waspada jika berat badan tidak naik saat hamil. Studi pada 2015 di jurnal Pediatric and Perinatal Epidemiology menunjukkan bahwa penambahan berat badan yang kurang, terutama pada trimester kedua dan ketiga, dapat meningkatkan risiko bayi prematur atau persalinan cesar.
Bayi yang lahir prematur biasanya memiliki berat badan lahir yang lebih rendah. Ini dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan tertentu di kemudian hari, seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan diabetes.
