Identitas Taman Sejarah: Wilhelmina Park atau Taman Merdeka?
Oleh: Dr. Darus Altin, SE, MMSI
Taman Sari yang sekarang kita kenal dengan nama “Wilhelmina Park” dulunya dirancang oleh Van Ben Benzenhorn dan dibangun sejak 3 September 1913 dengan luas 3.780 M2 dan sekarang merupakan ruang terbuka hijau dan taman rekreasi serta areal yang baik untuk olahraga yang sejuk di Kota Pangkalpinang.
Wilhelmina yang dituangkan dalam nama Taman Sari tersebut merupakan sosok seorang Ratu Belanda dengan nama lengkap Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau Orange-Nassau anak semata wayang dari istri keduanya Raja Willem III yakni Ratu Emma.
Berbicara tentang Ratu Wilhelmina, di negerinya Belanda dia dikenal karena perannya di Perang Dunia II sebagai inspirasi perlawanan rakyat Belanda dan pemimpin besar pemerintah Belanda di pengasingan dengan masa pemerintahan lebih kurang 58 tahun (1890-1948).
Namun demikian, tercatat dalam sejarah Indonesia, sosok Wilhelmina dikenal sebagai satu-satunya ratu di dunia yang tidak rela Indonesia merdeka. Menurut sang ratu bahwa Indonesia sebagai tanah jajahan untuk tetap harus dipertahankan dengan segala cara.
Beberapa catatan sejarah yang lain berkaitan dengan Indonesia, Wilhelmina juga diketahui tidak mau menerima kenyataan bahwa bangsa kita telah lepas dari penjajahan belanda setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada masa akhir Perang Dunia II dan mengingkari janji yang pernah disampaikannya Wilhelmina sendiri dalam pidatonya yang berisi “ucapan terima kasih kepada rakyat Indonesia yang telah berjuang melawan Jepang dan menjanjikan bentuk pemerintahan baru bagi Indonesia setelah perang berakhir” pada 7 Desember 1942 di London.
Ratu juga menolak untuk melakukan perundingan dengan pihak Republik Indonesia yang dipimpin oleh Bung Karno dan Bung Hatta serta mengabaikan tekanan dari negara-negara sekutu lainnya terutama Amerika Serikat dalam mendukung kemerdekaan Indonesia.
Wilhelmina sudah seharusnya juga bertanggung jawab atas dua kali agresi militer Belanda tahun 1947 dan 1948 yang menimbulkan banyak korban rakyat Indonesia.
Namun demikian, ada sesuatu yang menarik perhatian di dalam taman tersebut karena juga dibangun Tugu Merdeka sebagai bentuk mengenang perjuangan rakyat Bangka dalam mempertahankan serta merebut kemerdekaan setelah proklamasi 17 Agustus 1945.
Tugu Merdeka Diresmikan Bung Hatta pada 17 Agustus 1949
Tugu ini memiliki gaya arsitek unik dan menarik terdiri atas lingga di atas punden beruntak-undak dan hingga berada di atas yoni dengan bentuk simetris mencerminkan perjuangan yang dilakukan oleh berbagai suku dan lapisan masyarakat di wilayah Bangka.
Prasasti Tugu tersebut tertulis “Surat kuasa kembalinya Ibu Kota Republik Indonesia ke Yogyakarta, diserah terimakan oleh Ir. Seokarno kepada Sri Sultan Homengkubuwono IX, Medio Juni 1949”.
Tugu Prasasti Pergerakan Kemerdekaan saat ini yang ada di Taman Wilhelmina juga salah satu Benda Cagar Budaya Kota Pangkalpinang dan mengingatkan kita bahwa Bangka pernah menjadi ibukota Republik Indonesia, secara de facto kan antara tanggal 22 Desember 1948 hingga 6 Juli 1949 ketika para Founding Father kita diasingkan ke Bangka.
