Debat Cacing
Karya: Dian Chandra
Swasti sakawarsatita 1032 ,
Sabtu wage, saat-saat aku dan kawananku sibuk menggeliat, menikmati sebongkah mayat yang hampir membusuk di dalam gelapnya kuburan. Saat itulah, perempuan aneh itu datang. Dia muncul dengan membelah kuburan — tempat kami berpesta pora, lalu mengambil mayat yang hampir membusuk itu tepat di bawah cahaya rembulan. Menyingkirkan kami yang hanya bisa melongo dan melepaskan gigitan di daging mayat.
Di bawah cahaya terang bulan dapat kulihat mata tajam perempuan itu serta dapat pula kudengar helaan napasnya yang tersengal-sengal.
Aku bergidik … dan menggeliat. Lalu pelan-pelan naik ke atas tanah kuburan.
Rupanya perempuan berambut panjang itu tak datang sendirian. Ada beberapa manusia lainnya yang juga berjenis kelamin perempuan. Mereka menanti perempuan aneh itu dengan cemas. Lalu saat perempuan berbadan bongsor itu tiba di hadapan mereka, segeralah mereka mendekat.
“Guru, selanjutnya akan kita apakan mayat ini?” tanya salah satu dari mereka dengan kecemasan yang masih bermukim di wajah manisnya.
Tiba-tiba perempuan aneh yang dipanggil guru itu mendongakkan kepalanya ke atas langit. Kemudian membentangkan tangannya, “Aku Calon Arang, akan membangkitkan si mati ini. Oh, Dewi Durga … kemarilah. Caru ini untukmu!”
Tiba-tiba langit mendadak bercahaya, sedang si mayat menjadi hidup kembali. Melihat usahanya berhasil, perempuan aneh yang rupanya bernama Calon Arang itu tersenyum puas.
“Terima kasih, telah membangkitkanku lagi. Sebutkan permintaanmu, maka akan kukabulkan!” ujar si mayat yang mendadak segar bugar itu dengan sombongnya. Namun, Calon Arang hanya tersenyum sinis. Lalu … ia cengkeram kedua bahu manusia yang baru hidup kembali itu.
“Cckleees!”
Hanya dengan tangan kosong, Calon Arang berhasil memisahkan kepala si manusia baru itu dari badannya yang bugar. Maka darah pun memancur dari lubang leher dan segera ditangkupkan Calon Arang dengan kedua tangannya. Untuk kemudian dia cucikan rambut lebatnya dengan darah tersebut.
“Hueeeks!” Salah satu rekanku memuntahkan isi perutnya yang tak seberapa itu. Aku pun hampir saja muntah. Namun, kutahan-tahan. Bukankah kami sudah terbiasa hidup dalam kejorokan? Lalu apa bedanya dengan melihat seorang perempuan mencuci rambutnya dengan darah segar?
bhagawati,
durga yang hakiki
lepaskan dahagamu
tunaikan inginku
…
tatap tataplah
pemberianku
yang paling rimba
yang meraup bala
di keheningan malam
di rumah rumah para cacing

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.