Dunia dan Seisinya Milikmu
“Na’am, kamaa roaita. Isytaroitu qohwah faqot(13).”
“Aku gak punya apa-apa, kecuali kopi ini,” jelasnya, dengan segelas kopi yang dipegang.
“Istigfar ilallah, Ya, Kevin(14)!”
“Kamu punya dunia dan seisinya,” pungkasku dengan tegas kepadanya.
“Astagfirullahal ‘adzim! Tetapi aku tidak paham, apa sebab ucapanmu barusan?” Kevin pun mengelus dada dan bertanya dengan penuh keheranan.
Ia bingung ketika kusampaikan, bahwa dirinya memiliki dunia dan seisinya.
“Kevin, roaituka qobla subuuh, tusolli shalatal fajri(15) ….”
“Apakah kamu tahu fadilah dari shalat tersebut?” Ia menggelengkan kepala, tanda belum tahu.
“Masyaallah, mumtaaz … maa arafta, lakin fa’alta(16) ….”
“Shalat fajar itu lebih baik daripada dunia dan seisinya. Makanya, aku katakan, ‘kamu memiliki dunia dan seisinya’!” Mendengar penjelasan tersebut, mata Kevin berkaca-kaca. Seketika, dia menangis dan berterima kasih telah diingatkan dalam kebaikan.
Bel masuk pelajaran ke-3 berbunyi, dan kamipun lekas menuju ke kelas.
Tamat
Catatan Kaki:
Pengurus
Bangunlah dari tidur kalian
Siap-siap berangkat ke masjid
Bangun … bangun!
Iya, Kak
Mari, kita pergi ke masjid
Marilah kita shalat
Darimana kamu barusan?
Aku mau nanya ke kamu
Apa kamu lagi ada masalah
Sampaikan padaku, apapun itu
Aku lagi bokek
Iya, seperti yang kamu lihat, aku cuma beli kopi saja
Memohonlah ampun kepada Allah
Aku telah melihatmu sebelum Subuh, menunaikan shalat sunnah fajar
Mahasuci Allah, luar biasa … kamu belum tahu, tapi sudah melakukannya
Penulis : Alvhi Syahrin
Nama Pena : Alvhi Peci
Sosial Media : @alvhipeci

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.