Dunia dan Seisinya Milikmu
Karya: Alvhi Peci
Pagi itu bunyi sirine seketika membangunkanku dari tidur lelap. Tepukkan tangan Mudabbir(1) terdengar mengelilingi asrama.
“Istaiqizuu min naumikum(2),” suara Al- Akh. Sutom sangatlah lantang membangunkan para santri.
“Kevin, ista’id lizzahab ilal masjid(3)!” ajak Akh. Sutom pada Kevin yang masih terbaring di atas kasur. “Qum … qum(4), Kevin!” lanjutnya sembari menggoyangkan kaki Kevin.
“Na’am, Akh(5)!” kata Kevin.
“Wush, wush, wush!” Angin kencang menjadikan suasana pagi semakin dingin. Jarum jam di kamar tepat di angka 04.22 WIB. Agar hari-hari selalu fresh, aku beranjak ke kamar mandi untuk menjalankan rutinitas, yaitu mandi setiap sebelum Subuh.
“U’tikum khomsu daqoik lil isti’dad!” setelah mendengar teriakan Akh Sutom dari lantai 2 asrama. Tanpa lama, aku langsung menuju ke kamar dan segera mengenakan pakaian shalat.
Baru saja mau keluar kamar, tiba-tiba kudengar suara yang tidak lagi aneh di kamar 3 ini.
“Kruuuk, kruuuk, kruuuk!” Kudengar suara itu berasal dari ranjang tingkat 2 sebelah pintu. Di situ terlihat postur badan besar tinggi tertutup selimut berkarakter Doraemon.
“Allah Kariim, Kevin … viin … Qum!” Kutepuk ranjang berbahan besi itu sebanyak dua kali. Dia pun terperanjat dan duduk seketika. Mungkin dikiranya aku adalah Akh Sutom.
“Hayyabina nazhab ilal masjid(6)!” Kutarik selimut yang tampak imut dan menggemaskan itu, untuk mengajak penghuninya berangkat.
Untungnya Kevin sudah menggunakan pakaian shalat, jadi kami berduapun bisa langsung ke masjid.
“Hayyaa Alas Shalaah(7).” Suara merdu azan yang dikumandangkan oleh Ust. Abdul Rizal menjadikan suasana Pondok Pesantren La Tansa, Banten terasa sangatlah damai. Lihatlah, besarnya gunung Gibas dan gunung Jaya yang menghadap tepat di area pondok ini, melambangkan kegigihan santri yang berjuang tanpa lelah. Walau udara pagi terasa di sekujur tubuh, itu tidak menghalangi kami untuk menunaikan shalat Subuh berjamaah.
“Tak tuk tak tuk!” Langkah-langkah kaki dari seribu orang lebih santri La Tansa mulai bergema di atas aspal. Rumput di lapangan bola bergoyang ke sana-sini, seakan bahagia atas semangat juang mereka.
Sesampainya di masjid, terlihat para santri sedang menunaikan shalat sunnah fajar.
“Allahu Akbar!” terdengar suara takbir temanku, Kevin, yang tampak memasuki sujud akhirnya. Dengan keadaan sujud yang cukup lama, kulihat tetesan air mengalir dari matanya.
Siapa sangka, Kevin yang berbadan besar tinggi. dan tampak kekar ini, justru menangis di atas sajadah.
Aku paham, bahwa menangis bukan berarti cengeng. Menangis bukan berarti mentalnya lemah. Akan tetapi, ini menjadi salah satu tanda, tumbuhnya kesadaran bahwa kita sebagai seorang hamba, tidaklah memiliki daya dan upaya, kecuali atas kehendak dan pertolongan Allah Ta’ala.
Setelah shalat Subuh berjamaah, rutinitas pesantren berjalan sebagaimana mestinya.
Tak lama kemudian, sirene berbunyi, tanda jam pelajaran kedua selesai dan waktunya istirahat. Aku pun menuju Warlabi alias Warung Belakang Alfarabi.
“Mang, susu putih segelas, gorengannya tujuh!” Lekas kupesan makanan dan minuman kepada pria paruh baya penjaga warung.
“Ini Dek, ceban semuanya,” panggil si Mamang, sambil meletakan pesanan di meja yang berada tepat di hadapanku duduk.
“Siap Mang, hatur nuhun, yak.” Uang kertas sejumlah ribu lekas kuberi dan dibalas oleh pria paruh baya itu dengan senyuman.
Di saat menikmati secangkir susu hangat dan piscok lumer khas La Tansa, kulihat Kevin berjalan menuju ke Warlabi.
“Min aina anta haditsan(8)?” tanyaku kepada kevin yang baru datang dan duduk setelah memesan kopi.
Raut wajahnya terlihat murung, seakan ada sesuatu yang ingin dia ceritakan.
“Kevin, sa ‘as’al ilaik(9) ….” Kutepuk pundaknya dan mulai bertanya.
“Hal ‘indaka mas’alah(10)?”
“Akhbirny, ayyu syaiin kaana(11),” ucapku, agar ia mau bercerita.
“Slurp, slurp ….” Hirupan kopi perlahan melunturkan raut kesedihan di wajah Kevin.
“Alvhi, ana muflis(12) ….”
“Aku tak punya uang, seperti teman kita yang lain.” Ia pun bercerita dengan nada memelas.
“Kamu bersedih, hanya karena sebab itu?” tanyaku.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.